Beda Desain Kini, Dulu, dan Nanti

///Beda Desain Kini, Dulu, dan Nanti

Beda Desain Kini, Dulu, dan Nanti

Seminar bersama Ismiaji Cahyono (bureau chief DGI), Sandy Karman (graphic artist), dan Cecil Mariani (pengajar FSRD IKJ) membahas beda seni & design kini,dulu dan nanti. Seni dan desain merupakan dua hal yang tentunya berhubungan, namun banyak dari kita yang masih kesulitan untuk membedakannya. Ditambah lagi dengan adanya perubahan zaman yang cepat, serta teknologi yang terus berkembang pesat. Sebagai desainer grafis, penting bagi kita untuk tidak hanya mengandalkan skill teknis, namun juga mengandalkan keilmuan desain dan pikiran.

Menurut bapak Ismiaji, kita harus memahami bahwa dalam desain ada karya dan kegiatan. Karya desain merupakan hal yang terlihat. Karya desain ada yang bisa dipegang, ada yang tidak. Karya desain yang tidak bisa dipegang sifatnya lebih ke jasa. Karya sejenis ini yang dapat melihat pada akhirnya adalah sang pengguna jasa. Kegiatan desain sebagian besar adalah merencanakan dan berusaha menjawab sebuah permasalahan. Sedangkan kegiatan seni lebih banyak ke ranah ekspresi, namun akarnya sama. Bagi bapak Ismiaji, perbedaan dasarnya sekarang ada di wilayah kegunaan di industri. Banyak seniman yang masuk ke wilayah desain, banyak juga desainer yang masuk ke wilayah seni. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut karena sekarang batasannya sudah tidak jelas. Menurut bapak Ismaji, kita selalu berpikir desain itu penting untuk masyarakat, namun kenyataannya tingkat apresiasi masyarakat terhadap desain sangat rendah. Lalu jika bidang ini dianggap penting, mengapa tingkat apresiasinya rendah? Siapa yang mengapresiasi rendah bidang ini? Apakah kita sendiri yang kurang apresiatif? Jika kita sendiri kurang mengapresiasi desain, mungkin itu yang menyebabkan masyarakat kurang apresiatif. Mungkin harus lebih banyak desain untuk umum, agar apresiasi dari masyarakat bisa tumbuh. Dan untuk meyakinkan teman-teman kita untuk melakukan itu, terlebih dahulu harus ada apresiasi terhadap bidang sendiri,tutur bapak Ismiaji selaku bureau chief DGI.

Berbeda dengan Ismiaji Cahyono, Cecil Mariani memiliki pengalaman mengekspresikan nada musik dari elemen-elemen sederhana untuk kebutuhan proyek desainnya. Selain tertarik dengan dunia desain grafis, Kak Cecil juga punya ketertarikan dibidang biologi. Proyek-proyeknya seperti infografis dan alat-alat inovasi biologi lainnya ternyata jika digabungkan dengan konsep desain menjadi sangat berguna bagi masyarakat dan lingkungan. Seperti saat membuat proyek Upa Cita,kartu Tarot untuk kebutuhan tesis,dan Jakarta Biennale. Seni adalah bagaimana kita mengolah rasa, sedangkan desain adalah bagaimana kita mengolah pikiran kita. Pencipta desain harus dapat berpikir secara taktis,tutur kak Cecil. Bagi Kak Sandi maupun Kak Cecil, takaran pentingnya perbedaan desain tergantung dari kegunaannya. Jika untuk praktek secara pribadi, menurut mereka tidak perlu, karena imajinasi tidak boleh dibatasi. Dari imajinasilah kita dapat menciptakan sebuah inovasi.

Lalu kapankah sebuah karya disebut seni,dan kapan sebuah karya disebut desain? Dari awal karya itu diciptakan, seharusnya seniman tersebut sudah mengetahui secara objektif. Bagi kak Cecil seniman atau orang yang membuat karya tersebut harus dapat membedakan konteksnya. Karna design itu seperti message engineer. Lantas bagaimana kita harus menempatkan diri di ruang publik sebagai desainer? Dan bagaimana menciptakan impresi publik terhadap desainer grafis? Human nature bagi kak Sandi dan Cecil tergantung orang-orang tersebut mau melabelkan kita seperti apa. Dan bagaimana kita menempatkan dan memantaskan diri kita apakah ingin terjun kedunia tersebut (contoh:seniman) atau kita hanya ingin di jalan itu saja. Kesimpulannya adalah seni dan desain bergantung terhadap siapa pelakunya. Selain pelaku, desain dan seni juga bergantung dengan pergerakan kita di zaman yang teknologi dan ilmu pengetahuannya terus berkembang ini.

Jurnalis : Maura Zulfa

Editor : Angelika Samara

By |2017-03-26T13:06:31+00:00March 2nd, 2017|Light|Comments Off on Beda Desain Kini, Dulu, dan Nanti

About the Author: