Design bukan hanya sekedar kegiatan menuangkan ide kreatif saja, dibutuhkan perencanaan matang dan detail layaknya koki sedang memasak. Hal itulah yang diyakini oleh Nico A. Pranoto, seorang branding-consultant dan creativepreneur dibidang identity/ desain grafis yang juga pendiri studio “the designkitchen”.

Lewat konsep pemikiran, perjalanan dan pengalamannya di industri kreatif selama kurang lebih 25 tahun, Pak Nico berbagi pandangannya terhadap fenomena Plagiarism yang sering marak di industri desain.

Berikut hasil perbincangan kami dengan Nico Pranoto :

Bagaimana awal mula bapak merintis The Design Kitchen ini hingga terbentuk seperti sekarang ?

Berawal di tahun ’95 saat bekerja sebagai art director di sebuah multinational ad-agency, J. Walter Thompson hingga tahun 2000, kemudian dari tahun 2000-2002 saya berpartner mendirikan sebuah advertising agency dan design grafis studio bernama SIJI Communication. Selama itu pulalah saya berkesempatan untuk membantu mendevelop karya beberapa brand seperti Astra Otoparts (GS Battery), Aksara Bookstore, Honeysoft, Indovision, Mayora, Sadikun Niagamas, Shell lubricants, Sogo Dept. Store (MAP), dan berbagai kegiatan iklan secara kecil-kecilan. Dikarenakan saya tipe orang yang passionate banget, jadi saya memutuskan untuk mengejar sesuatu yang lebih berasal dari dalam diri saya, what I really
love and capable of, yang akhirnya mengarah ke branding dan bukan ke advertising lagi.

Pada 2003 sampai dengan 2009, saya berjalan sendiri sebagai independent brand identity specialist, dengan bendera banana, inc. dengan mulai mengikuti passion (panggilan utama) saya untuk mencipta karya identitas visual bagi berbagai perusahaan lokal. Adorama Photo, Bank BP, Hoka-Hoka Bento, Klub Kelapa Gading, Charoen Pokphand adalah beberapa klien awal yang mempercayai saya dengan beberapa project. Menariknya adalah saat dipercaya membantu launching identitas, exkspresi dan sampai ke komunikasi brand, juga Bank Niaga Syariah, mulai dari stationery design, berbagai penerapan identitas dan sampai ke buku tabungan, bahkan kartu kreditnya disamping kegiatan above the line + below the line.

Selepas tahun 2008, tepatnya di awal 2009, saya bersama beberapa 2 rekan asosiasi, mencoba untuk mencipta sebuah brand consultancy with a more sistematic concept & a restaurant-theme, yang siap melayani berbagai lokal brand, baik UKM maupun corporation. Dipilihnya nama cocinero design, d(cocinero bermakna chef/ juru masak in spanish), kami memiliki prinsip/ filosofi dasar “making brand is like cooking”. Suatu perjalanan yang sungguh luar biasa, saya bersyukur telah dapat memformulasikan “a simpler theory for authentic branding creation” (the 5i’s chef recipe), selain itu, juga medapat kesempatan/ kehormatan menangani beberapa klien seperti Agung Sedayu Group, Argo Manunggal Group, BCA, SinarMas Group, Charoen-Pokphand group, Compro, Balikpapan Superblok, the Darmawangsa Square, Hadiprana, Hewlett Packard, Indesso, TMT Trakindo, dan banyak lainnya.

Sejak 2017, saya merevolusi perusahaan dan melakukan rebranding menjadi the designkitchen

Kenapa memilih nama The DesignKitchen sebagai nama studionya?

mendesain merupakan sesuatu yang krusial dan terkonsep, layaknya memasak.

Akan lebih ekfektif, dan pada saatnya menjadi sangat efisien, untuk memiliki pola yang simple dan teruji saat bekerja, baik sendiri maupun bersama tim. In cooking and designing, you need to define the taste first… only after finding out the initial taste in mind as the main goal, we then investigate... belanja ke pasar, mencari bahan-bahan yang dibutuhkan secara terarah. berikutnya adalah memformulasikjan menjadi sebuah resep (brand strategy creation), Baru kemudian kita dapat mulai ‘memasak’nya, lewat ideation design process. Langkah terakhir dari rangkaian proses memasak branding ini adalah “table presentation” dan “food-tasting” yang merupakan pengimplementasian design pada media akhir.

Semenjak awal tahun 2018, saya mengorientasikan studio kami untuk hanya menangani beberapa pekerjaan branding dari klien yang benar serius dan memiliki kepercayaan penuh terhadap proses. Setahun belakangan, kami menyeleksi hanya 6 project yang ditangani, namun cakupan outcome pekerjaan yang lebih luas/ lengkap. Kami berbahagia dipercaya menggarap project-project yang berskala menyeluruh.

Catatan samping saja, sebagai desainer kita dituntut untuk bisa bekerja secara sistematis, struktural, kolaboratif dan yang terutama, objektif. Sistem/ struktur project jelas terlihat dari mulai awal proses pembuatan konsep, ideasi hingga hasil jadinya. Kolaborasi acap muncul saat kita dituntut untuk bekerjasama dengan pihak lain (dalam berbagai bidang kreatif) guna menyelesaikan project tersebut, Fotografer, 3D-Artist, Arsitek, Produk design, dan lainnya. Untuk urusan objektif tentu saja merupakan fungsi utama dari desainer, karena pada akhirnya kita selalu berupaya memberi segala solusi yang sifatnya non-subyektif

Solution oriented, bukan sekedar ekspresi.

Karena itu, kita mesti paham klien ini ada permasalahannya apa, yang sebetulnya diinginkan, baru kita bisa rancang solusinya dengan efektif. Adapun baik untuk tetap berhati-hati dengan apa yang dikatakan atau dijabarkan oleh klien, tak jarang apa yang diinginkan klien berbeda dengan apa yang (seharusnya) dibutuhkan. Terkadang klien mau desainnya sesuai hanya sama seleranya dia atau yang dia kepengen saat itu, padahal berdasar studi terhadap brand mereka, seharusnya desain yang menjual adalah desain yang dibutuhkan untuk masyarakat, oleh penggunanya.

Menurut Pak Nico seberapa penting suatu referensi dalam pembuatan suatu karya desain?

Sangatlah penting. I’m sure that everyone pasti membawa referensi dalam mencari solusi, tak terkecuali juga bagi seorang desainer. Tapi sama kayak kehidupan sendiri. You cannnot find solution that only quick fix. Bagi saya pribadi, itu adalah salah satu cara atau mungkin tuntutan bagi seorang desainer itu sendiri untuk menemukan yang namanya solusi.

Yang jadi tantangan adalah, ketika pola pikir manusianya yang mulai memainkan pembenaran, manipulatif. Misalnya dalam ranah design/ agency yang ingin membantu menyelesaikan masalah klien, namun dapat menghalalkan segala cara untuk memenangkan ide.. Akan jadi masalah jika yang melakukanya berjiwa manipulatif, nekad untuk pinjam (curi ide), sana sini, mengklaim hal-hal yang bukan karyanya, menjalani proses tanpa integritas, menyanggupi sesuatu tapi belum tentu memiliki kemampuan, atau berkarya hanya berdasarkan brief tanpa benar-benar memikirkan solusi yang seharusnya.

Karenanya dalam proses desain ada yang namanya inisiasi, asistensi, meeting, aliansi dan koordinasi, agar kita sebagai perancang memahami benar pokok permasalahannya & solusi terbaik yang diinginkan. Perihal referensi, kita gunakan sebuah referensi apabila kita sudah mengetahui apa yang mau kita lakukan, tawarkan, berikan. First thing first you have to know what you want, or what to do! Jangan sampai menjalankan sembarang yang orang mau tanpa tahu alasannya, selalu lakukan dengan norma dan etika.

Contoh lain adalah saat saya membimbing TA mahasiswa semester akhir, sering menjadi perhatian bahwa tak sedikit mahasiswa yang “asal-asalan” memakai buku karangan orang lain, tanpa memahami betul tujuan studinya apa. Jadilah buku buku yang sangat basic/ dangkal dalam pengkajian yang dijadikan referensi, objectivenya mengerjakan identitas, padahal permasalahan dan solusinya bukan cuma logo atau tipografinya semata, sayang sekali, padahal bisa digali lebih dalam dengan referensi yang lebih spesifik dari itu. Kalo referensinya salah, akan berpengaruh juga kedalam hasil dan solusinya.

Selain soal referensi, biasanya yang terjadi juga dalam industri desain adalah permasalahan soal klaim dan plagiarism, bagaimana Pak Nico memandang hal tersebut?

Referensi tanpa mencantumkan asalnya adalah kegiatan plagiat…
Referensi yang digunakan dengan bijak adalah pahala bagi semua…

Zaman sekarang kita juga sudah biasa terekspos dengan digital teknologi, segala sesuatu menjadi lebih mudah… disaat bersamaan menjadi “lebih rumit” pula. Inipun berpengaruh terhadap klaim. Saat mencari referensi semua dimudahkan, dan lebih bebas. Namun, “the bigger the freedom, the greater the responsibility too!” satu ungkapan nyata (yang jika tidak saya masukkan kreditnya kepada peter parker, atau ben parker, maka saya juga tidak bijak dan dapat di’claim’ menyalah-gunakan phrase-reference. Sudah saatnya, kita sebagai profesi dan sebagai pribadi, yang berkarya, yang mencipta, yang merancang, mulai menggunakan referensi dan klainm dengan baik dan tepat.

Negri ini sangat luas, sangat banyak penduduknya, sangat lebar industrinya, ingin apa saja ada, dan akhirnya juga mungkin itu yang menyebabkan kita menjadi serba susah untuk mengklaim macam-ragam karya. Selaku praktisi dan juga bergelut paruh waktu kepada dunia pendidikan, saya selalu mengajarkan, mengingatkan dan membudayakan integritas. Jangan berani mengklaim karya yang bukan kreasi kita. Percuma jika kita menjadi keren, atau beken if only living a lie… life without integrity!

Dan by the way, bukankah jika kita melakukan plagiat itu sama aja dengan merendahkan martabat dan harkat kita sendiri?

Menurut bapak, bagaimana seharusnya menagani permasalahan soal klaim dan plagiarism ini?

Klaim itu sudah selayaknya dibudayakan dengan mental-attitude: “pay credit to where it is due.” (beri penghargaan/ pujian kepada yang memiliki hak). Salah satu contoh adalah ketika saya harus submit beberapa karya yang dibukukan Rockport Publishing untuk Logo-Lounge Series book. Saat hendak meng-upload karya, kurator penerbitnya consistently akan bertanya ‘apa konsepnya? Title of project-nya?’, brand narrative-nya apa, creative director-nya siapa, project director-nya, art directornya, desainer grafisnya, dan seterusnya. Dari situ dapat dipahami bahwa fungsi ini adalah untuk memberikan perlindungan terhadap karya yang kita buat agar tidak asal diklaim.

Apakah ada persyaratan tertentu untuk mengetahui sampai dimana batas-batas suatu karya desain disebut plagiarism atau bukan ?

There’s Nothing new under the sun. Tak dapat dipungkiri bahwa sebuah logo itu dapat memiliki kesamaan dengan brand lain-nya, terlebih jika kita membahas suatu expression dan communication design (wajah anak-anak muda di beberapa bangsa asia sangat mirip dan dapat ditoleransi orang banyak). Style sebuah brand boleh mirip, namun bukan sama, dan tidak dengan menjiplak tentunya. Dalam penerapannya, profesi kita sangat berperan dalam menentukan jawaban & tindakan untuk choose to be smart dan menjadikan itu sebagai referensi bukan malah jadinya coincidence. Teringat kalimat rekan saya, Sakti Makki yang pada salah satu seminarnya mengatakan “We steal, cheat and lie within our creative Inspiration.”

Semakin banyak kita “meminjam bukan mencuri”, di era komputerisasi ini. Karena era modern-digital ini menghubungkan. Sudah layak kita berpikir, bertindak dan berkarya bijak dalam merefleksikan inspirasi yang kita tangkap dari hasil desain orang lain. Karena pasti ada kemiripan, ada referensi. Cuma memang dari desainernya harus bisa berlaku “fair and smart” dalam menciptakannya untuk tampil berbeda.

Harus kembali kepada nurani kita sebagai perancang visual
pun yang lebih utama, kita sebagai pribadi yang berintegritas

Menurut Pak Nico bagaimana sih cara kita bisa membedakan yang mana yang terinspirasi atau sekedar plagiarisasi?

It’s very simple. Does it have story or not?

Tidak berarti harus selalu ada narasi. Tapi kenapa dipilih warna atau elemen desain itu, adakah relevansi antara servis/ produk dan pesannya . Jika memang nyambung (ada) tapi ada kemiripan dengan karya lain, seberapa besar/ sejauh mana kita menekankan elemen itu pada karya

Jurnalis:

Margareta Lim

Krisdiana Pujiastuti

Editor:

Ammar Farras

Faizah Amrina