Titik Jenuh 2017: Creating Portfolio Properly

///Titik Jenuh 2017: Creating Portfolio Properly

Titik Jenuh 2017: Creating Portfolio Properly

“Portofolio itu ibarat jembatan lo sebagai graphic designer. Lo bisa buat itu dalam sehari jadi, cuma pakai kayu, seadanya aja, tapi lo juga bisa membuat jembatan itu dari beton, lo siapin dengan semaksimal mungkin sampe jembatan itu bener-bener kokoh untuk lo lewatin. Sama aja kayak ibaratnya portofolio itu sebagai jembatan seorang graphic designer untuk melangkah ke jenjang karirnya.” —Luthfi Ramadhan Putradi

Berawal dari tema besar kami, Kemiskinan Mahasiswa yang berdampak pada dunia kerja, kami menyelenggarakan kembali sebuah design talk show tahunan yang sudah ketiga kali diadakan sejak tahun 2015 yakni Titik Jenuh 2017: Creating Portfolio Properly. Titik Jenuh kali ini hendak berbagi pengetahuan dan pengalaman akan pentingnya sebuah portofolio dalam menentukan langkah seorang desainer grafis, terutama di dunia kerja yang sesungguhnya. Menghadirkan 3 narasumber dari berbagai perspektif pada dunia industri kreatif yaitu Adam Mulyadi, Diaz Hendrassukma, dan Luthfi Ramadhan.

Bersamaan dengan pelaksanaan Titik Jenuh ini, Titik Dua juga meluncurkan situs resmi kami yaitu titikdua.co.

Titik Jenuh 2017: Creating Portfolio Properly diselenggarakan pada hari Sabtu, 25 Maret 2017, pukul 13:00 – 15:00 di Mobile Museum DGI yang berlokasi di Truly Premium Outlet, Q-Big BSD City.

Sehubungan dengan tema yang telah kami singgung, Luthfi Ramadhan Putradi, mahasiswa BINUS University jurusan Creative Advertising yang berkesempatan magang di Mullenlowe Indonesia dan MATA Studio ini berpendapat bahwa membuat portofolio membutuhkan beberapa poin penting. Yang pertama yaitu kemauan dan niat yang utuh dari individu itu sendiri untuk membuat portofolio yang baik, dan tidak menunda niat tersebut. Hasil yang baik tidak akan jauh dari usaha yang sungguh-sungguh dalam membuatnya. Semakin banyak waktu dan kerja keras yang kita investasikan dalam membuat portofolio, Luthfi meyakini bahwa hasil portofolio itu jauh lebih baik, dibandingkan apabila kita membuat portoflio tersebut tergesa-gesa dan tidak maksimal dikarenakan waktu yang terbatas.

Kedua, proses yang harus dilalui dalam membuat portofolio; memperbanyak eksplorasi dan memperkaya referensi, membangun ruang berpikir, mengasah skill, melatih sense untuk terus berkembang, dan mempelajari perusahaan yang hendak kita apply. Mempelajari perusahaan merupakan elemen yang sering terlupakan, sehingga banyak desainer terjebak memasuki graphic house atau agency yang tidak sesuai dengan karakternya masing-masing. Mempelajari perusahaan juga menentukan proses pembuatan portoflio, karena selayaknya seorang desainer menyesuaikan konten portofolio mereka sesuai dengan perusahaan yang akan di apply. Ya, bukanlah hal yang tidak mungkin apabila seorang desainer mempersiapkan portofolio yang berbeda ketika meng-apply ke perusahaan yang berbeda. Menyesuaikan karakter perusahaan dengan skill yang dipamerkan di portofolio merupakan salah satu cara memenangkan persaingan.

Memperbanyak eksplorasi juga diperlukan untuk bisa melihat lebih banyak referensi dan juga ide-ide dari berbagai sudut pandang yang lebih luas. Sudut pandang yang dimaksud disini dapat diperoleh dari berbagai macam sumber seperti film, musik, novel, dll. Ketika kita memiliki sudut pandang dan ide yang luas, kita bisa mengerti bagaimana cara mengemas portofolio tersebut dan siap dijadikan aset penting di saat seorang desainer harus meyakinkan dan menjual skill nya di hadapan client atau perusahaan tertentu. Selain itu, bereksplorasi juga melatih sense kita ketika mengerjakan dan menilai suatu karya.

Tahap terakhir dapat dikatakan adalah aspek utama yang harus diperhatikan sebelum menyerahkan portofolio; Eksekusi. Dalam tahap eksekusi, terdapat proses “meng-kurasi karya”, yaitu memilih karya terbaik yang sesuai dengan ranah perusahaan yang dituju dengan memerhatikan aspek kejujuran dan alur yang baik dalam menyusun karya. Kejujuran yang ia maksud adalah, jujur dengan kemampuan yang kita miliki. Apabila kita tidak memiliki kemahiran dalam suatu bidang, sebaiknya jangan berbohong ketika menulis portofolio karena hal tersebut akan menciptakan kesan yang buruk pada pihak perusahaan.

Luthfi juga mengatakan bahwa menyusun alur dalam berkarya itu penting, karena desain portofolio kita harus dapat menyampaikan pesan dengan jelas. Luthfi juga berpendapat bahwa sebagai seorang desainer kita harus bisa memberikan suatu hal yang berbeda dan “unik” dari yang lain dalam menyampaikan sebuah pesan, tak terkecuali dalam membuat sebuah portofolio. Mengingat ketatnya persaingan di dunia kerja, “bagaimana kita bisa menonjol dibanding kandidat lain, apabila portofolio kita tidak mempunyai keunikan dan sama seperti portofolio lain?”

Diaz Hendrassukma, selaku Founder dari SWG Design dan Direktur Pengembangan Program ADGI melihat sebuah portofolio sebagai “awal perkenalan” seorang desainer dengan calon client atau perusahaan yang kita apply. “Bagaimana kita mau mengenal kalian lebih, apabila tampilan portofolio yang kalian kirim sama sekali tidak membuat kita tertarik?” Diaz menegaskan. Kemudian Diaz juga menekankan bahwa “good design is good business”. Menurutnya, desain yang baik adalah desain yang memiliki wawasan, melakukan inovasi, memenuhi tujuan, mudah diingat, mengubah perspektif, dan menginspirasi.

Mengetahui karakter perusahaan tempat kita magang atau bekerja adalah poin yang tidak kalah penting. Jangan sampai kita sebagai graphic designer tidak melakukan research terlebih dahulu apakah karakter dan minat kita sudah sesuai dengan tempat magang yang kita apply. Pahami dulu, dimana skill dan passion kita, apakah itu tipografi, layouting, ilustrasi, atau animasi, karena saat magang adalah saat yang paling tepat untuk kita memperdalam skill yang kita punya. Waktu 3 bulan adalah waktu yang sangat singkat apabila kita terjebak di sebuah tempat magang yang tidak sesuai dengan skill dan minat kita.

Ia juga menambahkan bahwa sebuah portofolio yang baik dapat menunjukkan style dan persona sang desainer kepada pembacanya dalam hitungan detik. Dengan banyaknya portofolio kandidat magang lain yang harus ditinjau, sebuah portofolio hanya dilihat sekilas saja dan ia akan memutuskan dalam waktu singkat untuk menentukan siapa yang menarik untuk direkrut. Diaz juga menganggap penting pencantuman “status” atau pembagian kerja dalam suatu proyek kolaboratif agar terlihat jelas porsi pekerjaan dan dalam hal apa pengaruh sang individu dalam karya tersebut.

Selain aspek penialaian dari sisi portofolio, Diaz juga sangat memperhatikan karakter orang tersebut pada saat tahap interview. SWG Design adalah graphic house beranggotakan 3 orang, dan kenyamanan saat bekerja dalam tim sangat diutamakan. Mulai dari hal-hal kecil karakter seseorang dapat dilihat, seperti bagaimana cara menyapa seseorang, cara berpakaian, cara menyampaikan pendapat, semua detail kecil dinilai dan dijadikan bahan pertimbangan Diaz saat menerima seseorang anak magang.

Sedangkan Adam Mulyadi, selaku Creative Director EGGHEAD Branding Consultant menegaskan bahwa portofolio itu merupakan perwujudan atau representasi dari diri kita sebagai desainer, yang juga merupakan sebuah aset atau investasi seorang graphic designer untuk bisa berkembang dan maju ke tahap selanjutnya. Ia mengakui, setiap harinya ada puluhan portofolio yang dikirim ke perusahaannya. Oleh karena itu, hanya dengan screening singkat, sebuah portofolio harus bisa lebih menonjol dibanding portofolio lain, dan mudah diserap informasinya hanya dalam beberapa waktu saja.

Adam memiliki beberapa tahapan dan kriteria dalam proses menyeleksi portofolio; yang pertama adalah result atau hasil, nyatanya sebuah portofolio tidak akan memiliki banyak waktu untuk menjelaskan detail-detail kecil pada sebuah karya, sehingga hasil yang bagus adalah kunci utama portofolio tersebut akan diseleksi lebih lanjut atau tidak. Kedua adalah proses, sebuah karya yang bagus akan ditinjau lebih jauh bagaimana proses pembuatan karya tersebut. Dalam proses ini, akan terlihat bagaimana peran seorang desainer dalam menghasilkan karya tersebut. Ketiga adalah karakter. Biasanya apabila portofolio lulus tahap seleksi, maka tahap selanjutnya adalah interview. Menurut Adam, justru karakter seorang desainer adalah hal yang terpenting. Apakah desainer ini bisa menerima masukan dan mau belajar? Karena karya yang bagus bukan semata-mata menjadi prioritas Adam dalam menerima seorang anak magang.

Adam sangat menghargai proses penyajian karya pada sebuah portofolio. Dimulai dengan prakata, yaitu penjelasan tentang karakter diri seorang desainer, sampai penyajian karya yang tidak sebatas disajikan dengan “mockup” tetapi karya tersebut benar-benar disusun dan difoto secara manual sebagaimana karya itu ditampilkan pada aslinya. “Sayang banget karya yang bagus itu cuma dijadiin mockup. Take a real picture!”, Adam menegaskan. Kebanyakan desainer hanya menampilkan hasil akhirnya, tanpa menyertakan bagaimana proses pembuatan karya tersebut mulai dari brainstorming ide, pembuatan sketch kasar, pemilihan alternatif desain, sampai pada tahap eksekusi akhir. Penjelasan proses yang lengkap akan membuktikan kesungguhan seorang desainer dalam menghasilkan sebuah karya, sehingga client bisa mengapresiasi dibandingkan hanya menampilkan hasil akhir.

Selain mempersiapkan portofolio, mempersiapkan mental juga tidak kalah penting. Merasa “terintimidasi” merupakan hal yang harus dilawan dan diatasi, karena proses magang adalah proses belajar, berbeda dengan apply untuk full time.

Dengan berakhirnya Titik Jenuh 2017, para peserta seminar kini telah mendengarkan dan mengerti bagaimana membuat portofolio yang baik dan pulang dengan sudut pandang baru seperti yang Titik Dua harapkan. Kami berharap, kelak di masa depan, Titik Dua dapat kembali mengadakan Titik Jenuh dengan tema lain yang  dapat membantu para desainer dalam membahas atau memecahkan persoalan yang dihadapi dalam dunia desain grafis. Titik Dua juga telah merekam video rekaman talk show Titik Jenuh, dengan harapaan rekan kreatif yang belum bisa hadir tetap bisa menyerap informasi yang telah dipaparkan secara lebih rinci. Akhir kata, selamat menyaksikan video rekaman Titik Jenuh 2017: Creating Portfolio Properly.

By | 2017-04-05T05:37:39+00:00 April 4th, 2017|Medium|Comments Off on Titik Jenuh 2017: Creating Portfolio Properly

About the Author: