Kemiskinan Mahasiswa

///Kemiskinan Mahasiswa

Kemiskinan Mahasiswa

         “Kemiskinan” bagaikan teman yang setia bagi mahasiswa, tidak lagi asing tentunya. Kemiskinan yang berjalan turun menurun, kultur yang melumpuhkan bangsa Indonesia. Jenis Kemiskinan inilah yang mendarah daging dengan bangsa Indonesia.

         Bagaimana dengan kemiskinan mahasiswa? Sebelum menelusuri kemiskinan mahasiswa dengan makna yang lebih dalam, mari kita ketahui dahulu apa yang kami maksud dalam kata kemiskinan. Secara harafiah, kemiskinan adalah suatu keadaan yang serba kekurangan, atau bisa dikatakan serba minimal.

         Kali ini Titik Dua mengangkat tema Kemiskinan Mahasiswa. Konteks kemiskinan yang kami angkat disini bukanlah berarti kemiskinan secara materi, melainkan kemiskinan mahasiswa dalam hal membaca. Kemiskinan membaca ini juga terkait dengan beberapa aspek penting, yaitu miskinnya mahasiswa dalam bereksplorasi, bereksperimen dan juga berusaha.

        Lalu apa yang dimaksud dari ketiga aspek tersebut?

         Eksplorasi sendiri berarti menjelajah atau mencari sesuatu yang baru yang belum pernah kita tahu sebelumnya. Pada titik inilah kami menyadari bahwa kita sebagai mahasiswa desain grafis yang miskin menjelajah “dunia” desain grafis. Kita mengurung dan membatasi perkembangan diri sendiri. Berdiam terlalu lama di dalam zona nyaman sehingga menghiraukan kesempatan terjun ke dunia baru yang berpeluang meningkatkan potensi diri.

         Kedua, eksperimen berarti percobaan. Suatu yang telah kita kenal dan ketahui memiliki masa depan, yang berarti dapat dikembangkan menjadi sebuah inovasi.

         Ketiga adalah kunci dari sebuah keberhasilan, yaitu usaha. Mengapa disebut miskin usaha? Kemalasan adalah jawaban utama, misalnya, kita sering melihat karya di media social dan berharap kita bisa memiliki skill seperti si pembuat karya itu. Namun, hanya sedikit dari kita yang berusaha keras untuk menjadi setara atau mungkin lebih.

Kurangnya eksplorasi akan referensi-referensi baru tentang teknik dan ide menjadikan mahasiswa yang kurang eksperimental. Tanpa adanya eksperimen inilah yang membuat mahasiswa menjadi kurang berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan.

Padahal, tiga aspek itulah yang sangat penting dalam pengembangan skill dan diri kita sendiri.

         Mahasiswa seringkali mengalami kesulitan dan ketidakmampuan dalam menjalankan peran dalam institusi pendidikan dan masyarakat. Hal inilah yang kami lihat dan kami anggap menarik untuk menjadi topik pembahasan karena sangat dekat dengan keseharian kita yang juga berpredikat sebagai mahasiswa. Sebagai contoh konkret, degredasi perkembangan majalah fisik adalah sebagai contoh dari kurangnya minat membaca. Selain minat membaca, kurangnya eksperimen dan eksplorasi yang berujung pada absennya kemampuan yang harusnya dimiliki mahasiswa dalam menjalankan peran dalam masyarakat tersebut kami rasa berkaitan satu sama lain dan kami definisikan sebagai “kemiskinan”.

         Pada umumnya, kemiskinan sudah sewajarnya diberantas. Intensi untuk memberantas kemiskinan tersebut harus dibarengi dengan penjabaran dan analisis dari berbagai sisi agar terjadi kepahaman terlebih dahulu tentang kemiskinan yang dimaksud. Hal itulah yang ingin kami hadirkan di sini.

         Lantas, apa hal yang mendasari mahasiswa indonesia malas membaca? Karena berdasarkan penelitian UNESCO, hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca serius. Di negara maju, penduduknya bisa membaca 20 hingga 30 judul buku per tahun. Sedangkan masyarakat Indonesia paling banyak membaca 3 judul buku per tahun. 90% penduduk Indonesia berusia diatas 10 tahun lebih gemar menonton televisi dibandingkan membaca buku. Mengapa hal ini dapat terjadi?

         Pertama. Budaya lisan. Membaca buku bukanlah sebuah kegiatan yang instan, yang hasilnya dapat kontan dinikmati. Membaca adalah sebuah proses yang harus dinikmati. Kesabaran perlu disertakan dalam membaca, terkadang impresi dari sebuah buku yang kita baca akan kita rasakan bertahun-tahun setelah kita membaca sebuah buku. Dalam sebuah buku berjudul “Mentaliteit, Kebudayaan, Pembangunan” yang menjadi buku klasik bagi mahasiswa dan ilmuwan sosial di Indonesia, Koentjaraningrat, pakar antropologi Indonesia, menulis bahwa orang Indonesia suka mencari jalan pintas atau menerabas. Menurut manusia Indonesia, Bicara lebih praktis, lebih cepat, dan lebih mengena ketimbang membaca atau menulis. Kadang untuk bicara tidak harus berpikir. Acara-acara talkshow, diskusi, debat, bertebaran di stasiun-stasiun televisi Indonesia membuktikan bahwa sebagian besar orang Indonesia masih berbudaya oral.

         Kedua. Manusia Indonesia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung pada lingkungannya. Orang Indonesia lebih suka berkumpul karena berjiwa kebersamaan. Sedangkan membaca buku menyebabkan seseorang menjadi individualis. Ketika kita membaca sebuah buku, kita dalam kesunyian berinteraksi dengan teks yang merupakan benda mati dan berarti tidak bersosialisasi. Interaksi kita dengan teks menjadikan kita seperti individu baru. Teks-teks tersebut memperkaya dan mempengaruhi pemahaman kita secara individual.

         Ketiga. Sistem pendidikan di Indonesia. Tidak mewajibkan siswa-siswi untuk membaca buku. Kondisi ini sudah disinggung penyair Taufiq Ismail dalam makalahnya yang berjudul “Generasi Nol Buku” yaitu generasi yang rabun membaca dan pincang mengarang. Nol buku, disebut Taufik karena kala itu mereka tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah, sehingga “rabun” membaca. Sementara istilah “pincang mengarang” adalah karena tidak ada latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah.

         Runtutan penyebab yang mendasari manusia Indonesia malas membaca sudah tertanam sejak usia dini, Generasi millenial ( mahasiswa/i ) di Indonesia sampai saat ini masih memelihara “kemiskinan”nya.

         Mengapa disebut “Kemiskinan Mahasiswa”? karena kemiskinan adalah suatu kondisi yang serba terbatas dan minimal, berarti Kemiskinan Mahasiswa adalah keterbatasan atau ketidakmampuan seorang mahasiswa atau mahasiswi dalam memenuhi kebutuhannya sebagai mahasiswa/i. Kebutuhan sebagai mahasiswa desain grafis salah satunya adalah pengetahuan mendasar mengenai desain grafis. Apakah itu desain grafis? Belum tentu semua mahasiswa DKV dapat menjawabnya, Desain Grafis itu berasal dari dua kata yaitu Desain dan Grafis, kata Desain berarti proses atau perbuatan dengan mengatur segala sesuatu sebelum bertindak atau merancang. Sedangkan Grafis adalah titik atau garis yang berhubungan dengan cetak mencetak. Jadi dengan demikian Desain grafis ialah kombinasi kompleks antara kata-kata, gambar, angka, grafik, foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang dapat menggabungkan elemen-elemen sehingga dapat membentuk suatu komunikasi visual untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Hal lain yang merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipungkiri sebagai mahasiswa desain grafis adalah keterampilan atau skill. Keadaan dimana mahasiswa kekurangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut Itulah yang kami sebut dengan “kemiskinan mahasiswa”. Kemalasan dan ketidaktertarikan mahasiswa dalam membaca adalah aspek sangat mempengaruhi kemiskinkan mahasiswa, karena selain daripada praktik, membaca adalah pintu pengetahuan yang paling efektif, sebagai mahasiswa kebutuhan kita tentu adalah pengetahuan.

         Segala hal memiliki konsekuensi, termasuk apabila mahasiswa terus larut dalam zona kemiskinan. Hal terutama yang berdampak langsung dengan kurangnya minat mahasiswa terhadap membaca tentunya adalah mahasiswa sendiri. Dengan tidak memperkaya pengetahuan dan wawasan, mahasiswa akan sulit untuk berkembang baik dari segi karya maupun potensi diri. Selain itu, mahasiswa akan mengalami ketertinggalan dalam hal kemampuan. Kemampuan yang dimaksud di sini adalah kemampuan mahasiswa untuk berkarya sebagai seorang desainer grafis. Mereka akan mengalami kesulitan dalam memberikan ide dan jawaban terbaik untuk persoalan tentang desain sehari-hari. Hal ini bersifat fatal ketika mahasiswa mulai memasuki dunia kerja, dimana persaingan untuk mendapatkan pekerjaan dan pengakuan identitas sebagai seorang desainer handal merupakan hal yang sulit untuk didapat.

         Contoh yang sederhana adalah ketika mahasiswa desain grafis mengajukan karya yang memiliki kemiripan dengan teman-teman satu kelasnya. Hal ini dikarenakan mahasiswa cenderung menggunakan sedikit referensi sebagai standar dalam berkarya. Kemalasan mahasiswa dalam mencari dan mendalami referensi maupun informasi membuat mereka tidak mampu menyajikan karya yang terbaik dan berbeda dari yang lain. Pada akhirnya, mereka hanya dapat menemukan informasi dasar yang dapat dijadikan referensi, sedangkan informasi tersebut juga telah diketahui oleh banyak orang lainnya.

       Kurangnya minat mahasiswa terhadap membaca maupun eksplorasi juga membuat intuisi mereka tumpul dalam menilik karya. Padahal, orang yang harus pertama kali menilai, mengkritik dan mengevaluasi desain mereka adalah diri mereka sendiri. Hal seperti ini yang sering kali dijadikan alasan untuk keluar dari ranah desain dengan alasan “kurang memiliki bakat” dan pada akhirnya memilih pekerjaan yang tidak berhubungan dengan desain.

         Mungkin setelah kita banyak membaca, kita tidak akan langsung merasakan keuntungannya. Namun, perlahan, seiring berjalannya waktu, kita akan sadar bahwa membaca itu sangat penting. Dan kita akan semakin butuh membaca dan tidak akan pernah puas.

Semakin banyak kita membaca akan membuat diri kita semakin berkembang. Dengan banyak membaca akan memperbanyak pengetahuan kosa kata yang membuat kita menjadi komunikator yang baik. Dengan menyampaikan ide kita dengan baik akan membuat rasa percaya diri kita meningkat akan ide kita sendiri.

Semakin banyak ilmu yang kita dapat dari membaca juga menjadikan kita lebih kompetitif dan rasa percaya diri akan tumbuh dengan sendirinya. Kita juga akan lebih bisa tanggap dalam memecahkan masalah yang diminta oleh klien. Dengan referensi yang semakin banyak, kita dapat menawarkan pilihan lain untuk klien.

         Terlepas dari faktor penyebab kemiskinan yang telah dijabarkan, kemiskinan sendiri memiliki konotasi yang buruk, terutama dalam konteks kemahasiswaan. Kita sebagai insan kreatif hendaknya menyadari potensi kemiskinan yang kita miliki, atau bahkan kemiskinan yang telah bersarang dalam diri kita. Hendaknya kita kembali menyadari tujuan kita belajar dan berkarya, dan menimbang apakah kemiskinan itu memiliki porsi yang tepat dalam usaha kita mencapai tujuan-tujuan dalam hidup.

(tim editor)

By | 2017-03-02T04:20:22+00:00 February 16th, 2017|Bold|Comments Off on Kemiskinan Mahasiswa

About the Author: