Menghasilkan Karya Sebaik Baiknya, oleh Eric Widjaja

///Menghasilkan Karya Sebaik Baiknya, oleh Eric Widjaja

Menghasilkan Karya Sebaik Baiknya, oleh Eric Widjaja

Eric Widjaja, selaku Founder dan Creative Director Thinking*Room, Inc. sebuah studio desain grafis berbasis di Jakarta, Indonesia yang dibangun pada tahun 2005. dan telah menangani klien klien besar seperti Bank International Indonesia, Plaza Indonesia, Shangri-La, Sinarmas Land, dll. Bersama Kak Eric, kita akan menyelami lebih dalam mengenai Personal Branding bagi desainer grafis dan juga bagaimana hal tersebut dapat berdampak terhadap bisnis dan karier kita. Tak hanya penjelasan tentang personal branding dari Thinking*Room, tetapi juga membahas persoalan style, kejujuran dalam desain sampai pentingnya desain yang relevan bagi para millennials.

Menurut Kak Eric, apa maksud dari personal branding terhadap karya bagi seorang desainer grafis?

Pada dasarnya, saya tidak pernah merencanakan “Personal Branding” Thinking Room secara khusus, dan tidak mengkotakkan image tersendiri atau maksud tersendiri terhadap saya maupun studio saya. Karena bagi saya yang terpenting adalah seorang desainer melakukan pekerjaan desain dengan benar dan berdasarkan disiplin ilmu desain. Thinking Room bermula karena kekecewaan saya terhadap kinerja studio-studio desain grafis di Indonesia pada tahun 2005 lalu. Saat itu studio desain yang menurut saya bagus hanya dapat dihitung jari.

Menurut saya pribadi, personal branding pada akhirnya diciptakan oleh audience sendiri yang menilai kita. Bagaimana ide yang kita hasilkan lewat karya kita akan muncul dan menjadi sebuah personal brandingMenurut saya personal branding yang sengaja diciptakan sejujurnya malah menghambat kita untuk menjadi apa adanya yang pada akhirnya akan menyusahkan diri kita sendiri. Di sisi lain personal branding lebih berarti bila diwujudkan melalui karya. Walaupun personal branding sebenarnya diperlukan juga saat berprofesi untuk memberikan profesionalisme dan meyakinkan klien bahwa kita adalah desainer yang tepat untuk mengerjakan sebuah projectnya. 

Melihat dari karya-karya Thinking Room, yang sangat kuat di tipografi dan elemen-elemen grafis yang cenderung mirip di setiap karya, kami mempercayai bahwa style tersebut lahir dari foundernya. Pada awalnya, bagaimana Kak Eric menerapkan style Kak Eric di dalam karya-karya Thinking Room?

Saya selalu percaya dengan prinsip Gold or Glory dalam memulai dan mencapai sebuah tujuan. Dalam industri desain grafis, apakah kita lebih memilih mendapatkan money over fame atau sebaliknya. Kami dengan sengaja memilih Glory over Gold. Lima tahun pertama Thinking Room, kami cukup suffering secara finansial, apapun kerjaannya walaupun gratis tetap kita kerjakan asalkan dapat bereksperimen, menuangkan apa yang kita percaya, supaya kita dapat terus berkembang. Mungkin dari itulah yang membentuk character kami sampai saat ini.

“Style tipografi atau elemen grafis Thinking Room, menurut saya pribadi kami tidak permah memaksakan style tertentu. Mengapa tipografi, karena memang disiplin inilah yang saya pelajari di saat kuliah, karena tipografi yang dapat membedakan desain grafis dengan bidang desain lainnya.

Mungkin karena itulah, style” tipografi di Thinking Room cukup signifikan, bukan karena disengaja tetapi memang karena menjalankan apa yang sudah kami pelajari di waktu kuliah. 

Mengenai elemen grafis, saya sangat terinspirasi oleh salah satu desain studio bernama Tolleson, San Francisco sewaktu saya kuliah. Menurut saya, Tolleson adalah studio desain dengan karyanya yang sangat memperhatikan little details yang significant.

Menurut kak Eric, apa style yang diterapkan selama ini, apakah style tersebut merupakan visi tersendiri bagi Thinking Room? Kalau iya, visinya apa?

Untuk kami, kecil atau besar projectnya, yang selalu diutamakan adalah konsep dan ideation dalam mengerjakan sebuah project. Menurut kami, itu adalah salah satu modal utama seorang desainer. Ide dan konsep itu salah satu hal yang tidak bisa “dibantah”, karena nyatanya kalau berbicara tentang visual, semua orang tiba-tiba bisa menjadi “pintar”, bahkan orang biasa yang tidak memiliki background desain bisa mengomentari hal-hal visual dari sebuah karya.

Sering kali klien memiliki perdebatan dengan kita tentang visual ataupun dari segi teknis, contohnya “Mas, itu kayaknya warnanya kurang cocok kalau warna merah, coba diganti warna hijau”, dan apabila visual kita tidak berdasarkan konsep dan ide yang kuat, ujungnya malah menjadi “debat kusir” yang tidak ada ujungnya. Namun berbeda jika kita memiliki ide yang kuat, maka mereka akan sulit mencari celah untuk membantah. Kami juga kurang nyaman dengan desain alternatif, jadi saya selalu memilih untuk membuat satu direction yang benar-benar dipersiapkan dengan ‘matang’ dan dengan konsep yang kuat. Alternatif karya menurut saya itu hanya membuang-buang waktu, dan memecah konsentrasi kita untuk berfokus menghasilkan karya yang terbaik.

Kalau visi dari Thinking Room sendiri dari awal sampai sekarang tidak pernah berubah, yaitu ‘Kami adalah Graphic Design Indonesia’.

Melalui personal branding dari karya Thinking Room, apakah Thinking Room punya target audience tersendiri, dari klien maupun publik?

Sekitar tahun 2008 sampai 2010, kami cukup aktif dalam mengerjakan project experimental, pushing all the limits, sehingga pada akhirnya membentuk Thinking Room saat ini. 

Dari experimental era tersebut, audience yang kami dapatkan saat itu lebih banyak younger generation, entah itu students atau start-up companies.

Untuk target klien, kami lebih memilih bekerja sama dengan business owner, seseorang yang memiliki start-up business atau entrepreneur. Karena biasanya mereka adalah pembuat keputusan sehingga mempercepat proses kerja, dan tingkat loyalitas mereka jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan besar, jika memang sudah merasa cocok dengan kami, biasanya mereka akan terus menjalin bisnis bersama.

Untuk audiens publik, sebagian besar masih didominasi oleh para praktisi desain terutama yang baru dan mahasiswa.

Kenapa sih studio desain harus tetap relevant sama millenials (generasi muda)?

Industri desain yang kami jalankan lebih ke arah service, human resources menjadi cukup penting, yang menggerakan studio kami adalah creative talent yang bekerja di dalamnya, sedangkan turn over para talent ini semakin hari semakin cepat. Mengapa harus relevant, agar kami dapat merekrut talents dengan kualitas terbaik. 

Karena menurut saya generasi sekarang lebih banyak yang ingin sukses dengan cepat, dengan mengambil langkah shortcut/instant sehingga menyebabkan cepat bosan dalam berproses. 

Apakah personal branding karya harus selalu konsisten dari tahun ke tahun untuk mempertahankan eksistensi personal branding seorang desainer atau harus mengikuti “tren” supaya tetap relevant?

Kami membiasakan diri untuk menghindari following tren, mungkin kami lebih mencari objektif dari sebuah project, apapun project-nya, entah dari klien ataupun dari project itu sendiri. Menurut saya mengikuti tren itu tidak pernah ada habisnya. Yang kami utamakan dalam berkarya adalah bagaimana memberikan problem solving terhadap sebuah project melalui konsep dan visual. Sedangkan masalah dan solusi setiap klien itu berbeda-beda, jadi approach yang kami lakukan lebih menyesuaikan objektifitas project.

Sebenarnya banyak juga klien yang dengan sengaja datang ke Thinking Room dan minta untuk dibuatkan karya sesuai dengan style’-nya Thinking Room, tetapi sebenarnya kami lebih excited bila mendapatkan brief baru, sehingga lebih bebas untuk bereksperimen maupun berkarya.

Apa saja manfaat konkrit sebagai seorang desainer yang memiliki personal branding yang kuat?

Dari sisi bisnis, klien jadi lebih percaya dengan kami. Ketika seorang desainer memberikan profesionalisme dan performance terbaik di dalam pekerjaannya, pasti klien bisa lebih mempercayai kita untuk menangani projek tersebut. Tapi saya percaya itu semua didapatkan dari pengalaman dan jam terbang dari seorang desainer tersebut, mungkin dari pengalaman inilah sebuah personal branding terbentuk dengan sendirinya.

Dalam menghadapi klien/projek corporate yang sangat komersil, bagaimana Thinking Room tetap mempertahankan personal branding dalam karya-karyanya?

Pasti ada challenge tersendiri. Menurut pengalaman kami, jika berhadapan dengan klien corporate yang sangat komersil, kami akan sebisa mungkin untuk menyeimbamgkan idealisme kami dengan objektif dari klien tersebut.

Tanggapan Kak Eric sebagai seorang desainer, apakah ada bentuk lain dari personal branding?

Untuk masalah personal branding sejujurnya saya lumayan pasif, apalagi ke klien. Saya hampir tidak pernah melakukan sales dengan cara menyebarkan introduction letter, portfolio ataupun pricelist. Bagi saya, personal branding yang terbaik itu adalah menghasilkan karya sebaik-baiknya. Memberikan performance terbaik, dan konsisten di setiap karya dan klien yang kita hadapi.

Karena jika karya kita disukai oleh klien, maka mereka akan jadi marketing person kita dengan sendirinya, terutama klien yang memiliki networking yang luas. (how cool is that?)

Adakah pengalaman pitching design yang dialami Kak Eric dan menarik untuk dibagikan?

Di awal Thinking Room berdiri, kami cukup sering mengikuti FREE pitching. Sebenarnya tujuan kami saat itu bukan untuk menang, karena biasanya kami akan bertanya siapa saja yang ikut serta, jika ada nama-nama besar yang berpartisipasi kami akan selalu ikut dalam pitching tersebut. Tujuan kami sangat simpel, untuk membuktikan dan men-challenge diri kami sendiri seberapa besar potensi kami untuk mengalahkan nama-nama besar tersebut. Yang pada akhirnya seringkali dari pitching tersebut kami menang secara desain. Setelah negosiasi harga (yang sengaja kami tinggikan) dengan klien, seringkali kami memutuskan untuk tidak mengambil project-nya hanya karena kami menolak menurunkan harga yang kami berikan.

Pada generasi millennials ini, apasih biasanya kesalahan desainer yang dilakukan ketika memaksakan style personal branding sehingga terkesan fake? Apa saran dari Kak Eric bagi para desainer muda?

Saya percaya desain yang baik itu adalah desain yang memiliki value dari segi content dan estetika. Sebagai desainer, kita juga harus jujur saat berkarya. Plagiarism, meniru karya orang lain dan mengakui bahwa karya tersebut adalah karya kita lebih baik dihindari. Seorang desainer harus aware terhadap diri sendiri, belajar mengenali diri sendiri, mencari kekuatan dan kelemahan utama kita, jika semua itu sudah ditemukan maka personal branding itu akan keluar dengan sendirinya.

Personal branding itu bukan sesuatu hal yang harus dipaksakan atau dicari-cari, bukan selalu hal yang instant. Jika kamu punya konten yang baik dan berkualitas, pasti kamu akan dicari.

JURNALIS : Nada Arizi

EDITOR : Ena Marlina

By | 2017-07-25T18:02:05+00:00 July 25th, 2017|Medium, Posts|Comments Off on Menghasilkan Karya Sebaik Baiknya, oleh Eric Widjaja

About the Author: