Personal Branding Menurut Rege Indrastudianto

///Personal Branding Menurut Rege Indrastudianto

Personal Branding Menurut Rege Indrastudianto

Rege Indrastudianto, Ketua Terpilih ADGI periode 2016 – 2018, menuturkan pendapatnya tentang pentingnya memiliki personal branding bagi seorang desainer, sharing singkatnya tentang bagaimana dampak melakukan personal branding sampai pengalaman proses pitching bersama client.

Menurut Kak Rege, seberapa penting Personal Branding bagi seorang Desainer? Dan apa dampaknya bagi karir seorang Desainer?

Personal Branding sebenarnya bukan hanya berlaku bagi desainer saja, justru di jaman sekarang personal branding sangat diterapkan oleh para entrepreneur. Bahkan Pak Jokowi, presiden RI, mempunya tim khusus untuk merancang personal branding mereka, mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, cara berjalan, cara presentasi dan lain sebagainya. Sehingga, citra yang diciptakan menjadi konsisten. Mereka mempunyai tim khusus untuk menerapkan design thinking dalam personal branding mereka.

Apalagi desainer, pasti, mutlak, harus menerapkan personal branding. Misalnya, untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan agensi desain. Contohnya, ada seorang mahasiswa yang melamar ke perusahaan saya, Visious untuk internship, dia tidak hanya memberikan portfolio dalam bentuk pdf, tapi juga menyertakan instagram, menceritakan bahwa ia adalah seorang vlogger di youtube, dan hobi-hobi lain nya di luar karya desainnya. Personally, saya sangat suka anak kantor/anak magang saya yang berpakaian rapi, wangi, karena dari hal-hal kecil seperti itu akan mempengaruhi kenyamanan bekerja bersama. Itulah hal-hal detail yang nyatanya harus sangat diperhatikan, karena kita sebagai desainer tentunya akan sering berinteraksi dengan client, meeting, pitching, atau teman kerja di kantor, sampai cara berbicara kita kepada client juga harus diperhatikan.

Tapi personal branding sebenarnya kembali lagi kepada desainer tersebut. Seperti apa kamu ingin dipandang? Desainer yang seperti apakah kamu? Misalkan, kamu mau bekerja di advertising agency. Kira-kira personal branding apa ya yang harus gue tunjukin? Kalau gue mau terlihat meyakinkan bahwa gue memiliki passion di bidang advertising, berarti gue sebisa mungkin harus menunjukan bahwa gue adalah orang yang kreatif. Baik dalam karya maupun dari segi penampilan dan kepribadian. Atau misalkan kamu mau ngelamar ke Leboye, graphic house, gue mau dikenal sebagai desainer yang suka banget sama printed material, yaudah kamu pas ngelamar, kamu tampilkan semua karya-karya kamu yang bagus di printed material.

Atau ketika kamu memiliki passion di bidang musik, selain mendesain. Dari situ, ceritakanlah bahwa kamu adalah seorang anak band. Mungkin passion kamu itu menjadi suatu daya tarik bagi perusahaan tersebut. Misalkan untuk menjadi seorang Art Director, kamu harus punya wawasan yang luas, bukan hanya soal desain. Justru penting sense bermusik kamu ketika kamu membuat iklan di TV atau radio, hal itu justru bisa menjadi daya tarik dan nilai plus.

Karena nyatanya, ketika kalian meng-apply internship/bekerja, pasti Creative Director atau Art Director yang akan meng-hire kamu, akan “ngepoin” kamu dulu, akan research dulu lewat Facebook kamu, Instagram kamu, saya yakin banget 100% HRD jaman sekarang melakukan itu. Apalagi ketika mereka melakukan research, mengetik nama kamu, terus nama kamu keluar paling pertama, terus kamu punya Blog, Instagram kamu aktif dan tertata dengan baik, kamu punya Behance yang selalu di update, punya portofolio di Kreavi, punya Linkedin, mereka pasti jauh lebih tertarik sih, itu pasti nilai plus banget. Dibandingkan dengan ketika namanya di search, lalu keluarnya cuma foto-foto selfie tapi sebenarnya tidak berkonsep untuk diri kamu sendiri. Seharusnya kalau kamu suka musik, tunjukan lah itu di social media kamu. Atau kalau kamu suka fashion, tunjukanlah kamu meng-upload foto-foto fashion terkini.

Contohnya di Advertising, orang dipaksa untuk memiliki wawasan seluas-luasnya dan se-update mungkin. Jadi mereka pasti suka banget sama typical personality yang haus akan ilmu, aktif, ulet, gak gampang nyerah. Anak ini harus bisa kasih ideas yang keren nih, karena mereka akan butuh insight insight baru anak muda. Nah di situ kamu pasti harus tunjukin personal branding kamu kan, supaya bisa meyakinkan mereka kalau kamulah orang yang tepat untuk di hire di perusahaan mereka. Bahkan lebih detailnya lagi, sekarang agensi melihat “dandanan” kamu, mereka bisa men-judge, “Wah ni anak keliatannya keren nih, keliatannya cool.” Tapi yang tidak boleh dilupakan juga, “cover” kamu begini, “dalem” nya juga harus sesuai ya.

Ketika kamu menunjukan kamu menggunakan pakaian yang proper, mereka akan men-judge, “Oh anak ini pakaiannya proper, pasti kerjaan nya rapih juga ya” Tapi sebaliknya, misalkan dandanan kamu ga rapi, “urak-urakan”, bisa juga orang men-judge, “Wah anak ini ngga rapih ya, jangan-jangan kerjaan nya ngga rapih juga”.

Teman saya ada nih, rapih banget ya, contohnya kalau di meja komputernya, keyboard nya gaboleh miring, harus lurus. Meja kerja nya harus di lap dulu pake tissue, padahal udah dibersihin sama office boy nya. Semacam OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Tapi karena OCD nya itu, dia jadi sangat detail melihat kerning, leading, dalam typography. Melihat layout dan grid, semua harus pas dan sesuai. Karena sebenarnya semua desainer itu OCD.

Personal branding bisa sangat luas dan sangat detail, spesifik banget. Tergantung dari kamu mau dilihat orang lain sebagai desainer yang seperti apa. Contohnya, Emir Hakim. Menurut saya, dia sangat mempunyai personal branding. Rambutnya selalu tegak berdiri rapi, keliatan pendek dikit gak pernah, gondrong dikit gak pernah. Baju nya selalu rapih dimasukan. Kesannya seperti pilot, padahal dia seorang desainer. Sepatu nya selalu bersih, mengkilat, sangat proper. Karena dia mengakui diri nya sebagai seorang businessman. Walaupun dia seorang desainer, tapi in the end of the day dia adalah seorang businessman. Kita semua begitu. Nyatanya, ketika ketemu client, kita harus rapi, harus wangi. Apalagi ketemunya direktur-direktur, boss boss bersar. Misalkan ketemu owner nya Karawaci, masa pakaiannya berantakan, kucel, gimana mau dapet project yang besar kalau kita tampilannya berantakan, tidak meyakinkan. Tapi ada juga anak yang selalu pake sneakers. Menunjukan kalau orangnya “luwes” nih. Kadang ada juga client yang lebih suka dengan desainer yang casual, yang cocok dengan ciri khas brand mereka. Intinya, semua dari ujung rambut, sampai ujung kaki itu penting banget. Pasti diliat banget sama client.

Kita ambil contoh lagi Stefan Sagmeister, beliau adalah desainer grafis yang sangat terinspirasi dan dipengaruhi oleh musik. Kalau kamu perhatiin karir nya dia diawali dengan bikin cover musik, yang sampai akhirnya membuat dia terkenal. Dan sampai sekarang dia terus mempertahankan karakternya itu. Akhirnya berjalannya waktu, orang-orang mulai memberi label bahwa ia adalah desainer yang sangat terpengaruh oleh musik. Kalau kamu liat Instagramnya, sangat konsisten semua desain nya mengandung unsur yang diadaptasi dari musik. Itu juga termasuk personal branding.

Tokoh lokal yang kita bisa lihat adalah Ernanda Putra. Dia adalah seorang graphic designer yang sangat sukses membangun personal branding. Dia mau dilihat sebagai seorang yang proper, “Gue tuh proper banget orangnya. Lo liat aja dari foto-foto diri gue, sangat proper.” Kemudian, orang juga akan sangat menaruh kepercayaan pada dia untuk mengerjakan projek social media. Karena, social media dia sendiri aja sangat berhasil, itu menunjukan satu bukti jaminan. Dan dia juga harus konsisten mempertahankan value yang dijualnya itu. Tidak gampang loh menjadi Ernanda Putra, capek banget, harus selalu posting di Instagram, selalu rapi, konsisten, bukan usaha yang gampang untuk mempertahankan konsistensi dan sampai akhirnya dia mendapat atensi orang-orang dan akhirnya mendapat banyak followers. Ernanda Putra sangat memikirkan bagaimana menghasilkan foto-foto yang proper dan konsisten, walaupun foto itu adalah foto diri nya sendiri.

Personal branding yang berhubungan dengan karya udah sangat diterapkan oleh desainer-desainer luar negri. “Desain gue kayak gini, nih penampilan gue merepresentasi style dan karakter karya gue.” Contohnya Jessica Walsh, yang selalu konsisten, menyalurkan sifat ambisius nya di setiap karya-karya yang dibuatnya. Semua harus selalu perfect, perfect, dan perfect. Bahkan lebih perfect dari Sagmeister. Bahkan sampai penerapannya di Instagramnya, semua foto diatur, kombinasinya perfect dan unity, dari situ dia menunjukkan personal branding nya, yang akhirnya merepresentasikan karya nya.

Kan aneh juga, misalkan karya-karya kamu udah rapi, sistematis, semua tepat grid. Tapi pas ketemu client untuk presentasi, penampilan kamu “acak-acakan”, ga sesuai dengan karya kamu. Bisa aja muncul di pikiran client, “Orang nya aja ga cool gini, gimana mau bikin brand identity untuk perusahaan gue biar cool juga.” Karena itu menunjukan taste. Ketika kita berpakaian dengan baik, menunjukan bahwa kita mempunyai taste yang baik.

Personal branding juga terlihat dari cara kita meng-handle client. Bisnis desain sangat tidak menentu, bisa saja di awal tahun pekerjaan menumpuk, tapi di akhir tahun kita ngga dapet kerjaan sama sekali. Ketika di awal tahun tersebut, ketika kita udah kewalahan tiba-tiba ada client baru yang datang. Kalau bisa ya jangan ditolak dulu, diterima dulu, baru nanti tambah bantuan dari desainer lain, sewa freelancer lagi, dan orang nya juga harus terpercaya kualitas nya bagus. Maka dari itu sebagai seorang desainer, harus banget jadi “The Nice Guys”. Karena ada kasusnya, desainer yang “galak” sama client. Client di tolak-tolakin, harga nya patok yang mahal. Sebenarnya itu dia lagi personal branding. Mungkin sebenarnya dia lagi krisis juga, butuh uang, butuh makan. Kadang juga dia banting harga. Karena bisnis desain itu naik turun naik turun, jadi kita sebagai desainer gak boleh sombong.

Kalau saya pribadi, personal branding saya di kantor, di Visious, saya ingin terlihat sebagai “partner” kerja bagi para desainer-desainer saya di kantor. Saya tidak ingin terlihat sebagai boss mereka. Saya bisa aja siapin ruangan lain, tapi saya lebih milih untuk duduk bareng bareng sama tim saya, bisa ngobrol, diskusi bareng, jadi jatohnya kayak temen aja. Misalkan tim saya nanya, “Mas gimana nih mas cara buat yang ini?” Ya yaudah, saya jawab aja santai, diajarin pelan pelan. Karena saya ingin menunjukan bahwa kita ini sejajar. Karena sebetulnya, kalau gue tanpa kalian perusahaan gue ngga maju. Perusahaan bisa berhasil mengerjakan project, karena hasil kerja kalian, bahkan karena anak magang. Jadi ya kita bareng-bareng disini sederajat.

Tapi beda lagi kalau ke client, saya atur lagi personal branding saya. Saya harus meyakinkan, gabisa santai, “ngenye” di depan client. Jadi semua harus pada tempatnya. Selama pengalaman saya pitching bersama client, saya merasa, bahwa para client benar-benar melakukan “profiling” kepada saya. Jam tangan apa yang saya pakai, sepatu apa, bagaimana cara berpakaian. Karena mereka akan menaruh kepercayaan besar ke kita, project miliaran rupiah pasti tidak akan dipercayakan secara asal asalan. Kan ngga mungkin, dia mempercayakan bisnis miliaran rupiah nya ke desainer yang keliatannya asal-asalan, urakan, ga rapih. Bahkan banyak orang di dunia bisnis, untuk mendapat akses ke client-client, masuk ke dalam club club pebisnis elit. Untuk masuk ke dalam club itu, personal branding nya harus disamakan dulu, supaya terlihat se-level, omongannya sama, tingkat ekonomi nya sama.

Saya pernah present ke Agung Sedayu Grup, saya sampe hire desainer saya terdahulu yang cantik dan proper. Saya akhirnya hire dia lagi, untuk ikut meeting barengan. Lalu saya atur tempat duduknya, supaya cewek itu duduk di sebelah client nya. Tugas nya untuk duduk disitu saja, dan kalau saya sampe ada yang salah ngomong atau kurang jelas, dia yang akan membantu saya menerangkan ke client apabila ada hal yang kurang dimengerti, “Gini loh pak…”. Ketika saya ngomong, dia beneran ngeliat saya banget, dari atas sampe bawah. Apa yang saya pakai. Gimana cara saya present. Dia lagi bangun PIK 2, kira-kira apakah dia bisa percaya sama saya lewat presentasi dan penampilan saya? Itu adalah hal yang wajar, karena mereka mau mempercayakan ke orang yang mereka yakini. Jadi ya kita harus meyakinkan dari setiap aspek. Jangan sampe client mikir “Ah kok orangnya gini, ga meyakinkan banget. Katanya bisa desain dengan taste bagus, tapi kok penampilannya sendiri aja kayak gini. Kok ga meyakinkan ya untuk hire dia.”

Maka dari itu, menurut saya desainer grafis harus banget menerapkan personal branding, karena itu menentukan banyak hal dalam karir kita sebagai desainer grafis.

Editor : Vincent

Jurnalis : Jessica Celia

Foto : Nada Khafia Arizi P.

By | 2017-08-25T17:45:35+00:00 June 20th, 2017|Medium, Posts|Comments Off on Personal Branding Menurut Rege Indrastudianto

About the Author: