Hadi Ismanto : (Re)Form Follows Function

///Hadi Ismanto : (Re)Form Follows Function

Hadi Ismanto : (Re)Form Follows Function

Berangkat dari sebuah visi, meningkatkan dan memperbarui standar industri media di Indonesia, Hadi Ismanto, berhasil mewujudkannya dengan menerbitkan dan men-direksi langsung Manual Jakarta. TitikDua berkesempatan untuk bertemu dan membicarakan perkembangan media hingga kepentingan desain dalam bisnis.

Dikenal selalu menyajikan konten yang fresh, bagaimana awal terbentuknya Manual Jakarta?

Berawal dari kesukaan saya dengan media, pada tahun terakhir saya kuliah di Melbourne, saya telah memikirkan apa yang akan dilakukan kedepannya. Saya telah membulatkan tekad diri saya pada semangat patriotik, mengabdi untuk Indonesia.

Ketika di Melbourne saya sudah bekerja sebagai editor pada sebuah print magazine, serta jurnalis di sebuah online magazine, saya juga memiliki beberapa pengalaman dalam bidang penyiaran yang membuat saya tersadar ketika melihat semua perkembangan pesat dari kemajuan industri ini, Indonesia masih sangat tertinggal bahkan belum medekati standar disana. Darisinilah, saya ingin mengubah landscape media itu seperti apa.

Pada waktu lima tahun yang lalu, basis media online itu hampir tidak ada, hanya ada beberapa nama. Namun ternyata dalam kurun waktu beberapa tahun, keadaan sangat berbalik. Online media menjadi sangat mendominasi pasar, terutama pasar Indonesia dan itupun masih banyak sekali potensi yang belum tergali.

Melalui pengalaman saya mengajar untuk Microsoft, dan pengalaman magang di Lowe advertising agency dan Whiteboard Journal, saya memutuskan untuk membentuk sebuah media publikasi online independen.

Alasan pertama karena, lebih murah biaya untuk memulai. Kemudian mengapa tema yang saya angkat adalah city guide dan lifestyle? Karena itu hal yang paling saya mengerti. Mungkin saya belum terlalu mengerti tentang politik, atau travelling, tapi lifestyle dan exploring the city, saya sudah selalu lakukan sejak lama. Ditambah dengan hambatan yang saya rasakan setiap balik ke Indonesia belum ada cityguide atau majalah yang mengerti apa yang diinginkan oleh saya dan teman teman saya.

Selama ini, saya yakin, kalau tidak ada Manual, orang-orang pasti akan sulit mencari destinasi. Ketika momen ingin mencari tempat nge-date yang tepat, misal ‘cafe romantis di kemang, rekomendasi dari search engine pasti banyak, bahkan hingga beberapa page, dan seringkali kita belum merasa mendapatkan info yang sesuai walaupun sudah surfing hingga beberapa page. Dan bagi saya itu hal yang umum.

Masalahnya, informasi yang ada terlalu banyak, dimana tidak ada yang mengkurasi, dan tidak ada yang mengerti apa yang sebenarnya diinginkan. Dari sisi itu, saya memasukan semua value dari permasalahan tersebut dan menjawabnya dengan Manual Jakarta.

Sejujurnya, visi saya itu adalah untuk membangun sebuah perusahaan media, yang sejajar dengan perusahaan-perusahaan media besar lainnya. Tentunya, sebuah perusahaan yang memiliki media unik dan beda, serta visi dari perusahaan media ini adalah saya ingin menantang diri saya untuk meningkatkan standar media di Indonesia.

Manual Jakarta adalah projek media pertama kami, namun selain itu, kami juga memiliki MALT Studio yang dikhususkan untuk graphic design studio, kemudian kami juga memiliki Third Company yang pada dasarnya sebagai agensi pemasaran di Jakarta.

Terfokus dengan lifestyle dan city guide kota Jakarta. Mengapa Manual memilih Jakarta? Bagaimana dengan kota-kota lain seperti Bandung atau Bali?”

Pertama karena masalah dana. Jujur saya tidak mempunyai modal yang begitu kuat dari awal. I don’t have that much capital to burn to begin with, so it needed to start from somewhere and be more safe, in that sense. Tapi sebetulnya, alasan utama kenapa saya memilih Jakarta adalah, strategi editorial kami dan value magazine apa yang ingin didalami.

Pada akhirnya, kami juga ingin menjadi otoritas di kota itu. Kami ingin membangun kredibilitas, kami ingin membangun kepercayaan, dan untuk menjadi seperti itu, kita perlu menjadi media yang mengetahui seluk beluk kota,bukan hanya sekedar ambil dari foto orang kemudian re-gram, “eh ada café baru!”

Karena jika kamu perhatikan, semua café atau tempat serta orang-orang yang telah kami feature di majalah, satupun tidak ada yang bayar. Juga, mereka tidak bisa bayar untuk masuk, jadi itu bagian dari alasan saya berani mengatakan, kita mungkin salah satu dari sedikit, jika tidak, hanya media yang punya idealisme seperti itu di Jakarta, dan orang kira ‘Gila! Manual kaya banget ya, tempat-tempatnya semua berbayar’ padahal tidak juga.

Rencananya adalah, Kami menginjakkan kaki di satu kota, dan ke yang lain nya dan bisa expand dari situ, namun tidak dalam waktu cepat, kami belum berencana untuk membuat Manual Bandung ataupun Manual Bali, karena balik lagi, kami bukan media untuk orang luar negeri, atau orang pendatang, yang ingin tau tentang Jakarta.

Manual ditujukan untuk orang yang sudah ada di kota itu. Misal seseorang sudah tinggal di Jakarta selama 20 tahun dan selama itu, mereka tidak tau Jakarta punya ini dan itu, kami ingin menunjukan persektif yang baru. Jadi kalau ada foreigners ingin datang pun, perspektif mereka adalah, ‘wah, gue mau meng-experience Jakarta seperti warga lokal’. Jadi bukan sekedar ‘ih gue pengen ke Jakarta gue harus ngapain ya?’.

Bagaimana feedback yang didapatkan dari target pasar?

Umumnya sangat positif. Tentu saja, pada tahun – tahun pertama banyak orang yang skeptis dan bingung. Namun kemudian, setelah dua tahun berjalan dan hingga hari ini, orang sudah mulai mengerti, ‘oh, Manual itu online media yang seperti ini’. Sekarang sudah banyak yang tau ingin kemana dan ingin melakukan apa ketika berada di Jakarta. Saya sangat bangga karena orang-orang akhirnya dapat mengerti dan menerima apa yang ingin kami sajikan, kami berhasil membangun kredibilitas yang cukup dihormati.

Kenapa memilih menggunakan bahasa Inggris dan bagimana rancangan strategi komunikasi yang Manual miliki?

Kenapa pakai bahasa Inggris karena, yang saya pelajari dari advertising agency sebelumnya. As a lifestyle brand, your consumer consumes you, because they want to aspire to be something.

Sebagai contoh, majalah Cosmopolitan, yang memiliki konten yang kelihatannya untuk perempuan umur 20 hingga 35 tahun. Tapi sebenarnya, target market mereka dan pasar mereka adalah perempuan yang masih berada di bangku SMA, yang akan melanjutkan ke jenjang hidup berikutnya. Di mana mereka melihat, “ih, wanita wanita Cosmo itu keren, ya, gue pengen ah, jadi seperti itu,” jadi jika position kami di sini, target marketpun akan dibawah.

Saya juga menerapkan strategi yang sama, dimana suka-tidak suka, orang Indonesia masih menganggap internasional itu lebih keren. Kecuali jika saya ingin membangun media, seperti majalah Opini.id, atau Detik, yang dapat dimengerti semua kalangan. Sebagai lifestyle brand saya harus berhasil membuat pola pikir orang-orang melihat Jakarta sebagai destinasi yang keren.

Untuk strategi komunikasi, Saya rasa saya tidak tahu apakah ini bekerja untuk majalah lain,tetapi sebagai Manual, sebagai brand, value, kami harus jujur kami tidak neko-neko dan tidak berbelit-belit, apa yang kamu lihat, itu yang kamu dapatkan, karena itu desainnya, fotografinya, copywriting-nya, itu semuanya sangat mudah. Kamu tidak akan pernah meliha kami menggunakan subheading title, yang click bait. Kami ingin challenge that standard bahwa, walaupun kami online media, kami suka diremehkan, tapi kami bisa loh, membawa nilai jurnalistik yang tinggi, dengan integritas dan jujur, dengan tidak bohong, tidak disuap, dan dengan quality article serta kualitas fotografi, aja. Orang berpersepsi kalau online media itu, tidak memiliki konten yang original. Saya akan katakan, 95% konten kami adalah asli. Kami memiliki foto dan tulisan sendiri.”

Seperti yang kita tau Manual mendapatkan feedback yang begitu besar dari masyarakat, termasuk taste dari desain Manual sendiri. Apakah ada impact dari branding Manual?

Yes. Karena menurut saya, kami menggunakan desain yang penting karena target market. Target market kami adalah millennials. Tapi millennials yang tergolong mengerti tentang culture, atau setidaknya mau mengerti. Kedua, desain yang kami gunakan itu sebenarnya, selalu mengikuti sebuah fungsi.

Desain kami gunakan dan kami atur sebisa mungkin agar tujuan utama dari pesan itu clear, bukan hanya sekadar aesthetic, bukan hanya sekadar tentang keindahan visual karena kami bukan seorang seniman, namun kami media yang berbeda, dan kami menggunakan desain supaya pesan kami itu sampai.

A really interesting fact saat kami memulai dari awal, kami tidak punya apa-apa, right? I mean, me and my team, all of us itu pendatang baru di Jakarta. Kami tidak pernah pakai network, so at least ninety percent, kami langsung pergi ke café-nya, kami memperkenalkan diri sebagai Manual. Kemudian menjelaskan Manual itu apa. Imagine, timeline-nya itu, kami launching bulan Desember 2013, tapi September kami udah mulai membuat konten, supaya saat launch, kami sudah memiliki konten.

Challenge-nya bagaimana caranya menjual sesuatu yang belum pernah mereka lihat. The only thing I have, was our business cards. Business card yang saya letterpressed di Melbourne, and that’s how much I invested in the design area of the whole brand, sehingga saat tahun terakhir saya kuliah di Melbourne, I hired a design agency yang ada di Melbourne, mereka yang merancang logo dan website kami. Eventually mereka yang membuat business card kami dan semua itu letterpress.

Jadi, waktu datang ke jakarta itu belum terlalu ada konsep letterpres. Dengan letterpress itu, saya bawa kartu bisnis itu ke café-café, dan itu satusatunya akses.

Mereka melihat dan terima, dan menilai Manual ini serius. Jadi desain dari sebuah physical format (kartu) yang kecil itu, mereka langsung mengerti apa itu dan value Manual. Mereka setuju untuk kerjasama bersama Manual dengan mengizinkan meliput.

Desain memiliki peran penting dalam proses perancangan Manual . Apakah Kak Hadi memiliki standar untuk taste desain tersendiri atau diserahkan semua pada desainer?

Nah, saya pikir awalnya, tentu saja saya lumayan hands on ya. Kenyataan bahwa desain, fotografi, artikel, dan copywriting, saya memiliki visi tentang bagaimana hal itu akan terjadi. Saya bersyukur karena along the way, saya meng-assemble tim, yang of course lebih jago dan lebih tau dari saya.

Kami memiliki editor in chief, director of photography, dan head of designer, yang saya percaya untuk, membuat kemajuan dalam taste desain Manual. ya jadi sebelum nya saya kontrol, kemudian saya sudah mulai lepas ke mereka, dengan ekspektasi bahwa, mereka harus memberi hasil yang di luar ekspektasi saya because, that’s the reason I hire you, you’re better than me.’ So right now, Saya masih hands-on in some projects, but most of the time, I leave it to my editor in chief and other respective department heads.

“Seperti yang dituturkan Kak Hadi, Impact dari desain itu sangat besar, namun beberapa orang menganggap desain bukanlah hal yang penting. Bagaimana pandangan Kak Hadi terhadap permasalahan ini?

Saya pernah ke acara ADGI, two years ago, dan orang International Council of Design (Ico-D) datang, dan kalimat yang paling saya ingat waktu dia bilangKita harus mengerti, dan kita harus ingat bahwa desain adalah seorang profesional yang sangat muda. Menurut saya desain itu baru sekitar sejak beberapa ratus tahun, dan sebenarnya itu yang membuat desain adalah seorang profesional yang sangat muda.

Jika dibandingkan dengan keilmuan pertanian, bisnis, akuntansi, dan perbankan, sudah ada selama hampir seribu tahun atau lebih, jadi ini adalah profesi yang matang di tingkatnya., sedangkan desain itu baru ada sejak tinta kertas, dan semuanya ditemukan, hanya beberapa ratus tahun yang lalu.

Itulah mengapa profesi desain berkembang, tapi pada saat yang sama itu adalah salah satu profesi termuda yang pernah ada, di satu sisi, kita harus mengerti bahwa jika kita hidup di generasi ini.kita tidak akan pernah membawa desain to the level of banking. But, it doesn’t mean we couldn’t work our ass off untuk bisa menaikkan derajat desain.

Menurut kak Hadi, bagaimana industri desain dulu dan sekarang?

Jika sepuluh tahun yang lalu, honestly berbeda karena menurut saya yang paling membedakan adalah globalization. The fact that ten years ago, everything was very much in a bubble kalau membicarakan trend, art direction, warna apa yang lagi in, jika tidak memiliki privilege untuk ke luar negeri, hanya menetap di Indonesia, pasti informasi yang didapatkan minim.

Makanya desain atau media di Indonesia itu selalu ketinggalan lima atau sepuluh tahun. Karena, kita bergantung sama suatu majalah, dan majalah lain bergantung pada majalah lainnya. Tapi sekarang yang paling membedakan adalah, everyone has a direct access to the source, and it’s a very on-level thing.

jadi saya pikir, itulah perbedaan terbesar saat ini, itulah setiap orang yang terpapar segalanya, jadi dalam artian, mana yang baik dan buruk. bagus-nya karena mengekspos banyak hal, terinspirasi oleh banyak hal, tapi hal yang buruk adalah, makin susah untuk mencari sebuah originality.

Apa harapan dan pesan dari Kak Hadi untuk orang-orang di sana yang sedang merancang sebuah startup dalam bidang media dan desainer yang tergabung didalamnya?

Harus punya plan bisnis, menurut saya jika ingin membangun sebuah online media, menganggapnya sebagai merek serius dan publikasi serius, tidak boleh meremehkan itu. It means a proper treatment as other brands.

Jadi tidak sekadar, “oh gue hobi, langsung bikin aja and see how it goes of course there are balance of things. Seperti saya dulu waktu bikin business plan yang tidak begitu kompleks, yang setidaknya dalam business plan tersebut terdapat target market, research market.

Saya tau 2 tahun pertama itu fase untuk bleeding (istilahnya), dan kalau selama 2 tahun belum selesai, harus sudah memikirkan apa saja monetizing strategy-nya. Bahkan rencana-rencana seperti itu sudah harus dipersiapkan dari awal. Jika memang mau dibawa serius, harus benar-benar serius, jangan menganggap remeh.

Jurnalis : Faizah Amrina

Editor : Deynadia Ali

By | 2018-02-28T21:07:52+00:00 February 28th, 2018|Medium, Posts|Comments Off on Hadi Ismanto : (Re)Form Follows Function

About the Author: