Pameran Tunggal Geneviève Couteau : Sepercik Jejak Langkah Seniman Paris di Tanah Bali

///Pameran Tunggal Geneviève Couteau : Sepercik Jejak Langkah Seniman Paris di Tanah Bali

Pameran Tunggal Geneviève Couteau : Sepercik Jejak Langkah Seniman Paris di Tanah Bali

Pada liputan “Light” kali ini, Tim Redaksi Titik Dua berkesempatan untuk mengunjungi pameran tunggal seorang tokoh seniman terkenal asal Perancis, Geneviève Couteau yang bertajuk “The Orient and Beyond”. Pameran ini resmi dibuka di Galeri Indonesia, Jakarta Pusat dari tanggal 24 Januari 2017 hingga 14 Februari 2017.

The Orient and Beyond merupakan suatu bentuk penghormatan terhadap Geneviève Couteau, sebagai seorang seniwati,  sekaligus ibu dari penggagas pameran ini, Jean Couteau.

“Dengan adanya pameran ini, saya ingin membuktikan bahwa ada eksistensi dari perupa lain di luar seniman-seniman ikonik tahun 30 hingga 50-an seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur dan Blanco. Geneviève Couteau telah menghasilkan karya yang tak kalah menarik, bahkan dengan pendekatan yang lebih universalis dan lebih feminin dibandingkan dengan para maestro seni sebelum Perang Dunia II”

ungkap Jean Couteau.

Pameran terbagi menjadi beberapa sekat ruangan yang memisahkan karya Genevieve berdasarkan kesamaan media , objek, serta gaya lukis yang digunakan

Suasana Indoor Pameran

Seputar Seniman dan Karya

Geneviève Couteau (1925-2013) adalah seorang seniman modernisme kelahiran Perancis. Beliau dibesarkan ditengah keluarga trader saham yang ulet. Menjelang Perang Dunia II, beliau bersama keluarganya mengungsi ke kota Nantes dan melanjutkan sekolah disana sampai akhirnya menikah dengan Joseph Couteau (1916-2004), seorang dokter hewan dari kota Clisson. Pasangan ini kemudian dianugrahi tiga orang anak yaitu Edmée, Jean dan Pierre.

Setelah menamatkan studinya di sekolah tinggi Beaux-Arts Nantes (1951), beliau kemudian berfokus untuk terjun kedalam dunia seni lukis. Perjalanan karirnya di dunia seni terbilang cukup sukses. Atas prestasinya, beliau pernah mendapat penghargaan bergengsi Prix Lafont Noir et Blanc pada tahun 1952.  Pada tahun 1960  beliau berkunjung ke Asia  dalam perjalanannya mencari inspirasi, dan salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Bali. Beliau kemudian bermukim disana selama beberapa waktu, dan menghasilkan karya-karya yang sarat akan kearifan lokal.

Pada awalnya, melukis merupakan media ekspresi favorit Genevieve Couteau , baik berupa sketsa, lukisan surealis-imajiner maupun potret hitam putih. Selang beberapa tahun, melalui eksplorasi seni dan kepekaannya terhadap lingkungan sekitar, beliau akhirnya menemukan suatu ciri khas dalam karyanya, yaitu feminisme.

Beliau kerap memakai teknik seni rupa modern, namun tidak menjadikan style modernisme itu sendiri sebagai fokus dalam tujuan seninya. Dalam setiap karyanya beliau selalu mengutamakan perasaan empati wanita ketimbang eksplorasi bentuk yang logis dan mengandalkan logika intelektual. Dalam setiap garis dan tarian warna, para penikmat lukisannya dapat menemukan emosi dan tema yang terbaca jelas.

Beberapa karya Geneviève Couteau

Yang menarik adalah, berbeda dengan rekan-rekannya yang sebagian besar adalah pelukis pria, fokus lukisan Genevieve bukan pada bentuk proporsional tubuh, melainkan pada wajah dari objek yang digambarkan yang senantiasa terlihat memandang dari kejauhan, seolah mengharapkan “dunia lain”, mendambakan kesempurnaan yang hanya ada dalam angan-angan.

Beliau juga selalu melakukan eksplorasi (disebut juga perburuan estetik) untuk menemukan gaya baru dari setiap karya seni yang dibuat. Misalnya dengan mencari “benang merah” yang ditemukan pada berbagai tempat hunian, gerakan-gerakan dan bentuk-bentuk manusia. Hal ini jugalah yang menjadi salah satu ciri khas gaya lukis yang disuguhkan pelukis asal Perancis ini.

Eksplorasi gaya seni Genevieve, bahkan hingga batas Abstrak – Surealis

Genevieve kerap kali menggunakan elemen garis-garis memanjang dan garis pendek sarat guratan yang terinspirasi dari bentuk bangunan Museum Pompidou. Sementara dari penggunaan warna, beliau banyak terinspirasi dari warna merah sayup-sayup para biksu Laos, biru magis Venezia serta kehangatan warna Bali.

Gaya lukis seperti itu lah yang kerap disebut oleh para kritikusnya sebagai “realisme magis”. Sayang, manakala reputasi Genevieve mulai memuncak pada 1980-an, beliau mengidap penyakit parkinson.

Salahsatu karya sastra Geneviève Couteau

Dalam masa tuanya, beliau lalu mengalihkan perhatiannya pada kegiatan sastra. Buku yang pernah ia tulis antara lain “Mémoire du Laos” (Seghers, 1987) yang berisi pengalamannya datang ke Laos atas undangan Pangeran Souphanna Phouma serta buku kumpulan cerpen “Mykonos, Chronique d’une Ile” (Maisonneuve et Larose, 2002). Karya – karya sastra beliau juga turut disajikan dalam bentuk fotokopi di pameran ini.

Setelah bertahun-tahun hidup didera parkinson serta penyakit menua lainnya, Genevieve akhirnya wafat pada 17 Desember 2013. Beliau meninggalkan rekam jejak hidup dan hasil perburuan estetika melalui karya lukisan serta sastranya yang dapat kita nikmati dan pelajari sekarang ini.

Jurnalis : Margareta

Editor : Muhammad Ammar Farras

By | 2018-01-31T07:02:59+00:00 January 31st, 2018|Light, Posts|Comments Off on Pameran Tunggal Geneviève Couteau : Sepercik Jejak Langkah Seniman Paris di Tanah Bali

About the Author: