Nomadic Traveler: Kehidupan Nomaden Seniman Indonesia dan Korea Selatan

///Nomadic Traveler: Kehidupan Nomaden Seniman Indonesia dan Korea Selatan

Nomadic Traveler: Kehidupan Nomaden Seniman Indonesia dan Korea Selatan

Acara Festival Korea 2017 dalam rangka merayakan 44 tahun hubungan diplomatik antara Korea Selatan dan Indonesia yang diadakan selama sebulan penuh memiliki banyak rangkaian kegiatan. Salah satunya adalah Pameran Seni Media Instalasi Korea-Indonesia bertajuk Nomadic Traveler yang bertempat di Edwin’s Gallery. Pameran yang dimulai dari tanggal 7 September dan berakhir pada 17 September 2017 ini merupakan seri kelima sejak penyelenggaraan perdana pada tahun 2013 silam yang diorganisir oleh Kedutaan Besar Republik Korea bersama dengan Korean Cultural Centre.

Nomadic Traveler (Bahasa Indonesia: Pengembara Nomaden) dikurasi oleh Jeong-ok Jeon asal Korea Selatan dan Evelyn Huang asal Indonesia, dan menampilkan karya-karya dari empat seniman Korea Selatan dan empat seniman Indonesia. Kedelapan seniman tersebut adalah: F. X Harsono, Julia Sarisetiati, Lee Hansu, Lee Sang Hyun, Lee Wan, Moon Hyungmin, Venzha Christ, dan Zico Albaiquni. Pameran ini menampilkan ide seputar “pengembaraan” dan “perpindahan” dalam ranah seni kontemporer kedua negara.

Menurut seorang kurator independen yang juga dosen sejarah dan teori seni di sejumlah universitas di Korea Selatan bernama Jongeun Lim dalam esai kritisnya mengenai Nomadic Traveler, kedelapan seniman mengajak masyarakat untuk melakukan perjalanan melalui rentang waktu dan ruang yang lebih luas daripada sekadar pertukaran dan pertemuan, atau dengan kata lain, untuk menjadi pelancong yang berpikir. Mereka mengemas cerita-cerita perjalanan menjadi menarik dan hidup sehingga pengunjung dapat merefleksikan diri dalam hubungan duniawi.

“Pameran ini mengandung karya-karya seni di mana ruang diperluas dari planet bumi kita ke semesta yang tidak diketahui, waktu diputar kembali ke tempo dulu, dan pengalaman langsung seniman yang digunakan sebanga riset mengenai batasan budaya,” tulis Jongeun Lim.

Sementara Agung Hujantikajennong, seorang kurator lepas dan dosen tetap di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung, mengemukakan bahwa kita semua adalah nomad. Ketika gawai (gadget) kita terhubung ke internet, itu saja sudah termasuk nomadisme. Begitu pula saat kita keluar masuk toko untuk berbelanja.

Kedelapan seniman pun memiliki aspek nomadiknya sendiri yang dituangkan melalui media berbeda-beda. F. X Harsono (Light in The Suitcase dan Journey to the Past/Migration) mewakili gelombang perjalanan masyarakat Tionghoa ke Indonesia di waktu lampau yang dimana sejarah migrasinya telah direkayasa oleh badan otoriter.

F. X Harsono – Light in The Suitcase

F. X Harsono – Journey to the Past/Migration

Zico Albaquini (Bezoek Bandung! All Land For Sale!) membahas eksploitasi tanah atas nama mengkampanyekan turisme lokal dan membuat warga lokal berbondong-bondong menjual tanah mereka tanpa mempedulikan nilai historis dan keberlanjutan lahan tesebut dalam lukisannya. Sementara Julia Sarisetiati (Indo K-Work) menceritakan tantangan dalam masa perantauan buruh migran Indonesia di Korea Selatan melalui karya instalasi foto dan videonya. Sama seperti Julia, Lee Sang Hyun (A Scholar in Hanyang a Tiger at Mt. Inwang) juga menggunakan media video yang terdiri dari arsip foto sejarah pada masa kehilangan Korea Selatan akibat invasi asing dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang digabungkan dengan gambar-gambar budaya populer dan montase virtual.

Julia Sarisetiati – Indo K-Work

Venzha Christ dan Lee Hansu sama-sama mengutarakan keinginan mereka untuk berinteraksi dengan makhluk di luar planet bumi ke dalam karya mereka masing-masing. Venzha Christ (“The Unknown” Received – Transmitted developed by v.u.f.o.c lab, powered by ISSS) menyalurkan harapannya dengan menggunakan inovasi dunia teknologi sebagai media karyanya yang berupa radio pemancar frekuensi untuk menjangkau dan menyapa peradaban lain di luar angkasa. Sementara Lee Hansu (c++swingby) melalui media fotografi mengutarakan keinginan manusia untuk bertemu dengan alien. Pada karya serial fotonya, Hansu melihatkan perjalanan sang alien di berbagai tempat.

Venzha Christ – The Unknown

Sedangkan Lee Wan (The Travels of Lee Wan: Jakarta 2-8 Sep 2017) menuliskan jurnal mural perjalanannya selama tujuh hari di Jakarta pada dinding Edwin’s Gallery lengkap dengan gambar dan koleksi barang-barang yang ia temukan selama di Jakarta. Ia menggambarkan kebiasaannya dalam melakukan perjalanan-perjalanan lintas negara untuk mendapatkan barang-barang yang ia gunakan sehari-hari pada jurnal raksasanya ini.

Lee Wan – The Travels of Lee Wan: Jakarta 2-8 Sep 2017

Lain hal dengan Moon Hyungmin (Love Me Two Times: Indonesia) yang memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk berkomunikasi dengan orang-orang di Indonesia guna menciptakan sebuah karya baru. Hyungmin mengirimkan foto-foto dari simbol dan tokoh-tokoh ikonik Korea Selatan secara virtual lalu diinterpretasikan ulang oleh tangan pemahat kayu Indonesia yang menggambarkan perasaan keterasingan Hyungmin saat balik ke negeranya setelah 20 tahun merantau.

Moon Hyungmin – Love Me Two Times: Indonesia

Para seniman Nomadic Traveler telah menjelajahi ide mobilitas yang merupakan karakteristik masyarakat kontemporer dan menunjukkan bahwa kita semua adalah penjelajah virtual dan mampu melampaui berbagai batasan. Melalui berbagai spektrum sseni rupa dari dua negara, pameran ini sejatinya mengingatkan pengunjung agar selalu ingat akan kampung halaman dan tanah air.

FOTOGRAFI : Dita F. Hero

JURNALIS : Dita F. Hero

EDITOR : Ena Marlina

By | 2017-10-03T12:15:57+00:00 October 3rd, 2017|Light, Posts|Comments Off on Nomadic Traveler: Kehidupan Nomaden Seniman Indonesia dan Korea Selatan

About the Author: