TDC 62 Travelling Exhibition: Jakarta Resmi Dibuka

///TDC 62 Travelling Exhibition: Jakarta Resmi Dibuka

TDC 62 Travelling Exhibition: Jakarta Resmi Dibuka

Pameran tipografi keliling Type Directors Club 62 Travelling Exhibition telah resmi dibuka. Bertempat di Indonesia Design Development Center (IDDC), Jakarta Barat, pameran yang memuat lebih dari 400 karya terpilih dari seluruh dunia yang merupakan pemenang dari ajang kompetisi bergengsi Type Directors Club Annual Typography dibuka oleh sejumlah sambutan. Diaz Hensuk, selaku ketua panitia, membuka pameran dengan kata sambutan, yang diikuti dengan sambutan dari Rege Indrastudianto selaku Ketua ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia), John Kudos dari Studio KUDOS selaku rekan pelaksana, dan diakhiri dengan sambutan dari Ganef Judawati selaku Direktur IDDC.

Oleh karena tidak semua negara dapat mengadakan pameran keliling TDC ini, dalam sambutannya, segenap pelaksana yakni ADGI dan Studio KUDOS menyampaikan harapan agar pameran yang langka ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku desain grafis terutama para mahasiswa untuk menjadi inspirasi dalam berkarya, sekaligus memotivasi untuk dapat turut serta dalam kompetisi skala internasional yang tiap tahunnya diikuti lebih dari 40 negara ini.

Para hadirin yang merupakan tamu undangan serta RSVP yang berasal dari para desainer, mahasiswa, serta pengajar Desain Komunikasi Visual ini diajak untuk mengelilingi display pameran, baik di area semi-outdoor (display spiral) maupun indoor (poster, buku, dan interaktif) dengan dipandu oleh John Kudos.

TALK 1 BY JOHN KUDOS

John Kudos mengawali presentasinya dengan sebuah video sambutan dari Executive Director Type Directors Club International, Carol Wahler. Menurutnya, walau di New York ada banyak perhimpunan seperti, AIGA (American Institute of Graphic Art yang berfokus pada Desain Grafis) atau Art Directors Club (yang juga mencakup industri periklanan), John melihat bahwa hasil kompetisi TDC memiliki tingkat estetik yang tinggi oleh karena fokusnya yang mendalam terhadap tipografi, yang merupakan tulang punggung dari desain grafis.

Desainer asal Bandung yang sekarang berbasis di New York ini menempuh studi Desain Grafisnya di Maryland Institute College of Art (MICA). Usai bersekolah, John bergabung di Pentagram, studio desain legendaris di New York, dan bekerja langsung untuk Abbott Miller selama 7 tahun. Kini, John menjalankan Studio KUDOS bersama partnernya, Kiki Katahira, di New York.

Dalam presentasi yang bertajuk Shifting Patterns: How Indonesian designers can compete in international business setting, John Kudos memaparkan sejumlah alasan pentingnya menghadirkan pameran TDC ke Jakarta. Salah satunya, menurut John, adalah edukasi. Ketika berangkat ke MICA, John menyadari bahwa edukasi memainkan peranan yang sangat penting sebagai seorang desainer. Sebagai seorang pendatang yang terpapar dengan budaya masyarakat di Amerika Serikat, John melihat banyak hal baru yang dipelajari, termasuk pameran yang bisa mendukung edukasi dengan melihat dan menyentuh karya secara langsung dan lengkap, seperti pameran TDC. Tak hanya itu, membawa pameran ini ke Jakarta juga dapat menjadi sebuah upaya empowerment serta ajakan untuk berkolaborasi ke skala internasional bagi para pelaku desain grafis di tanah air.

Sebelum memasuki pembahasan tentang shifting the patterns, John menyebutkan sejumlah jenis-jenis desainer:

1. Living in the bubble
Desainer yang masih hidup dalam gelembungnya sendiri.

2. Brave new world
Desainer dengan attitude pemberontak, seperti misalnya Paula Scher dengan pernyataannya yang terkenal, “Make it bigger.”

3. Man in the mirror
Desainer yang terlalu banyak memikirkan refleksi diri hingga akhirnya tidak berani untuk mencoba sesuatu yang baru

4. Wizard of Oz
Layaknya tokoh penyihir dalam cerita Wizard of Oz, desainer jenis ini menggunakan magic untuk meyakinkan klien—yang merupakan kemampuan yang John yakini harus dimiliki oleh semua desainer.

Setelahnya, John menyampaikan bahwa dalam kehidupan seorang desainer, setidaknya mengalami fase-fase berikut: learning (yang ia hadapi selama di bangku kuliah), helping (ketika ia membantu Abbott Miller di Pentagram), working (begitu ia menjalankan Studio KUDOS), networking (memilih dengan siapa berjejaring), pivoting (menemukan titik belok atau moment of realization), having grit (peka terhadap keadaan dan tahu harus meresponnya seperti apa), dan being persistence.

Berbicara mengenai Shifting Patterns, John memberikan penekanan pada fase Pivoting. Ia pun memberikan sejumlah cerita pivoting yang dialami oleh sejumlah tokoh yang John anggap telah sukses di kancah internasional. Ada empat (4) orang yang dibahas oleh John, yakni: Irvandy Syafruddin, Nigel Sielegar, Wahyu Ichwandardi/Pinot, serta Gumpita Rahayu.

Pada keempat orang tersebut, John mengajukan satu pertanyaan yang sama, “Momen seperti apa yang membuat kamu memutuskan untuk hidup di jalur yang “sukses” ini?” Pada keempat orang tersebut, John mengajukan satu pertanyaan yang sama, “Momen seperti apa yang membuat kamu memutuskan untuk hidup di jalur yang “sukses” ini?”

Irvan, yang kini bermukim di Berlin dan hampir selalu menang award di tiap projectnya, menjawab bahwa pivot moment-nya muncul ketika ia magang di Ruska-Martin Associates di Berlin. Projek yang ia kerjakan di sana, yakni sebuah buku, tak ia sangka memperoleh penghargaan dari German Designer Club di Jerman. Sejak saat itu, ia pun memutuskan untuk berkomitmen untuk terus fokus pada karya desain dan tipografinya.

Sementara, Wahyu Ichwandardi atau di media sosial lebih dikenal sebagai @pinot, justru menjawab momennya hadir ketika menyadari bahwa arena pertarungan yang ada di Amerika Serikat justru terletak pada keinginan-keinginan handcraft dan terlepas dari sentuhan mesin, walau teknologi berkembang lebih cepat di sana. Dari sanalah ia menyadari bahwa identitasnya sebagai seorang Indonesia dan kemampuan craftmenship-nya justru menjadi keunggulan yang bisa ia aplikasikan dalam format animasi tangan tradisional. Selain lebih praktis, juga memiliki potensi untuk diaplikasikan ke kebutuhan industri seperti iklan dan media sosial.

Hampir mirip dengan Pinot, Nigel Sielegar juga menekankan craftmenship. Nigel yang awalnya begitu terobsesi untuk memenangkan penghargaan dan menjadi bagian dari “trendy folks”, justru menyadari bahwa keinginan untuk mengikuti tren hanya akan menjadikannya orang nomor dua. Sehingga, akhirnya Nigel pun mencoba bereksperimen dengan mempelajari berbagai hal baru, seperti biola dan memanah, justru memberikannya insight baru untuk bereksperimen ke dalam karya desainnya. Kliennya pun jadi lebih peduli pada desain karena kepekaan eksperimennya itu. Nigel bilang, justru pivot moment untuk menjadi desainer “sukses” justru terjadi, “When I stop caring about design and start looking at the big picture.”

Lain halnya dengan Gumpita Rahayu yang menemukan pivot moment-nya dari memposting hasil rancangan fontnya di Behance. Yang awalnya tidak mendapat sambutan menarik, sampai akhirnya banyak orang yang tertarik dan bahkan ter-feature di Popular Freebies di Behance. Bagi Gumpita, “Process and potential are more important than instant gratification.”

Di akhir presentasi, John menyampaikan pesan terakhir: the grass isn’t always greener. Menurutnya, bagi orang lain, ketika ia bekerja di New York dilihat sebagai sesuatu yang super wah, padahal menurutnya, problem ada di mana saja. Poinnya, justru di mana ada masalah, di sana ada kesempatan. Menurutnya, “The grass is as green as you want it to be.” John mengakhiri presentasinya dengan poin penutup:

1. See the world with a child’s view
2. Teaching is mastering
3. Plant the seeds
4. Be street smart and persistence
5. You can’t do it alone

Di sela presentasi, satu hadirin menanyakan pengalaman John bekerja di Pentagram. Bagi John, tiap desainer dan studio memiliki karakter yang berbeda. Pentagram memiliki 17 orang Di sela presentasi, satu hadirin menanyakan pengalaman John bekerja di Pentagram. Bagi John, tiap desainer dan studio memiliki karakter yang berbeda. Pentagram memiliki 17 orang partner. Ia bekerja dengan salah satunya, yakni Abbott Miller yang satu timnya hanya terdiri dari 5 orang. Walau dalam skala terhitung kecil, tim mereka mengerjakan projek yang begitu besar. Karenanya, menurut John, “It’s not about the scale, but the dedication and effectivity of communication.” 

TALK 2 BY GUMPITA RAHAYU

Dalam presentasinya yang bertajuk Once Upon A Type & Industry in Indonesia, desainer yang berdomisili di Bandung ini menceritakan tentang praktik yang ia tekuni sebagai desainer font. Gumpita menekankan bahwa, profesinya sebagai font designer bukanlah mitos. Sejak 2014, Gumpita menjalankan Tokotype, type foundry yang ia dirikan dan telah menghasilkan sejumlah font yang telah digunakan bukan hanya di Indonesia.

Kecintaannya pada tipografi, tutur Gumpita, justru berawal dari pertanyaan yang ia ajukan ke dirinya sendiri: apa yang mau menjadi fokusnya ketika menjadi desainer. Ia pun menyambut ketertarikan pribadinya terhadap tipografi, yang justru ia perdalam secara otodidak lewat bantuan internet dan buku, selain dari bekal teori yang ia terima di bangku kuliah DKV dulu.

Gumpita sendiri mengatakan bahwa Tokotype ia bangun dengan harapan dapat menjadi rumah bagi para type designers di Indonesia, dengan mimpi untuk bisa membangun industri font di Indonesia, agar bisa bersaing dengan type foundry kelas dunia semacam Monotype atau Linotype. Karenanya, ia berharap dapat mengajak lebih banyak teman-teman desainer untuk meramaikan industri tipografi ini.

Dalam presentasinya, Gumpita menjelaskan bagaimana type foundry menjadi sebuah model bisnis dan menjadi sumber mata pencaharian. “Ini bukan mitos”, tegasnya, “Walau kalau orang tua bertanya saya kerja apa, saya jawab dengan, “Bikin huruf”, yang kadang jadi harus panjang jelasinnya.”

Proses kerjanya sendiri ia alokasikan 40 jam seminggu untuk merancang type, engineering type agar dapat fit di berbagai platform, perancangan pengaplikasian desain, pembuatan spesimen, serta juga publikasi dari type tersebut. Potensi pendapatannya berasal dari penjualan langsung, royalty, jasa font custom, mengajar, lokakarya, dan merchandising; dengan jalur penjualan skala internasional, melalui situs dan marketplace.

Menurut Gumpita, dalam industri tipografi global ada dua pendekatan: yang menekankan eksklusivitas dan yang menekankan daya tarik massa. Ketika yang menekankan daya tarik massa memiliki harga yang menarik karena murah dan audiesnya lebih luas, yang menekankan eksklusivitas biasanya relatif lebih mahal, professional, dan memilik audiens yang lebih spesifik. Gumpita sendiri memilih untuk berfokus pada ekslusivitas, untuk menjaga kualitas, sehingga secara teknis dan estetik font rancangannya bisa diandalkan.

Jika bicara mengenai segmen pasar di Indonesia, Gumpita melihat bahwa pasar di Indonesia memiliki potensi besar, asalkan para pelakunya dapat: educate, engage, dan compete dalam industri ini.

Di Indonesia, secara khusus, ketika Indonesia hanya menggunakan huruf latin yang tidak memiliki karakter khusus seperti dalam bahasa Mandarin, Rusia, atau Yunani, Gumpita justru melihat adanya potensi untuk mengeksplorasi aksara dalam bahasa daerah, seperti Sunda dan Jawa. Misalnya saja seperti yang kini dikerjakan oleh Google lewat projek Google Noto Sans, yakni spesimen bahasa lokal semacam Noto Sans Sundanese dan Noto Sans Javanese. Melihat potensi ini, Gumpita ingin membuat lebih banyak font dengan konten lokal.

Melihat potensi yang semakin besar ini—baik dengan berkembangnya marketplace di internasional maupun nasional—Gumpita ingin mendorong industri font ini agar bisa bertransisi ke industri desain grafis lokal; yakni berkontribusi sebagai desainer melalui type design.

Selanjutnya, Gumpita menjelaskan faktor teknis dalam perancangan typeface. Ia menunjukkan sejumlah worksheet bagi font yang ia rancang. Dalam satu font, Gumpita biasanya bisa membuat lebih dari 400 karakter, belum termasuk turunan family-nya yang italic atau bold, misalnya. Selain itu, ia juga harus membuat sistem numerik dan tanda baca, beserta variasinya. Untuk satu font, biasanya ia mengerjakan selama satu hingga dua bulan.

Di akhir sesi presentasinya, Gumpita membahas mengenai lisensi font yang masih menjadi masalah bahkan secara global. Menurutnya, EULA (End User License Agreement) menjadi hal penting yang harus dipahami, namun masih minim pengetahuan mengenai hal ini. Menurutnya, minimnya pemahaman mengenai EULA dapat berakibat fatal: penggunaan font tak berlisensi, transfer font yang tidak sesuai, hingga menggunakan font tak berlisensi dalam projek desain. Salah satu contoh fatalnya terjadi pada 2009, ketika satu typefoundry di Belanda mengetahui bahwa salah satu kandidta presiden Amerika Serikat menggunakan font tak berlisensi, hingga akhirnya dituntut secara hukum dan harus membayar sebesar kurang lebih 2 juta dolar AS.

Acara ini pun diakhiri dengan para audiens yang dapat berkeliling ke seluruh area pamer, untuk menikmati lebih dari 400 karya tipografi terbaik hasil kurasi dari organisasi terkemuka, Type Directors Club.

By |2017-08-13T13:37:12+00:00August 13th, 2017|Light, Posts|Comments Off on TDC 62 Travelling Exhibition: Jakarta Resmi Dibuka

About the Author: