Perkembangan Seni Bersama MUSEUM MACAN: Art Turns. World Turns

///Perkembangan Seni Bersama MUSEUM MACAN: Art Turns. World Turns

Perkembangan Seni Bersama MUSEUM MACAN: Art Turns. World Turns

Museum of Modern and Contemporary Art Nusantara atau yang lebih dikenal dengan Museum MACAN telah resmi dibuka untuk umum sejak Sabtu, 4 November lalu. Terletak di lantai MM (atau lantai 5), AKR Tower, Kebon Jeruk, museum ini berluas 4.000 m2 dan memiliki Children’s Art Space di dalamnya. Terdapat pula Sclupture Garden di dekat pintu masuk yang berisikan karya-karya dari Ichwan Noor, Robert Indiana, Yayoi Kusama, dan lain-lain.

Pameran inagural Museum MACAN berjudul Art Turns. World Turns. (Bahasa Indonesia: Seni Berubah. Dunia Berubah.). Museum Macan menjual tiket untuk pembukaan pameran tersebut seharga Rp30.000,00 hingga Rp 50.000,00 yang dapat dibeli melalu situs mereka, www.museummacan.com atau bisa juga dibeli langsung di museum untuk tanggal 4 dan 5 November 2017. Bagi yang sudah bergabung dengan keanggotaan MACAN atau yang disebut MACAN Society Pioneers, bisa masuk dengan gratis dan mendapatkan tote bag serta pin yang didesain khusus oleh Entang Wiharso.

Art Turns. World Turns. memamerkan 90 karya dari total 800 karya koleksi yang telah dikumpulkan selama lebih dari 25 tahun. Dikurasi oleh Agung Hujatnika dan Charles Esche, pameran ini menelusuri sejarah modern Indonesia, sejak periode akhir kolonial hingga kemerdekaan, reformasi, hingga saat ini. Area pameran dibagi menjadi empat bagian periode, yaitu “Bumi, Kampung Halaman, Manusia”, “Kemerdekaan dan Setelahnya”, “Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi”, dan “Racikan Global”

In Memorian, Agapetus Kristiandana, 1964

Bumi, Kampung Halaman, Manusia

Karya-karya yang dipamerkan adalah karya yang dihasilkan sejak pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Para senimannya berasal dari Eropa dan Asia Tenggara seperti Raden Saleh, Miguel Covarrubias, dan I Gusti Nyoman Lempad.

Bumi, Kampung Halaman, Manusia mengacu pada tiga unsur inti yang menyumbang pada pemahaman akan identitas pribadi. Unsur-unsur tersebut ditunjukkan oleh para seniman dengan berbagai cara dan gaya. Selama masa penjajagan, lanskap Indonesia dan terutama Bali yang permai, kerap kali dianggap ideal dan eksotis oleh seniman-seniman Barat pendatang yang terpesona oleh oleh kearifan lokal di daerah tropis. Akibatnya, para seniman asing tersebut memengaruhi seniman setempat untuk menciptakan karya serupa. Bagian ini menyajikan gagasan hubungan antara penjajah dan rakyat jajahan pada masa itu, mencerminkan cara seniman membentuk citra tentang lanskap atau suasana jalanan yang ideal.

Bumi, Kampung Halaman, Manusia

Kemerdekaan dan Setelahnya

Memamerkan karya-karya yang diciptakan pasca Perang Dunia II serta masa Revolusi Nasional Indonesia (1945-1949), ketika republik yang baru dibentuk sedang berjuang mempertahankan kedaulatannya di mana seni tidak terpisahkan dari pergulatan politik tersebut.

Seniman-seniman Indonesia menampilkan tema nasionalisme untuk memberikan dorongan moril pada masyarakat. Kontras dengan periode sebelumnya, para seniman ingin menonjolkan jati diri bangsa Indonesia dan kehidupan sehari-hari mereka. Realisme karya-karya tersebut pun menjadi bahasa visual yang dominan.

Salah satu seniman penting bagi republik muda ini adalah S. Sudjojono. Namun, setelah bangsa ini menjadi semakin kuat sebagai sebuah negara yang berdaulat, sejumlah seniman seperti Affandi, Hendra Gunawan, dan Sudjana Kerton mengembangjan gaya mereka sendiri, yang bergeser dari realisme.

Kemerdekaan dan Setelahnya

Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi

Terdapat karya-karya dari sepanjang ahun 1950 hingga 1960an saat seniman Indonesia terus membangun identitas artistik mereka. Pada saat bersamaan, mereka lebih terlibat secara internasional, serta menerima dana hibah untuk berpergian di Asia dan Eropa.

Bagian ini menunjukkan polarisasi praktik kesenian modern di Indonesia, antara yang figuratif dan abstrak. Pemisahan ini juga ditemukan sejajar dengan sejarah global Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Gerakan ini secara umum membagi sebagian besar dunia di antara mereka, namun patut dibanggakan bahwa Indonesia memegang peranan penting untuk menderikan Gerakan Non Blok dalam upaya menjaga kemerdekaannya. Hasilnya, kecenderungan artistik dari kedua belah pihak pada Perang Dingin hadir di Indonesia dan diwakilkan dalam bagian ini baik oleh seniman Indonesia, maupun seniman internasional.

Di satu sisi, terdapat nilai universal dan eksperimental yang terwakilkan antara lain dalam karya-karya abstrak Srihadi Soedarsono, Nashar, dan Mark Rothko. Di sisi lain, terdapat nilai-nilai kemasyarakatan dalam karya-karya figuratif yang misalnya diwakili oleh Djoko Pekik dan Heri Dono. Sementara karya-karya Andy Warhol, Robert Rauschenberg, dan Arahmaiani menanggapi masayarakat sekitar dengan sudut pandang populer namun tetap kritis.

Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi

Racikan Global

Menampilkan karya-karya yang diciptakan setelah era Reformasi dimulai. Keruntuhan era Orde Baru Soeharto membuka kebebasan artistik baru dan melahirkan generasi seniman kontemporer yang lebih beragam Mereka hadir saat sedang berlangsungnya globalisasi ekonomi dan kebudayaan serta ketertarikan pada seni di dunia tumbuh dengan pesat. Kesemuanya ini menghasilkan pasar seni global.

Bagian ini berisi karya-karya dari seniman kontemporer yang hingg hari ini masih aktif. Seniman-seniman ini lebih sadar pada bahsa visual internasional, gagasan dan kecenderungan pasar. Karya mereka hadir ditemukan di mana-mana namun mereka kerap kembali pada tradisi dan subjek yang dekat dengan latar belakang budaya mereka. Di sini, pengunjung bisa mengalami suatu “racikan global” sejumlah kesamaan sekaligus perbedaan.

Racikan Global

Jurnalis: Dita F. Hero

Editor: Faizah Amrina

By | 2018-01-14T06:10:50+00:00 November 7th, 2017|Light, Posts|Comments Off on Perkembangan Seni Bersama MUSEUM MACAN: Art Turns. World Turns

About the Author: