Desainer Milennials Harus Berkarakter Kuat oleh Agra Satria

///Desainer Milennials Harus Berkarakter Kuat oleh Agra Satria

Desainer Milennials Harus Berkarakter Kuat oleh Agra Satria

Agra Satria, selaku co-founder dan creative director MATA Studio menuturkan perjalanan karirnya di dunia desain. Meskipun banyak tantangan yang harus dilewati Agra, namun dunia desain sudah menjadi bagian dari dirinya yang tidak bisa dipisahkan, meskipun pasti harus melakukan berbagai pengorbanan untuk sustain di industri ini.

Berikut adalah penuturan kisah inspiratif Agra Satria:

 

Sebelum terjun ke dunia desain, apa pandangan Kak Agra terhadap industri desain? 

Sejak SMP, saya sangat menyukai anime dan manga, dari hobi saya itu, kemudian saya belajar menggambar dan dibantu oleh teman sebangku saya dulu. Sekarang pun dia menjadi seorang graphic designer di sebuah studio desain di  Jakarta.

First experiences yang berhubungan dengan desain yang saya alami adalah ketika duduk di kelas 3 SMU. Pertama, saya ditunjuk menjadi salah satu anggota tim desain di acara pensi sekolah dan bertugas untuk mendesain maskotnya.  Ketika itu saya belum paham apa itu desain apalagi identity, yang saya ketahui dan bisa saya lakukan adalah menggambar. Kemudian saya meciptakan desain maskot seperti yang saya bayangkan, terinspirasi dari manga yang saya baca saat itu: Sebuah Robot Mecha. Semuanya masih dikerjakan dengan manual dan belum terkomputerisasi.

Kedua, pada akhir tahun ketiga saya di bangku SMA, saya kembali diajak menjadi bagian untuk mendesain buku tahunan. Disanalah saya mulai pertama kali berkenalan dengan namanya layout, sistem desain maupun flow, walaupun saat itu dengan pemahaman yang sederhana. Ketika itu, saya sangat suka menonton Channel [V] dan MTV, dan juga saya sangat menggemari bumper dari kedua channel tersebut. Semuanya begitu vibrant, energetic dan expressive. Ada satu yang menjadi favorit saya, video ini bergaya deconstructive, dimana terdapat efek glitch dan repetitive nya. Saya ingin dapat menciptakan visual seperti itu di dalam buku tahunan ini, entah bagaimana caranya. Kebetulan saat itu, saya baru saja dibelikan seperangkat komputer baru oleh ayah. Dengan berbekal buku tutorial Adobe Photoshop 7, saya paksakan diri untuk dapat membuat sebuah desain. Ketika itu belum ada teknologi camera phone atau recorder yg dapat mem-pause dan me-rewind program-program TV yang telah berlalu, saya hanya bisa berusaha untuk mengingat visual ini di memori, baik dari komposisi maupun layout-nya.  Proses ini sangat primitive, tetapi melatih saya untuk dapat lebih peka mengamati suatu objek.

Ketika itu, saya tidak tahu bahwa apa yang saya kerjakan disebut dengan desain grafis. Hingga suatu hari, ayah membawakan beberapa brosur universitas dengan jurusan “Desain Komunikasi Visual”. Dari sinilah saya mendaftar ke beberapa institusi pendidikan yang dikenal baik dengan program ini, dan akhirnya saya diterima di  Institut Teknologi Bandung. Selama saya menempuh pendidikan di sana, saya mempelajari bahwa sesuai dengan namanya “Desain Komunikasi Visual”, adalah ilmu untuk menyampaikan komunikasi melalui bentuk-bentuk visual. Hal ini semakin nyata ketika saya terjun ke industri profesi, dimana tuntutan untuk dapat menyampaikan kebutuhan dan mengkomunikasikan hal ini dengan tepat adalah prioritas utama. Sebagus apapun visual desain yang ada, namun apabila pesannya meleset, desain ini dapat dinilai gagal. Hal ini adalah suatu tantangan yang masih terus, saya dan tim MATA studio pelajari dan perbaiki.

 

Setelah terjun ke industri desain, apa tantangan terberat menurut Kak Agra sebagai graphic designer

Sama seperti lainnya, waktu selalu menjadi challenge di setiap proyek, tetapi hal ini mengasah kita untuk mendesain dengan efektif dan efisien. Lalu kemudian yg tidak kalah challenging adalah bagaimana mengkomunikasikan ide ke klien dengan tepat sehingga mereka mau memilih apa yang kita rasa adalah solusi terbaik untuk kebutuhan mereka.

 

Apa yang membuat anda bertahan di dalam industri desain?

Karena menjadi desainer grafis sudah menjadi pilihan saya, dan saya harus seratus persen terjun di dalamnya. Saya telah ‘mengorbankan’ beberapa hal untuk bisa terus disini dan saya harus maju terus.

 

Apa hal yang ‘dikorbankan’ untuk bertahan di dalam dunia desain? 

Salah satunya adalah saya dan keluarga tinggal terpisah. Mereka tinggal di Bandung sedangkan saya di Jakarta, karena di sinilah kantor saya berada. So, I don’t meet my family that often, but that’s the price that I have to pay in order to live up my dreams: to run a design studio.

Ketika saya masih di Milan, di akhir tahun 2015 saya mendapatkan kabar gembira: kami dipercayakan Tuhan untuk memiliki anak. Setelah mendengar ini, saya segera memesan tiket untuk kembali ke tanah air. Karna ini anak pertama, saya merasa bahwa saya harus berada di dekat istri saya untuk men-support-nya. Sebelum saya pulang, sebenarnya saya sudah mendapat posisi freelance desainer di APART Collective, sebuah studio kecil desain grafis di Milan dan saya pun sempat mengirimkan beberapa aplikasi pekerjaan ke studio di agensi desain lainnya. Sesampainya di Indonesia, saya mendapatkan panggilan dari AMO, sebuah agensi desain di Rotterdam. Mereka membutuhkan desainer baru dengan cepat dan memilih saya untuk mengisi posisi itu. Saya betul-betul berada di dua pilihan yang sulit. Tetapi pada akhirnya saya lebih memilih istri dan calon puteri saya dan menetap di Jakarta. Hingga kini saya tidak menyesali apa yang saya ambil dan mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan kepada kami sekeluarga dan akan terus maju ke depan.

 

Tadi, Kak Agra menyebutkan bahwa Kak Agra dari Milan balik ke Indonesia tanpa terencana atau dadakan. Ketika Kak Agra balik ke Indonesia, sudahkah kakak berpikir untuk membuka company sendiri? Atau mungkin ada rencana lain? 

Haha, tentu saja belum. Que sera sera.

Ketika libur musim panas di Milan, saya mengerjakan sebuah projek bersama kedua teman baik saya Felix Tjahyadi dan Ika Putranto untuk mendesain identity & invitation collaterals fashion show mas Didi Budiardjo. Kami berkerja dari tiga Negara berbeda, Italia-Belanda-Indonesia. Namun hal ini tidak menghentikan kami untuk dapat menghasilkan karya yang baik. Kemudian, setelah saya sampai di tanah air, Felix sekali lagi mengajak saya untuk ikut turut serta menjadi tim desain pameran 25 tahun berkarya mas Didi di Museum Tekstil Jakarta.  Berawal dari kedua projek ini, lantas Felix menawarkan untuk mendirikan sebuah biro desain kecil. Tentu saja dengan optimis saya menerima ajakan itu. Why not? Let’s just give it a try, and then MATA was born.

 

Selama menggeluti dunia desain, pastinya anda bertemu klien yang bermacam-macam, boleh sharing sedikit tentang masalah-masalah dan pengalaman anda dalam menghadapi klien?

Ada sebuah peristiwa yang hingga kini tidak terlupakan, yaitu ketika saya masih pertama kali berkerja di studio desain setelah lulus kuliah sebagai fresh graduate. Saya dipercayakan untuk mendesain brosur project mixed used di bilangan Jakarta Selatan. Seperti fish out of the water, saya betul-betul clueless ketika itu, namun saya berusaha untuk mencoba membuatnya. Hingga pada meeting ketiga kali, saya mendapatkan teguran yang cukup keras dari klien. Ia mempertanyakan kredibilitas saya sebagai desainer karena apa yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapannya. Hal ini kemudian menjadi sebuah refleksi diri saya, bahwa saya harus bisa berkarya lebih baik lagi. I’m a good designer and I can prove it.

Menurut saya, teguran dari klien adalah sebuah tamparan yang keras apabila dibandingkan dengan teguran dari art directorApabila ditegur oleh art director artinya mereka memperhatikan dan mengingatkan kita agar tidak melakukan kesalahan. Sedangkan apabila ditegur oleh klien artinya kita tidak dapat men-deliver projek dengan baik. Hal ini jelas dua hal yang berbeda. Karena terkadang, kecenderungan karakter para desainer muda ketika mendapat teguran adalah mereka cenderung  feeling down dan tidak mudah bangkit lagi.  Memiliki karakter yang baik dan kuat menurut saya sama pentingnya dengan memiliki skill desain yang baik. Ibarat keris, pada awalnya adalah sebuah lempengan besi yang telah melalui puluhan kali proses penempaan hingga akhirnya memiliki bentuk yang indah. Kita harus bisa menerima masukan-masukan konstruktif baik positif dan negatif untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Menurut kakak, mengapa masih banyak masyarakat yang menganggap desain itu adalah hal yang sepele? Lalu, apakah hal ini merupakan kesalahan dari desainer-nya sendiri? 

Hal ini mungkin diakibatkan oleh tingkat apresiasi seni yang kurang baik dari mayoritas masyarakat Indonesia. Dimulai dari lingkungan paling dekat dengan kita, keluarga. Apakah di keluarga kita seni di apresiasi dengan baik? Banyak yang masih memandang sebelah mata dan berpendapat bahwa profesi seniman atau desainer bukanlah suatu pekerjaan yang menjanjikan secara finansial. Persepsi ini perlu diluruskan sebenarnya, justru sesungguhnya desain itu sama pentingnya dengan bidang industri lainnya. Secara tidak disadari, desain juga memiliki andil yang besar dalam memutar roda ekonomi negara. Contohnya adalah tingkat konsumerisme masyarakat juga dipengaruhi oleh aspek visual dan branding product yang mereka lihat dan rasakan.

Selain itu, Indonesia juga belum hidup selaras dengan seni dan desain seperti yang dapat kita temukan di negara tetangga, Jepang. Masyarakat Jepang hidup berdampingan dengan seni dan teknologi dengan seimbang, tanpa mengkikis filosofi yang sudah diturunkan berabad-abad lamanya. Semua yang mereka lakukan disegala bidang dikehidupan sehari-harinya adalah bentuk seni, seperti desain arsitektur tradisional pada kuil atau rumah hingga kastil, lalu desain taman, prosesi upacara minum teh, penataan makanan di atas piring, hingga bagaimana mereka melipat bungkus bekal makan siang. Apabila masyarakat Indonesia sudah mengaplikasikan hal yang serupa, bayangkan sudah seperti apa kemajuan desain kita sekarang ini.

Apabila ditanyakan, apakah ini menjadi kesalahan desainernya sendiri atau tidak, menurut saya pribadi bisa iya, bisa tidak. Partner saya, Felix selalu berpesan bahwa setiap desainer harus memiliki tanggung jawab terhadap profesi. Artinya kita harus dapat mempertanggungjawabkan hasil karya kita, baik kepada hasil desain, klien, diri kita sendiri dan juga kepada sesama desainer. Apa yang kita ciptakan akan selalu berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap suatu komunitas. Bisa saja akibat seorang desainer yang kurang bertanggung jawab dapat merusak nama baik dirinya sekaligus rekan-rekan seprofesinya, misalnya: kepercayaan dari klien bisa hilang terhadap profesi desainer. Hal ini jelas memiliki dampak yang kurang baik terhadap kita semua.

 

Lalu, bagaimana pendapat Kak Agra tentang industri desain di Indonesia dan persaingannya?

Tentu saja, Industri desain di Indonesia kemajuannya sudah sangat pesat ditambah dengan kemudahan teknologi dan informasi, kini desain menjadi lebih accessible untuk semua orang. Desain bukan hanya menjadi komoditi eksklusif untuk segelintir kelompok, namun kini menjadi untuk seluruh masyarakat. Kini, dengan mudah setiap orang dapat menciptakan desain sesuai kebutuhannya dari template gratis hingga berbayar dan dengan harga terjangkau yang telah tersedia di website.

Persaingan itu selalu ada dan kita harus sportif dan suportif terhadap sesama rekan desainer, tanpa adanya persaingan, mungkin tidak akan ada design improvement. Menurut saya a healthy balanced competition is necessary in order to keep the industry growing.

 

Pesan untuk para calon desainer sebelum terjun ke dalam dunia desain yang sebenarnya?

Self improvement, good attitude, proper curiosity and hard work.

Self improvement – Sejak di bangku kuliah, saya termasuk mahasiswa yang average bila dibandingkan dengan yang lain. Selalu ada teman-teman yang skill komputer maupun menggambarnya lebih baik dari saya. Jangan merasa kecil hati apabila kita merasa kurang terampil, justru dengan mengetahui apa kekurangan kita, kita akan tahu apa yang perlu diperbaiki. Ketahuilah kekurangan dan kelebihan diri, ilmu desain dan skill digital adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan di-improve.

Good attitude – Seperti yang sudah saya sebut di atas, kita harus memiliki karakter yang kuat dan tahan banting dalam menerima masukan-masukan dari teman maupun atasan. Selain itu kita harus memiliki respect terhadap orang-orang di sekitar kita. Manners maketh man.

Good curiosity Keep on learning something new everyday!

Hard work We all know, all the hard work will pay off one day.

 

Pada akhirnya, pasti selalu ada ups and down dimana pun kita berada, hanya sekarang bedanya orang yang berhasil dan yang tidak tergantung bagaimana mereka haus akan kemajuan dan akan terus berusaha untuk jadi lebih baik. Tanpa ups an downs, tidak ada hal yang harus diperbaiki, hidup akan flat saja. Justru ketika kita dapat bangkit dari downs, maka keberhasilan dan kebahagiaan yang kita dapat berkali-kali lipat. Karena itu semua adalah proses dalam membangun diri untuk menjadi lebih kompeten. Ketika kita sudah tau kuncinya yaitu berusaha dan bekerja keras, attitude yang baik dan selalu stay curious pasti kita akan sampai ke tujuan akhir kita walau harus melewati 1001 jalan yang berbeda.

By | 2017-10-18T02:13:30+00:00 October 17th, 2017|Medium, Posts|Comments Off on Desainer Milennials Harus Berkarakter Kuat oleh Agra Satria

About the Author: