Elaboras(A)

///Elaboras(A)

Elaboras(A)

“Elaboras(A)” adalah pameran penciptaan karya seni rupa yang diselenggarakan Universitas Negeri Jakarta. Pameran ini diselenggarakan pada tanggal 20 sampai 31 Januari 2017, bertempat di Senopati 79, Jalan Suryo, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.  Pembukaan acara ini berlangsung pada tanggal 19 januari 2017.

Selain pameran karya seni rupa, acara ini juga mengadakan berbagai rangkaian workshop, antara lain: workshop watercolor, origami, dan digital painting. “Elaboras(A)” sendiri diisi oleh para kontributor yang berasal dari mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Jakarta. Para kontributor tersebut di antaranya: Abi Rafdi Aufar, Deya Ayu Defrilia, Eti Kurniasih, Nur Hayisa Oktariza, Pramudia Wiguna, Rizky Hadi Kusuma. Mereka menampilkan karya yang juga merupakan tugas akhir mereka, mulai dari origami, karya pointillism, karya fotografi, dsb.

“Elaboras(A)” sendiri bermakna kolaborasi karya antara tiga angkatan berbeda dari Universitas Negeri Jakarta. Pameran yang biasa diselenggarakan dua kali dalam setahun ini tidak ingin hanya menampilkan karya dari satu angkatan saja, namun tiga angkatan berbeda dapat berkolaborasi menampilkan karyanya masing-masing.

Salah satu dari rangkaian workshop yang berhasil diliput oleh Titik Dua adalah workshop Watercolor Illustration pada hari Senin, 23 Januari 2017. Pada kesempatan kali ini kami mewawancarai Bagas Nurrochman selaku mentor workshop, sesuai dengan tema Titik Dua: Kemiskinan Mahasiswa.

Untuk mencari inspirasi, kakak biasanya mencari referensi dari mana sih?

  • Kalo referensi biasanya gue sering datang ke pameran-pameran seni. Tapi sih kalo jaman sekarang, referensi udah banyak ya dari media online. Biasanya gue melihat referensi dari Instagram dan Pinterest.

Dari setiap karya yang kakak buat biasanya mengandung arti tertentu gak sih? Atau cuma hanya iseng atau hobi saja?

  • Kalo dari karya yang gue buat sih hanya sebagai kebutuhan gue berkarya. Untuk  melampiaskan isi dari hati gue, sebagai hobi juga, tapi lebih ke kebutuhan gue. Kalo untuk sekedar tugas kuliah sih jatuhnya gue cuman kerjain asal-asalan aja. Asal-asalan di sini artinya sekedar asal dapet nilai. Karena kalo dikampus itu kita lebih mirip kaya kuli. Kita ngerjain apa yang dosen mau, karena kalo dikampus itu gue enggak diberi kebebasan untuk mengerjakan karya-karya gua. Karena setiap gue buat karya itu gue pengen karya itu seperti menyampaikan sesuatu. Gue ingin karya gue membuat orang lain senang.

Pernah gak sih didalam tugas kampus kakak mengaplikasikan style gambar kakak?

  • Pernah, dulu waktu di pelajaran tentang sketsa. Dulu gue mengaplikasikannya dipelajaran itu, tapi ketika gue udah gambar capek-capek, yang gue kira sketsa itu biasanya pake pensil, ternyata di mata dosen sketsa itu pakai tinta cina yang hanya di ciprat-cipratin aja dikertas. Gue sudah capek-capek gambar cuma dapet 60-an, sedangkan temen gue yang cuma diciprat-cipratin doang ke kertas bisa dapet 85. Semenjak itu gue sudah kurang respect dengan tugas, dan akhirnya gue jadi mengerjakan tugas sesuai brief dari dosen saja.

Ketika kakak mengaplikasikan style gambar kakak, berhasil atau tidakkah pada saat itu?

  • Enggak, gue termasuk yang gagal untuk itu. Gagal dalam arti kata karena gue harus mengalah dengan dosen. Gue tidak bisa mempertahankan ideologi Jadi gue mengkuti saja arahan yang dosen mau. Kebanyakan dosen mengarahkan untuk seperti yang dia mau,jadi gue hanya bisa mengikuti.

Ilustrator siapakah yang kakak idolakan?

  • Kalau untuk internasional gue suka Kim Joong Ki dari Korea, karena dia sudah jago banget bikin ilustrasi persepektif 2-4 titik hilang. Sekarang dia bekerja untuk Marvel. Kalau untuk di Indonesia, Emte (Muhammad Taufiq).

Apasih yang membuat kakak tertarik dengan teknik Watercolor dijaman era digital ini?

  • Yang membuat gue tertarik adalah karena watercolor itu simple tapi keren karena bisa menghasilkan ciri khas tersendiri. Dulu sebenernya gue bermula dari cat minyak, tapi cat minyak itu butuh hal seperti perawatan kuasnya, treatment cat dan karyanya itu agak ribet. Kalo lo berkarya harus fokus jadinya, karena tools yang digunakan juga tidak bisa asal ditinggal aja. Nah kalau cat air itu bisa dibawa-bawa. Simple, tidak perlu minyak, dsb. Kalau di era digital ini, menurut gue kita jangan melupakan teknik manual. Bagaimanapun juga semua berasal dari manual. Kalo bisa digital sih bagus, tapi untuk manual itu kan masalah selera.

Menurut kakak, mengambil inspirasi atau referensi itu bagusnya dari mana?

  • Kalau inspirasi ya perbanyak datang ke pameran sih, rasanya berbeda saat kita melihat karya secara langsung dengan melihat karya yang difoto atau melalui media online. Ketika kita melihat karya secara langsung, kita seprti bisa melihat aura dari karya itu sendiri.  Lebih dapet feelnya ketika kita mencari inspirasi dan melihat karyanya langsung. Tapi kalau untuk mencari referensi, ya media online. Karena dari media online kita bisa menyimpan gambar tersebut jika sewaktu waktu kita lupa, kalau ke pameran kan tidak, paling ya hanya difoto.

Menurut kakak perlu tidak seorang mahasiswa design mengetahui sejarah design?

  • Perlu, karena sejarah bisa dijadikan referensi ketika berkarya. Kita bisa tau perkembangan design itu makin ke sini itu makin gimana.

Menurut kakak kemiskinan mahasiswa itu apasih?

  • Kemiskinan mahasiswa itu bagi gue seorang mahasiswa yang kuliah hanya mengejar nilai aja. Cuma dateng ke kampus, mencatat pelajaran yang diberikan  dosen, trus ujian yang keluar juga persis seperti apa yang dosen bilang. Mereka tidak mau tau hal-hal lebih di luar kampus. Hanya sekedar menjalani kuliah saja, tidak mau mendalami lebih lanjut. Padahal diluar sana kalau kita bergaul dengan lebih banyak orang, kita bisa mengetahui hal hal baru  dibanding yang hanya di kampus, sempit.

Menurut kakak gimana seorang mahasiswa baiknya tuk memiliki semangat dalam mengeksplorasi karya mereka agar mereka tidak miskin ilmu?

  • Gue mungkin akan ajak ke pameran pameran besar seperti Biennale Sebenernya tidak bisa dipaksa sih, karena semua itu dari diri kita masing masing. Atau mungkin gue aka membuat temen gue yang misalnya “miskin” ini iri dengan karya-karya gue. Jadi gue membuat karya yang mungkin ketika dia lihat karya gue dia akan iri “Ih kok bisa yaa buat seperti itu?”. Nah dari situ kan dia bisa bersemangat ya untuk mengeksplor karyanya dia yang dirasa kurang.
  • Pameran seperti “Elaborasa” merupakan wadah bagi mahasiswa berekspresi tanpa batasan dan pada saat yang sama memberi wadah bagi mahasiswa juga untuk mendapat inspirasi dan pandangan baru bagi perkembangan karya mereka, yang didapat dari sesama mahasiswa dalam rangka menanggulangi “kemiskinan” yang melanda.

(Tim Jurnalis)

Editor: Angelika Samara

By |2017-02-19T11:55:20+00:00February 12th, 2017|Medium|Comments Off on Elaboras(A)

About the Author: