Does Originality Really Even Matter?

///Does Originality Really Even Matter?

Does Originality Really Even Matter?

Rukii Naraya atau yang akrab dikenal dengan Komikrukii adalah seorang seniman yang aktif membagikan karyanya melalui sosial media khususnya melalui platform Instagram. Rukii Naraya yang memiliki latar belakang pendidikan sastra, ia berhasil mengambil perhatian massa melalui komik yang mampu menceritakan suatu kejadian atau isu yang sedang terjadi. Melalui pengalamannya, Rukii Naraya berbagi sudut pandangnya mengenai batasan suatu klaim dan referensi dalam industri kreatif pada tim Jurnalis TitikDua.

Sudah berapa tahun Kak Rukii menggeluti bidang ilustrasi?

Saya memulai ilustrasi atau gambar-gambar, bukan secara profesional itu dari kecil. Dari kecil memang sudah hobi menggambar, tapi kalau (ilustrasi) profesionalnya itu setelah kuliah.

Apakah Kak Rukii memiliki idola yang mempengaruhi art style seperti yang sekarang?

Waktu saya kuliah, kalau menggambar itu saya suka (dengan art style) Audrey Kawasaki. Lalu Jean Julien dari Perancis. Saya suka (dengan karya) Jean Julien sejak dulu, secara tidak langsung juga mempengaruhi (art style) saya, art style Julien itu bersifat sarkasme.

Sebelum menjadi illustrator, apa pandangan Kak Rukii mengenai batasan dalam pengambilan referensi? Apakah ada trik-trik tertentu?

Dulu saya suka ambil foto dari internet, lalu saya jadikan bahan untuk gambar. Saat itu saya tidak sadar bahwa apa yang saya lakukan itu kurang baik, karena secara tidak langsung saya membuat karya berdasarkan karya orang lain tanpa izin.

Mungkin karena saya kurang informasi tentang hal itu, sampai akhirnya tersadar setelah dari obrolan-obrolan dengan teman-teman, senior-senior, bahwa dalam proses pengambilan gambar referensi itu, saya perlu meminta izin dari pemilik foto tersebut. Dari situ saya mulai membuat foto refrensi sendiri.

Misalkan saya butuh gesture A, saya akan foto sendiri, atau kadang bikin sendiri secara langsung (tanpa referensi foto). Lalu, saya beli wooden human mini mannequin itu yang nantinya bisa difoto seandaikan butuh gesture yang agak kompleks, tapi sebenarnya, menurut saya (teknik) itu juga kurang baik (penerapannya).

Teknik yang baik itu kan seharusnya bisa membuat model itu sendiri tanpa bantuan foto. Saya  orangnya memang agak pemalas, tidak mau belajar dan tidak mau ngulik tentang teknik dasar ilustrasi. Jadinya suka instan aja, (saya) pakai foto, namun itu tadi, mulai menggunakan foto hasil potret saya sendiri.

Menurut Kak Rukii, apakah penting bagi seorang illustrator memiliki style yang orisinil?

Mungkin sebaiknya kita lebih memikirkan ide atau wacana ketimbang style. Untuk style saya sendiri sudah tidak mempedulikan hal itu.

Lucu aja ketika orang masih menanggapi sebuah karya seperti, “ih, gambar ini mirip dengan gambar itu”, dunia ini rasanya terlalu luas untuk harus membanding-bandingkan hal itu. Lagi pula, setelah dunia teknologi semakin maju seperti sekarang ini, dimana semua orang bisa sangat bebas mengakses informasi, semua orang bisa sangat mudah terinspirasi yang kemudian secara sadar atau tidak akan mempengaruhinya berkarya. Sekarang semua serba referensi, rasanya orisinallitas (dalam hal style gambar) perlu ditanyakan lagi, atau bahkan ya sudahlah.

Berbeda dengan wacana atau ide yang terus berkembang seiring berjalan waktu dan bekembangnya alam semesta. Ide ini muncul dari ide yang itu, wacana itu muncul dari permasalahan yang ini yang kemudian menjadi ide baru menjadi kemungkinan solusi baru atau cerita yang baru. Setiap manusia memiliki ceritanya masing-masing. Bukankah lebih menarik membahas cerita-cerita tersebut? Ketimbang berhenti di tempat karena gak selesai-selesai ngomongin siapa yang pertama kali membuat style ini atau itu?

Menurut kak Rukii, apakah ‘halal’ jika mengambil gambar tersebut hanya untuk latihan?

Saya dulu juga begitu. Membuat komik Doraemon dengan versi cerita yang dibuat sendiri. Membuat karakter sosok dengan referensi Son Goku atau Vegeta. Tapi semua itu dilakukan untuk konsumsi pribadi. Tentunya akan berbeda jika saya memperjual-belikan karya tersebut.

Sebenarnya ada yang menjadi pertanyaan buatku sendiri, yaitu tentang fanart. Banyak sekali karya fanart di Indonesia ini. Orang–orang bebas membuat karya dengan referensi karakter yang sudah ada. Pertanyaannya apakah mereka memiliki izin untuk itu? Sebenarnya ini agak berbahaya seh.

Jika karakter yang dijadikan fanart itu punya lisensi yang ketat, bisa sampai berurusan dengan hukum. Di Indonesia walaupun sudah ada UU-nya memang belum seketat di luar, tapi etikanya jika ingin membuat karya fanart, sebaiknya meminta izin terlebih dahulu kepada pihak yang memiliki copyright-nya.

Bagaimana cara menyikapi pemilik karya yang tidak me-notice ajakan kolaborasi kita?

Berarti kita tidak usah memakai karya orang tersebut (untuk menghindari masalah). Ada cara lain untuk berkarya, cara yang baik (daripada harus plagiat).

Bagaimana pandangan Kak Rukii terhadap penggemar yang art style-nya mengikuti kak Rukii?

Jujur saya jadi bangga. Wah, saya bisa jadi inspirasi orang lain, bukankah itu sesuatu yang keren? Hehehe.

Hmmm, mungkin kalau buat orang lain saya salah, tapi kalau saya sudah membuat suatu karya dan saya publikasikan, (karya) itu sudah saya jadikan milik masyarakat, karena saya berkarya bukan hanya untuk saya, tetapi untuk orang lain juga. Misalnya, saya bikin komik, saya berkarya untuk menyampaikan pesan ke masyarakat, Nah jika orang lain menggunakannya, saya biasanya memperbolehkan.

Bagaimana jika ketika orang itu menjual karya tersebut?

Jika terjadi jual-beli menggunakan karya saya tanpa izin, tergantung (latar belakang) orangnya seperti apa. Apabila permasalahan itu muncul dari sebuah perusahaan, yang menjual karya saya, mungkin saya akan tuntut. Karena sekelas perusahaan, seharusnya mereka tahu hukum dan hak cipta.

Tapi kalau teman seperjuangan, lebih diajak ngobrol aja, atau mengubahnya jadi kolaborasi. Saya bukan orang yang akan langsung menilai orang, saya akan lihat dulu (perilakunya). Dulu pernah ada kasus yang di-notice oleh netizen, saya di-tag oleh jasa gambar di jaket yang mengambil karya saya. Penyedia jasa tersebut tidak tahu kalau karya itu adalah karya saya, karena tidak ada informasi dari kliennya. Pada akhirnya saya cuma meminta untuk mencantumkan kredit saja, hehe.

Kemarin juga ada kasus kak Diela Maharanie, dan dia post di Instagram story untuk mungkin peringatan?

Waktu kasus penggunaan karyaku juga, aku mem-posting di Instagram story, maksudnya ini supaya orang yang melakukan tindakan kurang baik tersebut notice juga dan menghubungi saya duluan.

Saya jarang mengejar-ngejar langsung, saya mengharapkan dia  yang menghubungi saya jika masih memiliki etika baik. Kalau ada kasus seperti ini, mungkin ada kesalahpahaman, dan kita bisa memperbaiki hal tersebut.

Tapi memang kadang ada juga segelintir orang yang niatnya memang mau mencuri karya orang lain. Kalau udah seperti itu, baru deh harus dilakukan tindakan tegas.

Membuat komik atau ilustrasi buat saya bukan pekerjaan utama (yang bisa menghidupi saya). Kadang, saya tidak ingin ilustrasi atau komik saya ini jadi merusak mental saya, misalnya banyak orang yang menggambar dalam jumlah banyak, saya tidak mau (seperti itu), karena saya akan terbelit dengan deadline yang banyak (juga). Saya menggambar karena memang suka, kalau orang lain juga suka (dengan karya saya), itu bonus (untuk saya).

Apakah Kak Rukii bersedia untuk berbagi tips kepada pembaca mengenai batasan ekspresi dan klaim?

Hmm, mungkin saya bisa berbagi dari pengalaman saya. Dulu itu saya banyak banget inginnya. Saya ingin bikin karakter seperti gambar ini, saya ingin bisa bikin karakter seperti karakter yang ini, atau bisa seperti karakter itu pada akhirnya saya tidak merasa puas karena pada akhirnya saya hanya jadi pengikut.

Lalu seperti yang sudah saya ceritakan tadi, saya sudah tidak lagi ngulik style gambar, melainkan mempelajari bagaimana cara seniman-seniman itu mempresentasikan wacana lewat karya-karyanya. Bagaimana kehidupan anak-anak lewat karakter Shincan atau Kobochan, atau bagaimana naskah konspirasi cerdas di komik 21st Century Boy.

Jadinya, saya lebih banyak belajar

“Gimana sih cara bikin cerita yang baik?”

“Gimana sih cara bikin plot yang baik?”

“Gimana cara bikin twist?”

Lalu untuk mengejar hal itu, saya mencari referensi dengan membaca buku, baca graphic novel, komik-komik, menelusuri gimana cara mereka membuat ceritanya. Jadi bukan ke teknis gambarnya. Di lingkungan saya yang terlihat komik-komik yang muncul dan tren adalah komik-komik receh. Dan saya tetap di berada jalur saya.

Lucunya, suatu hari saya membaca orang-orang berkata, ‘Oh ini rukii banget nih ceritanya, oh ini rukii banget nih gambarnya’. Di situ saya baru sadar, “Oh begini toh, karakter gambarku.” Lalu saya tetapkan untuk terus menggambar seperti itu. Dan Komikrukii hadir sebagai bentuk media kegelisahan saya terhadap kehidupan sehari-hari.

Apa kesan dan pesan dari kak Rukii untuk illustrator yang masih merintis (karir)?

Saya pernah ikut suatu talkshow, salah satu pembicaranya (saya lupa namanya) ada tiga hal yang harus dipunyai seorang creator. Dari tiga ini, jika kamu punya dua hal itu, kamu sudah cukup baik untuk menjadi creator.

Pertama tepat waktu, kedua skill, ketiga attitude.

Pilih di antara tiga ini, minimal dua. Kamu akan menjadi ilustrator atau creator yang baik. Namun hal  tersebut baru sekedar “baik” ya. Contohnya, kamu memiliki skill yang bagus, dan kamu adalah orang yang tepat waktu. Itu orang manapun akan suka karena kamu memiliki skill dan attitude yang bagus.

Lebih bagus lagi jika kamu memiliki ketiga-tiganya. Kalau cuman satu, itu akan jadi masalah. Skill kamu biasa aja, dan kamu tidak pernah tepat waktu, walaupun kamu adalah orang yang baik. Tapi tetap saja, kamu tidak akan di-hire lagi untuk kerja.

Perlu diingat, skill sebagus apapun tapi attitude buruk, siapa yang mau berkolaborasi? Itu selalu jadi pecutan buat diriku sendiri hingga saat ini. Gimana cara mengembangkan attitude baik, skill juga dikembangin.

Jurnalis: Faizah Amrina, Raihan Rakha

Editor: Deynadia Ali

By |2018-11-28T20:01:17+00:00November 28th, 2018|Light, Posts|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.