Plagiarisme adalah suatu tindakan meniru atau mengaku atas karya orang lain oleh seseorang yang menjadikan karya tersebut sebagai karya ciptaanya. Tanpa dipungkiri tindakan ini sangat dekat dan mudah ditemui di industri seni dan desain hingga saat ini. Pada kesempatan kali ini, redaksi kami berkesempatan untuk berdiskusi bersama Io Woo, praktisi desainer grafis untuk memberikan opini tentang tindakan plagiarism ini.

Beberapa bulan lalu, sebuah lembaga yang terbilang besar ketahuan membuat logo dari template. Menurut anda, bagaimana pandangan anda terhadap kasus plagiarisme ini?

Sungguh terlalu. Memang sangat tipis perbedaan antara “terinspirasi” dan “mencotek”. Ini soal mentalitas kita sebagai manusia sekaligus desainer. Paham akan menggunakan referensi dengan baik dan benar itu menjadi hal yang seharusnya menjadi “concern” kita sebagai desainer. Mungkin saja terkadang kita buntu akan ide atau sedang kehabisan ide, atau bisa saja terburu oleh waktu. Tapi kembali lagi kepada desainernya itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu, ada suatu tindakan plagiarisme dimana si plagiator merasa hal tesebut hanya merupakan referensi. Menurut anda, sejauh manakah batasan dalam menggunakan referensi?

Tanpa kita sadari sebagai desainer kita tidak akan lepas dari referensi. Apa yang kita lihat secara langsung ataupun tidak, akan menjadi memori dalam ingatan kita dan suatu saat bisa saja akan timbul kembali dan ini bisa kita sebut sebagai “referensi”. Persoalan bagaimana batasan dalam menggunakan referensinya adalah sebatas menjadi “inspirasi” saja, tidak lebih tidak kurang. Referensi digunakan untuk memacu otak untuk berpikir kreatif dan mengasah perasaan untuk menciptakan ide atau sesuatu yang setidaknya sedikit berbeda dari apa yang kita lihat tentunya tergantung konten dan objektifnya.

Apa tindakan yang harus kita lakukan bila ada yang memplagiat karya kita?

Yang perlu kita sadar bahwa kita hidup di industri yang semakin kesini semakin terbuka dan segala sesuatu serba mudah didapat, sehingga susah sekali menemukan karya yang bersifat original, yang membedakan adalah karakter dan keunikan karya desainernya. Sebagai desainer, kita harus terbuka dan siap akan diplagiat jika karya kita sudah bisa disebut “sudah berhasil” mempengaruhi. Jika kita sudah yakin akan karya kita, yang perlu kita lakukan dalam melindungi karya kita adalah dengan mendaftarkan karya cipta kita ke badan HKI, sehingga jika suatu saat karya kita di plagiat, kita bisa menuntutnya di jalur hukum. Tetap perihal ini kembali lagi kepada desainernya, mungkin bisa saja kita bisa menegur plagiator yang memplagiat karya kita, tetapi kalau ditanya personal, saya tidak akan ambil pusing karena saya mempunyai keyakinan kalau karya saya ditiru “oh berarti saya bisa mempengaruhi, karya saya berhasil, Bahasa manisnya “plagiat adalah sebuah apresiasi dan penghargaan oleh orang lain terhadap apa yang sudah kita ciptakan”.

Bagaimana cara mencegah karya kita agar tidak ditiru dan tetap memiliki orisinalitas?

Mengaktualisasi diri, menjaga semangat agar tetap berkarya, berkolaborasi, berinovasi, dan terbuka akan hal apapun serta yang paling penting adalah saling menghormati dan mengapresiasi peran kita sebagai sesama manusia dan desainer. Ini bukan soal takut ditiru atau meniru, tapi yang paling penting adalah paham betul peran dan esensi serta etika dalam berprofesi sebagai desainer Indonesia.

Jika anda memiliki mindset sebagai trendsetter, tentunya tidak mudah untuk mencapai pemikiran tersebut. Bagaimana menanamkan pola pikir seperti itu ?

Saya tidak berpikir saya bisa menjadi trendsetter atau orang terkenal yang bisa mempengaruhi, yang menjadi kesadaran dan fokus saya saat ini adalah bagaimana terus dan tanpa henti belajar, fokus pada proses berkarya dan mengembangkan karakter dan perilaku saya sebagai desainer Indonesia. Soal menjadi trendsetter itu soal terakhir, kalau karya kita sudah “layak” toh juga akan berbicara sendiri, tidak perlu teriak. Sebaiknya kita tidak perlu ambil pusing melihat ke kanan atau ke kiri, tetapi tetap fokus melihat kedalam diri kita sebagai desainer.

Bagaimana kita bisa memperbaiki kualitas desain di Indonesia kalau kualitas kita sebagai desainer saja dipertanyakan ?

Pernahkah terpikirkan oleh anda apabila orang yang meniru menjadi lebih sukses dan namanya menjadi besar daripada anda?

Wajar dan pasti terpikir. Jika memang orang tersebut bisa menjadi sukses mendahului saya, ya, tidak apa-apa; toh juga hidup tetap harus berjalan, banyak jalan menuju roma. Yang perlu kita lakukan harus tetap berkarya, berinovasi dan tetap menunjukkan karya kita. Sebagai desainer kita juga harus membuka mata dan membaca peluang akan situasi dan kondisi di pasar, kita harus tahu kapan harus besuara kapan harus mengolah kembali karya kita.

Apakah anda memiliki pesan untuk plagiator?

Ini sebenarnya termasuk isu sensitif. Jadi kita harus bisa membedakan antara terinspirasi atau mencontek. Aksi plagiat dengan alasan apapun jelas tidak bisa dibenarkan. Betul bahwa sebuah karya itu seharusnya bisa dihargai dengan tidak disalin sembarangan, karena mau seperti apapun hasilnya, ada proses untuk menghasilkannya. Toh, tidak ada juga karya yang benar-benar baru, semuanya hanya kutipan, pencampuran dan pengulangan dari apa yang pernah kita lihat sebelumnya. Sekali lagi yang perlu kita garis bawahi adalah sebagai desainer kita harus tahu batasan tentang hal ini, dan paham akan berperilaku serta beretika sebagai desainer.

Jurnalis: Nadia

Editor: Yolia dan Devina