Aryanto Salim: Industri Kreatif Masa Kini

///Aryanto Salim: Industri Kreatif Masa Kini

Aryanto Salim: Industri Kreatif Masa Kini

Aryanto Salim merupakan seorang graphic designer sekaligus founder dari salah satu digital imaging studio terkemuka di Jakarta, Apix10. Lewat wawancaranya dengan Redaksi TitikDua, Aryanto Salim membagikan pengalaman serta pandangannya akan perkembangan bisnis di dunia industri desain lokal kedepannya.

Secara umum, apa itu Apix10?

Apix10 merupakan company yang berfokus pada photo editing dan digital imaging. Apix10 berdiri pada Januari 2014, berarti kurang lebih sudah 4 tahun berdiri. Biasanya kami menangani client komersil, namun terkadang kami juga mengerjakan project non komersil dan project 3D modelling.

Sebenarnya ada beberapa perdebatan juga mengenai digital imaging. Yang sering muncul dan menjadi pertanyaan adalah ‘apakah Apix10 bergerak di digital imaging atau 3D?’ dan jawaban saya, ‘Apix10 itu CGI, dan CGI menurut saya bukan hanya 3D, Namun CGI itu luas sekali bidangnya meliputi digital imaging dan 3D.

Film editing dan sound editing itu juga bisa dibilang CGI. Karena apapun yang diolah melalui komputer, output-nya akan menjadi CGI.’ Jadi, digital imaging dan photo editing yang memakai olahan komputer itu termasuk ke CGI, dan Apix10 memang lebih menjurus kesana. Pada intinya, ini adalah suatu kesatuan yang sama, yang membentuk sebuah visual creation.

Bagaimana awalnya Kak Aryanto merintis Apix10?

Saya memang suka dengan hal-hal yang berbau visual creation, dulu saat saya masih bekerja di agency sebagai art director saya bertugas untuk memikirkan ritme dari visual. Setelah lama berkutat disana dan melihat perkembangan industri desain yang kian dinamis, akhirnya saya merintis studio digital imaging sendiri yaitu Apix10

Menurut Kak Aryanto, apa yang membuat calon klien memilih Apix10 untuk mempercayakan dan mempromosikan iklan mereka?

Dalam membuat iklan, ada suatu proses yang kompleks dari hubungan antara klient – agency dan print production. Untuk keperluan ideasi, brief, dan hal lainnya seperti itu, biasanya akan ditangani oleh agency. Dari agency sendiri, dalam urusan eksekusi seperti fotografi, editing, dan modeling-nya itu harus benar benar memakai resource yang original, tidak boleh sembarang ambil dari Google. belum lagi ada pencetakan outputnya, layoutingnya.

Calon klien tidak mau ambil pusing untuk mengurus hal ini, sehingga biasanya akan ‘dilempar’ lagi ke tender yang lain. Itulah mengapa Apix10 dipercaya, karena kita sudah memiliki rekam jejak serta koneksi ke agensi – agensi lain. Banyak agensi yang bergerak di bidang yang sama seperti Apix10. Tapi untuk yang berbentuk kantoran seperti ini masih jarang, setiap agensi memiliki karakteristiknya masing-masing. Kesimpulannya, Apix10 dipilih karena client merasa cocok melalui brief dan portofolio yang sudah pernah dibuat.

Bagaimana cara pembagian brief di Apix10? Apakah dilakukan secara berkelompok?

Bisa dibilang seperti itu, per grup biasanya menangani beberapa brand sendiri, namun tetap di controlling dari saya.

Sebagai pemimpin Apix10, apakah semua pegawainya harus mengikuti satu style pemikiran Kak Aryanto ?

Kalau saya mengarahkan karyawan saya untuk open-minded, sih. Ya, saya mendidik mereka untuk memahami brief-nya, meminta mereka untuk menyumabng ide secara mandiri untuk pengembangan treatment dan brief yang sudah diberikan oleh klien. Karena jikalau karyaawan saya hanya menurut mentah-mentah kepada brief dan tidak dikembangkan, itu namanya bukan visual artist, tapi tukang atau operator.

Apakah Apix10 terlibat dalam pembuatan konsep dan ideasi?

Tetap dilibatkan, namun terlibatnya secara tidak langsung. Misalnya, layout dan ide sudah kami terima melalui brief, dari brief itu kami olah dan didiskusikan dengan tim kreatif mengenai eksekusi. Eksekusi terbaiknnya adalah bagaimana cara menyesuaikannya dengan timeline pengerjaan yang cukup singkat, kami akan berdiskusi mengenai cara pengerjaannya. Selain dengan tim kreatif, kami juga berdiskusi dengan fotografer.

Apakah Apix10 melakukan pemilihan terhadap klien?

Apix10 tidak pernah memilih-milih dalam menerima klien, Namun, pengecualian terhadap klien-klien yang meminta dibuatkan project namun memberi budget yang tidak rasional dan sangat minim. Jikalau klien berani memberi budget yang memang sesuai, kami juga siap. Baik komersil maupun non komersil.

Siapa yang menentukan dalam penghitungan budget?

Lebih ke saya sebenarnya, karena harga itu sesuai dengan layout, dan sering juga klien meminta red card (list harga), tapi kami tidak kasih karena kita harus melihat layout dan konsepnya terlebih dulu. Semakin kompleks yang diminta, semakin tinggi pula harganya.

Bagaimana cara meyakinkan klien soal konsep yang kita miliki?

Dari briefing, kami berdiskusi dengan client dan juga agensi. Banyak yang kami bahas, contohnya treatment yang akan digunakan. Seperti misalnya, konsep kita akan membuat background 3D, kita akan menjelaskan mengenai 3D itu sendiri ke client, mulai dari pengertian awal hingga hasil jadinya.

Apa kendala yang paling berat ketika berhadapan dengan klien?

Klien yang agak error, biasanya klien yang memiliki layer (pimpinan). Ketika kita berhadapan dengan anak buah (dari perusahaan klien), sudah di-approve, namun ditolak sesampainya (hasil karya) pada pimpinan. Kesalahannya adalah seharusnya pimpinan ikut mengambil bagian dalam pengerjaan proyek tersebut, banyak kejadian ketika pimpinan tertinggi sudah melihat hasil akhirnya, namun ditolak, padahal proses pengerjaan itu panyak. Harusnya kita bekerja sebagai partnership, bukannya jadi teman kerja, kita malah dianggap sebagai ‘tukang.’ Dampak di kita pun menjadi banyak perubahan.

Menurut Kak Aryanto, bagaimana perkembangan industri desain sendiri?

Kalau di bidang desain sendiri, Kantor-kantor yang seperti Apix10 biasanya bisa dihitung jari, mungkin hanya ada 3 perusahaan di Jakarta. Karena di Indonesia yang kebutuhan akan editing sudah sangat luas. Editing bukan hanya untuk kebutuhan komersil saja namun juga non- komersil, misalnya seperti acara wedding. Itu sudah mulai beralih ke photo manipulation dan editing sudah tidak harus memakai equipment atau property sehingga banyak muncul para pekerja lepas ( freelancer ) editing. .

Sekarang juga merupakan zaman digital yang semuanya serba mudah, termasuk mengunggah dan membagikan foto, Instagram pun sekarang memiliki jasa untuk photo editing, bahkan ada jasa fotografer, followers-nya pun terbilang banyak. Bidang digital imaging pun bisa bergerak di situ walaupun bukan untuk kepentingan komersial.

Perubahan jelas juga terlihat di sisi budgetting. Kalau dulu di dunia kerja, advertising bisa dibilang paling glamor. Gaji orang-orangnya pun paling tinggi, tapi sekarang sudah tidak seperti dulu, karena memang di advertising, ada namanya disruption perubahan media lama ke next media seperti televisi, radio atau print ad menjadi berbasis media sosial dan online.

Entah kenapa, di era digital ini banyak klien yang mengaggap pembuatan sebuah digital imaging itu tidak memerlukan budget yang besar, dan dampaknya itu ke kami. Misalnya, banyak klien yang meminta desain, tapi menginginkan harga yang murah dengan beralasan ‘hanya untuk digital.’ Padahal proses pengerjaannya pun sebenarnya sama.

Mungkin dari sisi klien, desain berbasis media digital itu low budget, beda dengan print ad ataupun TV Commercial. Banyak agency yang membuka jasa digital, dan itu cukup membuat para advertising terdepak. Semenjak era digital, semuanya berubah drastis. Bahkan sekarang pun ada agency yang bekerja khusus iklan Instagram.

Dampak perubahan atau disruption itu mulai ada sekitar 5 tahun yang lalu, namun pengaruhnya baru terasa sekitar 2 tahun yang lalu. Mungkin dulu budget dari advertising agency lumayan besar, tapi sekarang sudah menurun karena kliennya tidak berkenan apabila harga yang ditawarkan terlalu tinggi, dibandingkan dengan digital.

Lalu bagaimana cara Apix10 menangani eksistensinya?

Ikut berbaur melalui media sosial. Basically, platform pertama itu dari situs web. Di zaman ini, semua orang tidak lepas dari media sosial, jadi, kita memanfaatkan sosial media untuk tetap menaikkan eksistensi.

Apakah ada regulasi atau tindak lanjut khusus dari pemerintah?”

Sepertinya sih belum ada, kita harusnya membentuk sebuah forum diskusi atau pengajuan untuk dapat ditindak lanjuti ke Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) yang mungkin dari situ bisa disampaikan duduk perkaranya dan solusinya ke pemerintah.

Apa tips untuk para desainer untuk pengembangan brief?

Pahami dulu brief-nya, kemauan kliennya seperti apa, karena background saya adalah advertising, saya sudah mengetahui treatment yang pas berdasarkan layout yang sudah diberikan. Harus memperhatikan detil hingga faktor-faktor yang mau ditekankan. Itulah pentingnya memahami brief.

Jurnalis : Faizah Amrina

Editor : Deynadia Ali

By | 2018-03-15T20:43:59+00:00 March 15th, 2018|Medium, Posts|Comments Off on Aryanto Salim: Industri Kreatif Masa Kini

About the Author: