Desainer Grafis Ideal oleh Evan Wijaya

///Desainer Grafis Ideal oleh Evan Wijaya

Desainer Grafis Ideal oleh Evan Wijaya

Sebagai desainer muda yang baru menginjakkan kakinya di design industry, Evan Wijaya adalah salah satu desainer muda yang berhasil menunjukkan kredibilitasnya untuk menjadi sebuah ‘berlian’ di tengah kompetisi antar desainer yang semakin sengit. Berhasil mendapat penghargaan bergengsi di ajang Indonesian Graphic Design Award 2 (IGDA2), kategori Tipografi, Evan Wijaya juga merupakan seorang graphic designer di Studio Desain Thinking Room.

Lewat laman portofolio di Behance-nya, Evan Wijaya membuktikan bahwa ia adalah desainer millennials yang sangat mengedepankan proses kreatif, dan selalu memberikan suguhan desain yang konseptual, bukan sekedar desain yang dekoratif. Bagi Evan, kompetisi sengit yang dihadapinya dalam design industry justru menjadi salah satu pendorong terbesar baginya untuk selalu terdepan dalam kompetisi tersebut.

Berikut hasil wawancara kami dengan Evan Wijaya:

Apa first impression Evan tentang dunia design industry yang sesungguhnya, dibandingkan saat menjadi mahasiswa desain?

Saya selalu menganggap design industry sebagai suatu bidang yang fun, dimana kita selalu diberi kesempatan untuk mengeksplor bakat dan talenta kita secara lebih dalam serta mempelajari hal-hal menarik setiap kali mendapatkan brief dan proyek baru. Saya memandang tantangan-tantangan yang selalu berbeda pada setiap proyek desain sebagai sesuatu yang seru dan tidak akan membuat kita bosan karena kita dapat bermain di ruang eksplorasi yang luas.

Namun setelah saya terjun langsung ke industri kreatif, saya sadar bahwa ternyata design industry tidak selalu seideal apa yang saya bayangkan. Jika dulu pandangannya “Wah gue bisa bikin design macem-macem nih, gue bisa eksplor ini itu.” Nyatanya, banyak limitasi-limitasi tertentu yang membatasi idealisme kita sebagai desainer sehingga kita tidak bisa selalu mengedepankan ego kita sendiri karena klien juga memiliki pandangan dan kemauannya sendiri.

Tantangannya adalah kita harus menemukan titik temu antara idealisme kita dan keinginan klien.

Apa role intern designer dalam workflow sebuah studio desain?

Setiap studio pasti mempunyai sistem kerjanya sendiri. Biasanya seorang intern designer akan ditugaskan membantu proyek desain yang sedang berjalan di studio desain tersebut. Workflow-nya kurang lebih sama dengan ketika sedang mengerjakan tugas saat kuliah. Intern designer akan mendapatkan brief terlebih dahulu baik dari full-time designer maupun dari creative director.

Biasanya kami mengawalinya dengan memberi penjelasan yang cukup komprehensif terkait proyek yang dikerjakan, seperti latar belakangnya, konsep dan arahan desainnya, dan lain sebagainya. Setelah itu intern designer akan mempelajari brief tersebut dan mengerjakan jobdesk yang di-assign tadi. Seringkali intern designer juga ikut serta dalam proses brainstorming dengan full-time designer dan creative director. Dengan cara seperti ini, intern designer akan lebih mendapatkan bimbingan dan arahan yang jelas.

Desainer yang seperti apa yang dicari oleh sebuah studio desain?

Desainer yang mempunyai skill, personality, dan attitude yang baik. Kemampuan desain yang baik sudah mutlak menjadi prasyarat utama ketika ingin masuk ke dalam sebuah studio desain dan ini sangat dicerminkan dalam karya-karya yang terpampang pada portfolio seorang desainer. Akan tetapi, personality dan attitude seorang desainer juga tidak kalah pentingnya.

Karya yang bagus tidak akan berarti apabila tidak didampingi oleh kepribadian yang baik. Sebuah studio desain terbentuk atas kerja sama dan interaksi yang baik antara orang-orang di dalamnya.

Oleh sebab itu, kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi, bekerja sama, mau menerima pendapat orang lain, dan sikap bertanggung jawab sangatlah penting untuk membuat sebuah tim yang solid.

Karena itu, studio desain selalu melakukan interview kepada calon desainer full-time maupun intern. Melalui proses interview tersebut, studio desain dapat melihat apakah sang desainer mempunyai personality yang cocok dengan studio tersebut, bagaimana pola pikirnya, dan seperti apa kualitas orangnya.

Apa pandangan Evan tentang desainer millennials yang diberi cap serba instan? Apakah yang membedakan desainer millennials dengan desainer senior?

Para desainer senior cenderung terbiasa melalui proses manual yang panjang dan membutuhkan ketekunan tinggi demi menghasilkan karya yang memuaskan oleh karena keterbatasan teknologi yang ada pada saat itu. Kemajuan teknologi di zaman sekarang membantu mempercepat desainer dalam melakukan riset, mencari referensi, dan mengerjakan desain, sehingga membuat prosesnya lebih cepat.

Tantangannya sekarang adalah bagaimana kita memanfaatkan teknologi tersebut, namun tetap melibatkan value proses yang sudah dilakukan oleh generasi sebelumnya agar hasilnya semakin baik.

Proses kerja yang terstruktur dan logis merupakan salah satu kunci yang perlu selalu ditekankan kepada desainer-desainer zaman sekarang. Pentingnya riset dan eksplorasi desain menjadi hal yang signifikan dalam mengerjakan suatu karya. Jangan sampai cara-cara yang serba instan menghilangkan esensi proses tersebut, seperti misalnya ikut-ikutan style atau aliran yang sedang populer tanpa mengetahui secara jelas apa tujuan dan maknanya, atau yang lebih parah lagi, meniru karya orang lain.

Apakah Evan khawatir mengahadapi klien yang hanya mementingkan harga ‘murah’ dari seorang desainer, bukan kualitasnya?

Ya dan tidak. Iya karena hal tersebut merupakan tanda bahwa masyarakat kita sekarang ini masih belum bisa secara penuh mengapresiasi nilai suatu karya dengan baik. Tentu saja itu bukanlah salah mereka karena pasti banyak pula faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Dalam hal memilih desain dengan harga yang murah, sebenarnya hal tersebut cukup lumrah. Yang mengkhawatirkan adalah bila mereka completely ignore kualitas sebuah desain hanya karena harganya saja. Namun demikian, sebenarnya hal tersebut justru menyeleksi orang-orang yang akan menjadi klien kita.

Mereka yang menghargai desain dan mementingkan kualitas desain yang dapat bersifat long term bagi perusahaan atau brand-nya tidak akan ‘asal-asalan’ memilih desainer.

Mereka akan datang kepada desainer yang memiliki portfolio berkualitas dan terpercaya untuk menangani proyek atau bisnis mereka, walaupun dengan nilai jasa yang lebih tinggi dari pihak lain.

Apa kesalahan yang sering dilakukan seorang desainer freelancer?

Menurut saya, kesalahan yang sering dilakukan yakni merasa telah settled dengan kondisinya, merasa terlalu nyaman sehingga tidak mendapat dorongan untuk mengejar sesuatu yang lebih tinggi lagi.

Selain itu, banyak desainer freelancer pemula yang tidak memperhatikan paperworks (MOA/MOU) atau terms of condition dengan klien, yakni tentang apa saja yang akan dikerjakan (mungkin karena natur freelance yang terkesan informal).

Semua ketentuan dan kesepakatan harus diperjelas di awal sebelum pengerjaan desain dimulai, contohnya seperti scope desain, harga dan prosedur pembayaran, berapa kali revisi, berapa konsep atau alternatif yang mereka terima, dan lain sebagainya. Kejelasan kesepakatan ini merupakan sesuatu yang penting untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya ketika klien tiba-tiba meminta tambahan alternatif, berganti konsep di tengah jalan, atau bahkan ketika klien tidak membayar desain karena tidak adanya ketentuan jelas yang mengikat. Hal ini dapat membebani diri kita sendiri sebagai desainer karena kita dituntut untuk bekerja ekstra dan menghabiskan waktu secara tidak efisien.

“Jadi, buatlah ketentuan yang jelas dari awal agar kita tidak merugi di akhir.”

Apa yang menjadi pertimbangan Evan saat memutuskan untuk menerima proyek desain?

Harga desain sebuah proyek bukanlah segalanya, terkadang kita juga harus melihat prospek perusahaan atau klien tersebut ke depannya. Kalau memang brand tersebut memiliki peluang yang besar untuk berkembang di masa depan, maka anggap saja kita telah menanam “modal” melalui desain yang kita buat. Pada akhirnya ketika perusahaan atau klien tersebut menjadi sukses dan terkenal, maka nama kita juga yang terangkat karena telah berpartisipasi membangun brand mereka dari segi visual. Akan tetapi kalau memang dirasa kurang worth it, maka jangan segan untuk menolak.

Kita harus mempunyai “garis batas” tentang seberapa tinggi skill kita ingin dihargai.

Namun menurut saya, untuk desainer yang baru terjun ke dunia industri, tidak ada salahnya menerima proyek “kecil-kecilan”. Beberapa hal positif bisa didapat melalui proyek-proyek tersebut, seperti menambah portfolio, pengalaman, sekaligus menambah relasi, apalagi ketika mendapat klien yang memiliki koneksi yang besar. Besar kemungkinan, klien tersebut akan mereferensikan kita apabila mereka menyukai desain yang kita buat.

Bagaimana memposisikan diri kita sebagai desainer muda di tengah kompetisi dengan desainer-desainer lain yang sudah andal?

Pressure ataupun rasa tertekan di tengah persaingan tersebut pastilah ada. Ketika kita bergabung dalam suatu industri desain atau sebuah studio desain, secara otomatis audiens mempunyai ekspektasi yang tinggi karena kita adalah bagian dari studio desain tersebut. Namun begitu, kita harus menjadikan pressure tersebut sebagai pendorong bagi diri kita untuk belajar terus menerus. Ketika kita merasa kurang dibandingkan dengan kompetitor-kompetitor kita, maka kita harus terus berlatih agar bisa catch up dengan yang lain. Kuncinya adalah jangan pernah cepat menyerah dan selalu berusaha menghasilkan karya yang terbaik, semaksimal mungkin.

Menurut Evan, apakah desain harus selalu mengikuti tren?

Referensi, style, dan tren bisa jadi senjata untuk merangkai visual yang baik. Riset yang komprehensif dengan disertai referensi yang tepat dapat diolah menjadi suatu visual yang baru dan berbeda dari yang lain. Menurut saya desain tidak harus selalu mengikuti tren. Tren merupakan sesuatu yang sifatnya sangat temporer. Saya pribadi lebih memilih untuk membuat desain yang tepat guna. Apabila berdasarkan riset memang dibutuhkan sebuah desain yang mengikuti tren, maka hal tersebut tidak menjadi masalah bila mengikuti tren merupakan cara yang paling tepat untuk menjawab permasalahan yang ada. Namun demikian perlu diingat bahwa dalam tren tersebut masih banyak sekali ruang eksplorasi yang dapat dijelajahi untuk menghasilkan karya yang orisinil dan stand out from the crowds.

Terkait style, tentu setiap desainer memiliki preferensi terhadap specific style masing-masing. Namun bagi kita yang baru menginjakkan kaki di industri ini, menurut saya ada baiknya bila kita menjadi “versatile“, membekali diri dengan berbagai macam style, referensi, dan pengetahuan untuk dapat survive di industri kreatif ini sehingga dapat dengan mudah beradaptasi dalam menghadapi berbagai macam proyek. Personal style bisa menjadi added value bagi masing-masing individu, tetapi kita tetap harus kritis, apakah style kita cocok untuk problem solving di proyek desain tersebut?

Apa saran Evan bagi mahasiswa desain yang hendak terjun ke industri desain?

Pertama, ketika memulai suatu proyek, selalu lakukan research yang mendalam. Pelajari brief-nya secara matang; dari background, goals, target market dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Dari situ kita bisa menemukan benang merah untuk dibawa ke tahap eksekusi desain kita nantinya. Selain itu, memperbanyak referensi sangatlah membantu dalam membuka cakrawala dunia desain sehingga memudahkan kita dalam proses brainstorming.

Kedua, mahasiswa desain harus memanfaatkan masa-masa untuk belajar [selama di kuliah] sebanyak-banyaknya. Luangkanlah waktu untuk mencoba karya yang ekspiremental, karena kalau sudah menginjak dunia kerja, jarang kita dapat memperoleh kesempatan untuk membuat karya yang benar-benar ekspiremental karena banyaknya batasan dari klien. Selain itu, penting juga bagi kita untuk memperdalam ilmu-ilmu baik yang berhubungan dengan desain maupun di luar desain. Semakin banyak ilmu dan informasi yang kita miliki, maka amunisi dan senjata kita semakin kuat pula dalam bertempur kelak.

Ketiga, perbanyaklah latihan, karena “practice makes perfect.”

Terakhir, ikutlah lebih banyak aktivitas di luar lingkup kuliah, seperti pameran, lomba, seminar, workshop dan lain-lain. Saya sempat sedikit menyesal karena di awal-awal kuliah saya terlalu berfokus di internal kampus saja, padahal aktivitas-aktivitas di luar kampus sangatlah membantu kita dalam mendapatkan banyak pengalaman, bahkan meningkatkan chance untuk di-hire oleh klien. Kualitas yang bagus pasti akan meng-attract klien. Selain itu, kita bisa mendapat banyak koneksi dengan rekan-rekan dari kampus lain. Kita bisa bertukar pendapat, pikiran, serta mendapat insights baru yang secara tidak langsung mendorong kita untuk tetap berkreasi. Kita juga dapat set our own standard dengan melihat kapabilitas dari teman-teman lain di luar sana sehingga dapat terpacu untuk berkarya dengan maksimal.

Apa tantangan terbesar dalam design industry yang dihadapi Evan sebagai seorang desainer yang sedang merintis karirnya?

Design industry selalu menuntut hadirnya sebuah ide kreatif yang selalu baru dan fenomenal. Di sini tantangan terbesar salah satunya berasal dari diri saya sendiri. Saya cukup khawatir apabila terkadang saya merasa cepat puas dengan karya yang saya hasilkan sehingga tidak melakukan eksplorasi karya lebih jauh. Padahal seringkali ide-ide kreatif yang fenomenal dihasilkan dari pemikiran-pemikiran serta hasil eksplorasi yang biasanya di-push sampai jauh.

Tantangan yang lain adalah rasa percaya diri. Seringkali saya merasa minder dan kurang percaya diri dengan karya yang saya hasilkan, apalagi ketika harus dibandingkan dengan karya desainer-desainer lain yang luar biasa bagus. Saya takut di-judge orang dan di-compare dengan orang lain; ini merupakan pressure yang sering saya alami. Akan tetapi justru rasa tersebut dapat menjadi pendorong bagi saya untuk berpikir lebih jauh dan berkarya lebih maksimal menghasilkan karya yang hopefully lebih baik dari yang lain.

Apa pembelajaran yang paling berharga dari workflow studio desain yang sudah existing belasan tahun, yang masih sering terlupakan oleh freelancer pemula?

Nilai dan esensi dari proses mendesain itu sendiri. Kebanyakan  freelancer pemula memilih untuk bekerja dengan cara yang instan supaya cepat jadi dengan sering menihilkan proses desain yang komprehensif. Pengalaman bekerja di Thinking Room mengajarkan saya untuk selalu mengutamakan proses desain yang logis, terstruktur, dan menyeluruh sehingga karya yang dihasilkan mempunyai latar belakang pemikiran dan konsep yang baik dengan gravitas atau bobot yang tinggi. Komunikasi visual merupakan hal yang tidak mudah dan memerlukan dedikasi tinggi. Hasil yang maksimal tidak dapat dicapai dengan cara yang instan, dengan hanya melihat referensi, meniru style yang ada, atau mengikuti tren. Proses riset, berpikir, dan eksplorasi konsep dan visual yang bertanggung jawab harus selalu diterapkan dalam setiap proyek, besar maupun kecil.

Walaupun sudah memasuki design industry, Anda menyebutkan bahwa masih dalam proses mencari jati diri sebagai seorang desainer. Apa hal-hal yang menjadi pertimbangan Anda saat mempertimbangkan masa depan Anda sebagai desainer 10 tahun mendatang?

Jujur saya masih belum tahu jelas sepenuhnya mengenai jalan saya 10 tahun ke depan. Yang saya tahu, saya ingin terus berada di industri kreatif dan menggunakan kemampuan dan bakat yang ada untuk membuat perubahan yang positif bagi banyak orang. Saya tidak ingin ilmu dan talenta yang saya miliki tidak digunakan secara maksimal. Saya ingin membantu banyak orang dengan bekal yang saya punyai ini, dan saya yakin saya dapat melakukannya melalui industri kreatif. Saya telah mendapat kesempatan dari Tuhan untuk berkarya, dan saya akan memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Industri kreatif saat ini sangat berkembang dengan pesat, baik di tataran nasional maupun global. Menurut saya, ini merupakan momentum yang tepat untuk berkarya dan menginspirasi banyak orang. Sebagai generasi muda, saya rasa ini merupakan saat yang tepat untuk bergerak dan berekspresi dengan memanfaatkan banyaknya medium yang tersedia sekarang ini; ini merupakan saat yang tepat untuk membuat perubahan.

Narasumber : Evan Wijaya

Jurnalis : Euodia Louis

Editor : Muhammad Ammar Farras

 

By | 2018-01-14T06:10:03+00:00 November 14th, 2017|Medium, Posts|Comments Off on Desainer Grafis Ideal oleh Evan Wijaya

About the Author: