Cinta.

 

Apa yang pertama kali muncul di pikiran ketika mendengar kata tersebut?

 

Sebuah perasaan yang tak berujung tanpa ada penjelasan konkrit. Tentu kita semua pernah merasakannya, entah dalam bentuk fisik atau kenangansekalipun.

 

Di dalam pameran “Concept of LoFe yang dibuka pada tanggal 14 Februari 2019, tepat pada Valentine’s Day, merupakan pameran dari salah satu mahasiswa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) bernama Atho Faruq Fauzan mengangkat tema cinta sebagai fokus utama pameran ini. Atho ingin mengekspresikan berbagai sudut pandang yang berbeda tentang cinta, dan bagaimana setiap orang memiliki konsep sendiri tentang cinta/perasaannya. Mahasiswa kelahiran Jakarta pada tahun 1995 ini bukan menampilkan hasil karyanya melalui pameran ini, melainkan mengumpulkan berbagai barang atau benda dari teman-temannya yang memiliki kenangan tersendiri dari pengalamannya tentang cinta.

 

Cinta. Memori. Kebendaan.

 

Tiga kata yang mendeskripsikan “Concept of LoFe”.

 

Sebagian orang tidak bisa menyuarakan dirinya sendiri tentang arti cinta. Dalam pameran ini, Atho ingin masyarakat memiliki pola pikir yang lebih terbuka tentang apa itu cinta. Dari benda-benda kecil seperti surat yang berisi ucapan selamat lulus, buku novel yang diselipkan sebuah tulisan pernyataan cinta, sebuah tabir surya yang meninggalkan kenangan indah, baju yang pernah dipinjamkan doi, dan banyak benda kecil lainnya yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain, tetapi berarti segalanya bagi sang pemilik benda tersebut. Semua benda yang tak terduga muncul di pameran ini, membuat pengunjung ikut terjun ke polapikir baru tentang cinta. Cinta itu unik, bukan?

 

Benda-benda ini dirangkai dalam beberapa sudut di dalam ruangan pameran tersebut disesuaikan dengan fase-fase yang ada dalam sebuah hubungan. Terdapat sudut pra-hubungan, hubungan, konfrontasi, danrekonsiliasi dengan masing-masing benda yang berkaitan dengan fase hubungan yang menurut Athopenting. Pada satu sudut tertentu, terdapat sudut SuaraKramat” yang merupakan sebuah ‘radio online dadakan’ yang diadakan karena inisiatif mahasiswa IKJ kemudian bekerja sama dengan pameran Atho ini.

Radio ini disediakan untuk mencurahkan isi hati dan membuka sesi untuk rekonsiliasi hubungan via live podcast yang diputarkan selama pameran berlangsung. Menarik, ya?

 

Menurut sebagian orang, cinta juga dapat berarti lain dengan cara yang berbeda dalam mengekspresikannya. Dari niat Atho yang ingin ikut membantu menyuarakan pendapat orang yang tidak berani mengungkapkannya, terbentuklah beberapa buku hasil karya tulis dari sekian banyak orang yang memiliki pemahaman beda tentangarti cinta.

 

Terdapat enam buah buku dengan cara penulisan berbeda dalam rangka mengutarakan perasaan lain tentang kasih sayang, dari bentuk komik, buku puisi, dan buku yang berisi curahan hati penulis. Buku-buku ini dipajang dengan maksud bahwa pengunjung boleh melihat sekilas isi bukunya dan dapat dibeli sebagai tanda apresiasi kepada para pembuat hasil karya seni ini. Harganya berkisar dari Rp 15.000 sampai Rp50.000, yang pastinya cocok untuk dompet mahasiswa!

 

Isi buku yang ditulis oleh mahasiswa IKJ sangat bervariasi dari curahan isi hati yang sedih karena kepergian doi, rasa bahagia ketika masa-masa PDKT, hingga hawa nafsu yang timbul dari perasaan cinta yang dimiliki terhadap seseorang. Banyak sekali hal yang dituliskan dalam buku tersebut yang dapat membuka pikiran kita tentang cinta yang mungkin tidak sekalipun sempat terlintas di pikiran kita, sehingga dapat memberikan dampak positif atau negatif tergantung bagaimana cara kita menerima informasi yang ada.

 

Pameran ini dapat membuka kembali hati yang tertutup karena masa lalu yang kelam dan membuktikan bahwa cinta itu benar ada dalam berbagai wujud atau pun tidak berwujud fisik sekali pun, yaitu kenangan dan memorinya. Cinta bukan hanya sekedar sebuah kewajiban memiliki, sebuah permainan yang selalu bisa dimulai kembali, tetapi juga bukan sebuah perasaan yang mati, melainkan salah satu hal yang paling indah namun paling rumit di dunia ini tergantung cara kita menjalaninya masing-masing.

Jurnalis : Nadia

Editor: Yolia