Hidup dan Mati oleh Lie Fhung

///Hidup dan Mati oleh Lie Fhung

Hidup dan Mati oleh Lie Fhung

Seniman multidisiplin Indonesia yang lahir dan besar di Jakarta dan sekarang menetap di Hongkong, Lie Fhung, menggelar pameran tunggal bertajuk “Life Force” yang diselenggarakan dari tanggal 14 September hingga 8 Oktober 2017 di Dia.Lo.Gue, Kemang Selatan. Pameran yang didasari oleh paradoksnya terhadap rasa semangat hidup yang tinggi namun juga rasa dan harapan kematian yang besar walaupun, keduanya saling berpengaruh erat. Pameran ini memamerkan karya-karya Lie Fhung yang didominasi oleh bahan porselen dan tembaga yang menurutnya mempunyai sifat kontradiktif seperti ekspresi dirinya akan perasaan dan emosional kehidupan beliau.

Life Force memamerkan kumpulan karya sang seniman sejak tiga hingga empat tahun terakhir dan menonjolkan keunikan dari kepekaan artistik dan keberaniannya untuk menjadi kreatif. Pameran ini dibuka secara resmi pada 14 September 2017 malam dan dihadiri oleh para kerabat Lie Fhung termasuk jurnalis senior, Bre Redana. Sejak sore hari itu, sudah terlihat banyak pengunjung yang menikmati pameran tersebut.

Pada saat memasuki ruangan pameran, pengunjung langsung disambut dan terkesima sekaligus penasaran terhadap Life Force II yang merupakan instalasi bunga-bunga porselen dengan tangkai tembaga yang dibuat menggantung. Bila dilihat sekilas, bunga-bunga putih tersebut tampak seperti terbuat dari kertas biasa.

Life Force II: An Installation by Lie Fhung

Ada juga Navigating The Landscape of Loss and Grief, karya berkilau yang paling menarik perhatian dan paling favorit untuk dijadikan objek foto. Jika dilihat dari jarak yang cukup jauh, Navigating The Landscape of Loss and Grief seperti berbentuk jajaran angklung. Namun sebenarnya ini adalah karya abstrak tiga-dimensi sebuah pegunungan yang dikomposisikan dari pipa tembaga teroksidasi yang berbentuk tabung dan menggambarkan perjuangan, bencana alam, serta bahaya sebelum bisa merasakan keindahan sebuah gunung. Karya ini merefleksikan hubungan Fhung dengan gunung yang sangat kuat.

Navigating The Landscape of Loss and Grief by Lie Fhung

Kontras dengan Navigating The Landscape of Loss and Grief yang gagah dan terlihat agresif, di dinding ruangan terdapat sebuah karya kecil yang terbingkai dan diterangi oleh lampu dari dalam sehingga terlihat bersinar di tengah-tengah gunung berjudul “Dormant”. Sebenarnya ini adalah pusat atau awal mula dari seluruh karya Fhung selama empat tahun terakhir. Dormant merupakan siluet perempuan telanjang yang terbaring kaku yang terbuat dari tembaga dan dengan latar belakang porselen berwarna putih tulang. Muncul dari dadanya sebuah jantung yang memiliki sayap yang menyiratkan keambiguan atas paradoks akan semangat hidup dan harapan kematian.

Lie Fhung sendiri merupakan alumnus Institut Teknologi Bandung jurusan Seni Rupa Murni tahun 1988. Ia terpesona oleh fenomena instalasasi dadakan yang sedang marak pada saat itu lalu terjun ke medan kreatif. Fhung bergabung dengan sebuah band art-rock dan tampil di klub-klub lokal. Pada saat itulah ia terinspirasi oleh seniman dan aktivis instalasi, Tisna Sanjaya serta seniman, kritikus dan juga kurator bernama A. J. Irianto, yang ia sebut sebagai salah satu mentor yang paling penting baginya. Fhung kemudian memutuskan untuk fokus menekuni seni keramik karena tertarik dengan “fleksibilitas tanpa batas dari tanah liat”. Kedekatan Fhung dengan tembaga dan logam lainnya tumbuh saat ia mulai mengimplementasikan kawat ke instalasi-instalasinya.

Pameran Tunggal Life Force oleh Lie Fhung

Dengan banyaknya penggunaan tanah liat dan logam sebagai bahan utama, masing-masing bagian karyanya dibentuk dan diukir langsung oleh Fhung serta harus melewati proses pembakaran. Bagi Fhung, tembaga mempunyai kesamaan tetapi disisi lain sangat kontras dengan porselen sehingga akan menarik bila dipadukan dan dijadikan sebuah karya. Sama halnya dengan perasaan ingin mati dan semangat untuk tetap hidup dirinya yang kontras namun berkaitan.

By |2017-09-19T12:33:53+00:00September 19th, 2017|Light, Posts|Comments Off on Hidup dan Mati oleh Lie Fhung

About the Author: