Sekedar terinspirasi, mencontoh bagian tertentu, atau murni tindakan plagiat, kita terkadang masih sering bimbang, seperti belum ada pembatas yang jelas. Tidak hanya di dalam desain, bentuk tindakan seperti itu juga ditemui dalam bidang apapun yang membutuhkan ide dan kegiatan penciptaan sesuatu. Berangkat dari hal ini, kami ingin membahas plagiarisme dari sudut pandang seorang praktisi sekaligus pengajar dalam bidang perfilman. Pada kesempatan kali ini, kami bersikusi dengan Ibu Rina Yanti Harahap. Beliau adalah seorang pengajar di beberapa universitas dan aktif dalam dunia perfilman sebagai produser film layar lebar di Indonesia. Salah satu film yang di produserinya adalah “La Tahzan” produksi Falcon dan “3 Dara” produksi MNC Pictures. Berikut hasil wawancara dengan beliau yang berusaha kami rangkum.

Bagaiman pendapat ibu rentang website yang menyedikan template desain yang siap pakai?

Ketika kita belajar desain, kita diajarkan untuk membuat suatu karya yang memiliki makna. Saya merasa prihatin dengan para desainer. Maksudnya, para desainer  punya ide, punya kreativitas, harusnya diapresiasi dan dihargai. Karya seni memiliki value atau nilai tambah dengan signature yang di tampilkan secara berbeda oleh para desainer. Sedangkan kita melihat seni tidak hanya sebatas visualnya saja kan?

Bagaimana seorang designer dapat meningkatkan value dalam sebuah desain?

Desain itu sama seperti signature, masing – masing orang memiliki signature-nya sendiri.  Di dalam signature itu sendiri selalu memiliki ciri khas yang berbeda. Contohnye seperti ini, A pergi ke bank untuk menandatangani data tetapi ia menggunakan tandatangan orang lain, apakah bank akan meneriman datanya? Tentu tidak, karna itu bukan tanda  tangan dia. Nah, begitu juga dengan desain ketika kita memberikan karya kepada audience dengan signature kita maka mereka akan menerima dan akan menjaga signature kita dengan loyalitas.

Apa perbedaan dari mencontoh karya orang dengan melihat karya orang sebagai referensi?

Oh, itu beda sekali. Menurut saya, dalam menciptakan sebuah karya harus ada 4 elemen yaitu kita perlu mencontoh, mengamati, meniru, dan membuat inovasi. Misalnya kamu akan membuat sebuah desain kemasan minuman. Untuk memahami bentuk dan ukuran yang baik dalam sebuah produk kemasan, kamu perlu melihat contoh dari produk – produk yang sudah ada. Kemudian kamu amati, oh ternyata produk A warnanya menenangkan. Oh, produk B bentuk botolnya lebih melengkung. Dari situ, kamu meniru dan kemudian kamu berinovasi lagi dari elemen–elemen yang kamu amati.

Seberapa penting riset sejarah desain dalam seni?

Sangat penting.  Dalam dunia perfilman, kita juga melakukan riset karena sangat diperlukan pengetahuan tentang latar belakangnya. Ketika seorang desainer memiliki knowledge dan experience dari latar belakang desain yang akan ia buat,  maka value yang ada didalam desainnya akan semakin kuat dan mudah untuk dipahami oleh audience. Karena riset bukan hanya dari branding, tapi justru latar belakang munculnya sebuah sejarah tersebut.

Itu seperti sesimpel kamu memilih font.  Pada sebuah desain, pemilihan font merupakan hal yang krusial menurut saya. Kenapa? Karena misalnya saya akan membuat judul film. Kalau kamu salah pilih font untuk judulnya, itu bisa merusak konten yang ada dalam film. Sebegitu pentingnya pemilihan font dalam judul film, maka kemampuan dalam meriset desain itu sangat mempengaruhi. Penataan tulisan, besar kecilnya ukuran tulisan, sangat mempengaruhi makna yang akan di sampaikan.

Apakah ibu setuju dengan statement kalau masih belajar harus mencontoh?

Kalau dari pandangan saya, mencontoh itu tidak sama dengan menduplikasi. Misalnya, saya mau berjalan seperti peragawati karena saya ingin saat berjalan semua orang melihat saya. Nah, gimana saya tahu jalan  seperti peragawati kalau saya tidak melihat contoh dia berjalan? Jadi, kalau misalnya pertanyaannya apakah di industri mencontoh? Ya mencontoh, tapi tidak menduplikasi. Contoj itu digunakan hanya sebatas sebagai referensi.

Referensi bukan sekedar buku bacaan, kita juga harus memiliki referensi secara visual juga. Saya tahu bentuk daun, karena saya sudah melihatnya dan orang bilang itu daun. Jadi di otak saya, itu adalah bentuk daun. Ketika saya menggambar daun, saya akan mencontohnya. Tapi ketika saya mengatakan ingin membuat daun versi saya ,berarti saya akan mulai berinovasi  dengan signature saya. Ketika daun yang dibuat hasil inovasi maka hasilnya memberikan sebuah karya seni yang memiliki nilai.

Kalau plagiat itu jelas kesalahan, karena plagiat kamu hanya copy-paste. Nah kenapa plagiat itu salah? Karena ketika kamu mengcopy dan mempaste, tidak ada lagi : 1.nilai kejujurannya; 2. itu merupakan bentuk penipuan terhadap diri sendiri; 3. tidak ada lagi nilai inovasi didalamnya.

Kalau dari pandangan ibu sendiri, bagaimana menyikapi plagiarisme?

Buat saya, plagiarisme merupakan tindakan yang salah. Intinya begitu. Jadi, kalau itu salah, saya tidak akan melakukannya. Kenapa itu salah? Karena saya tahu bagaimana rasanya proses pembuat sebuah karya. Membutuhkan tenaga, pikiran, energi, dan kemampuan. Saya membayar biaya sekolah untuk mencari ilmu. Saya bersekolah juga nggak langsung kuliah, ada yang namanya SD, SMP, sampai SMA. Artinya, saat membuat sebuah karya, saya membutuhkan sejarah dari hidup seseorang. Termasuk ketika membuat karya berupa font type, menentukan font dan size, itu sebuah karya.

Jadi intinya, jangan lakukan plagiat. Kamu tidak menghargai dirimu sendiri sekaligus tidak menghargai orang lain. Karena ketika seseorang membuat sebuah karya, misalnya karya film membutuhkan team work yang berkolaborasi dengan 60-100 orang. Ketika kamu hanya mengcopynya tanpa membelinya, berapa banyak orang diluar sana yang dirugikan karena filmnya dicopy? Jadi intinya, dalam sebuah karya seni menurut saya lihatlah dengan jujur dan ungkapkan dengan jujur. Kamu lihat dulu dengan jujur, terus kamu ungkapkan dengan jujur. Nggak perlu takut karena karya kamu akan diplagiat. Nggak perlu. Kenapa? Karena yakinlah, bahwa karya yang istimewa itu tidak akan bisa diplagiat. Nah bagaimana bisa membuat menjadi istimewa? Maka buatlah signature-mu sendiri.

Seberapa besar dampak plagiarisme terhadap seniman itu sendiri ?

Wah itu dampaknya buruk ya. Maksudnya, kamu kebayang nggak sih, kalau kita ngomongin seni terus kemudian kita berprofesi sebagai seorang desainer? Biaya kuliah untuk jurusan seni tidaklah murah, waktu yang di perlukan untuk mengerjakan tugas hampir 24/7 setiap minggunya, bagaimana kalau dikalikan dengan jam dalam 4 tahun? Itu ribuan. Nah, berapa banyak kamu harus merasakan kerja keras, kegalauan, ngomel-ngomel dan berbagai rasa yang dirasakan ketika ngerjain tugas kampus?

Artinya, kalau kita ngomongin dampak, dampaknya jadi besar sekali buat si desainer. Karena uang, waktu, dan pikiran yang kita keluarkan untuk menjadi seorang desainer tidaklah sedikit. Kalo karyanya di plagiat orang lain, apakah ia akan dibayar oleh si plagiat? Tentunya tidak. Makanya plagiarism harus di basmi. Bagaimana karya seni bisa berkembang kalau plagiarisme masih terjadi?

Pesan untuk para plagiarisme?

Pesan saya ini tidak untuk para plagiarisme saja, tapi untuk semuanya. Pertama, berkaryalah dengan jujur. Kedua, hargai karyamu apapun itu dan hargai karya orang lain. Ketiga, bangga dengan apapun karya yang kamu buat dan banggalah dengan karya orang lain yang kamu lihat. Karena, dengan kamu bangga, kamu akan menjaga karya itu bukan lagi sekedar karya orang, tapi karyamu, dan karya bangsa negaramu. Jadi itu penting banget, karena kalau kita bangga sama karya kita, maka kita juga bangga untuk memperkenalkannya, dan kita merasa malu apabila masih ada orang yang mau memplagiat karya kita. Artinya, kita kurang memberikan edukasi, sosialisasi kepada lingkungan kita agar tidak terjadi lagi plagiat tersebut.