Apa yang Tidak Dimiliki Mahasiswa Masa Kini?

///Apa yang Tidak Dimiliki Mahasiswa Masa Kini?

Apa yang Tidak Dimiliki Mahasiswa Masa Kini?

Kemiskinan mahasiswa dalam memiliki minat membaca dan bereksplorasi merupakan suatu masalah yang menunjukkan dampak buruknya secara jelas. Kemalasan dan kurangnya motivasi mahasiswa dalam berkarya menjadikan kualitas pembelajaran baik di dalam maupun di luar kampus menjadi tidak maksimal. Dampak buruk ini dilihat jelas oleh para pendidik di perguruan tinggi, khususnya pendidikan Desain Komunikasi Visual.

Kali ini Titik Dua berkesempatan untuk berbincang dengan beberapa dosen fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara yaitu Noor Latif CM (Pak Latif), Drs. Hagung Kuntjara Sambada Wijasa (Pak Hagung), dan Wahyudi Pratama (Pak Wahyudi) mengenai pendapat dan pandangan mereka terhadap kinerja mahasiswa, ekspektasi karya, dsb.

Pak Wahyudi Pratama

Menurut bapak, bagaimana kinerja dan semangat mahasiswa/i dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh bapak?

Apakah karya yang dikumpulkan sudah memenuhi ekspektasi bapak?

  • Pak Latief: Mahasiswa dalam mengerjakan tugas kurang memenuhi ekspetasi. Saya berharap mahasiswa saat diberikan tugas dapat mengeksplornya lebih jauh dari yang diekspektasikan. Saya ingin mahasiswa untuk berkarya secara maksimal. Menurut saya, saya tak pernah memberikan tugas ke mahasiswa, tetapi memberikan kesempatan buat mahasiswa untuk berkarya semaksimal mungkin, yang nantinya karya tersebut akan dimasukkan ke dalam portfolio. Mahasiswa kurang ada menunjukan kesungguhannya dalam mengerjakan tugas. Mereka mengerjakan tugas hanya karena “kewajiban” dari kampus untuk lulus bukan sebagai kesempatan untuk meng-explore topik yang diberikan dosen tersebut, jadi hasilnya tugas atau karya yang mereka serahkan kurang maksimal. Saya lebih menghargai mahasiswa yang memiliki proses, bukan hanya sebatas kehokian” menjadi bagus. Dengan adanya proses, mahasiswa itu dapat menganalisis dan dapat mengembangkannya ke karya selanjutnya dibanding tanpa proses, mahasiswa tak mungkin bisa mengulangnya dari karya selanjutnya.
  • Pak Hagung: Setiap mahasiswa saat kuliah diberikan alat-alat atau kesempatan untuk mencoba sesuatu baru, sesuatu yang belum tentu mereka sentuh. Mahasiswa mengganggap tugasnya itu sebagai kewajiban, sebagai sesuatu beban yang akan dinilai. Pemikiran mahasiswa yang seperti ini akan membuat mereka menjadi malas dan jenuh dalam mengerjakan tugasnya, dan juga menghasilkan hasil karya yang biasa saja dikarenakan mahasiswa tidak menikmati brief dan tugas dalam prosesnya.
  • Pak Wahyudi: Sejauh ini sih bisa dibilang seperti biasa ya. Karya yang masuk tidak benar-benar memenuhi ekspektasi, tetapi saya melihat itu adalah suatu hal yang wajar karena melihat hal tersebut sebagai pembelajaran juga dan itu juga sebagai proses belajar. Saya selalu berpikiran positif, bahwa dibelahan dunia manapun yang namanya perkuliahan dan pembelajaran itu unsurnya sama. Tidak ada kan, yang langsung “jadi” gitu, yang langsung bisa bikin karya yang luar biasa? Mana mungkin. Kita tahu didalam proses belajar mengajar tentunya pasti memiliki kendala. Saya mengalami sendiri ada seorang mahasiswa yang tadinya benar benar tidak bisa, lalu tiba-tiba berubah. Ada juga mahasiswa yang awalnya benar-benar di luar ekspetasi, tapi tiba-tiba nge drop. Saya pikir faktor-faktor eksternal itu juga mempengaruhi. Jadi yang namanya kampus itu memang mempengaruhi secara internal tapi pergaulan eksternal juga mempengaruhi bagaimana pencapaian seorang mahasiswa ketika di perkuliahan. Bagi saya, mahasiswa pintar itu bagaimana dia bisa membaca peta perkuliahannya dan menghasilkan karya dan ia tahu “Ini buat apa?”. Kebanyakan kan mahasiswa tidak tau “Ini kita bikin karya buat apasih?”. Misalnya di mata kuliah ilustrasi mengapa saya menyuruh untuk membuat buku seperti itu karna suatu saat pasti akan digunakan sebagai portofolio kita. Bukan berarti mata kuliah saya saja, namun semua mata kuliah pun seperti itu. Tiga setengah tahun kalian tembus kuliah kalau tidak punya karya, pasti akan kalah dengan orang lain. Bagi saya, mahasiswa yang memiliki sebuah karya adalah mahasiswa yang memilki bukti bahwa ia benar-benar kuliah.

Pak Hagung

Menurut bapak, apa yang tidak dimiliki oleh mahasiswa masa kini untuk memenuhi kriteria mahasiswa/i atau karya yang bapak harapkan? Dan apakah saran bapak untuk mahasiswa/i masa kini?

  • Pak Latif: Referensi zaman sekarang ada dimana-mana, ada yang saya suka dan ada juga yang tidak saya suka. Saya berharap bahwa mahasiswa dengan teknologi ini dapat maksimalkan karyanya. Mahasiswa DKV jaman sekarang kurang membaca. Sebagai orang kreatif kita bukan hanya bisa melihat karya lewat visualnya tetapi juga lewat teks yang diberikan.
  • Pak Hagung: Sebagai pelajar kreatif, seseorang yang mahir atau sedang mempelajari kesenian, seharusnya mahasiswa menghasilkan karya lebih. Seseorang yang diberikan kesempatan untuk belajar, seharusnya  menggunakan kesempatan tersebut dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Seorang mahasiswa DKV juga harus belajar menikmati kegiatannya, menikmati tugasnya. Dengan pemikiran seperti ini hasil yang dihasilkan mahasiswa akan jadi jauh lebih maksimal. Mahasiswa tersebut akan lebih mengeksplor dan mencari referensi yang lebih dalam untuk memaksimalkan tugas-tugasnya. Seorang mahasiswa juga harus belajar untuk stay relevant dalam era ini.
  • Pak Wahyudi: Problem mahasiswa itu dari tahun ke tahun selalu sama, malas. Malas salah satunya alasannya mungkin juga terkait dengan perkembagan teknologi. Saya kurang tahu, tetapi sekarang dalam hitungan minggu, pasti sudah ada aplikasi di gadget kita yang baru. Setiap minggu ada saja hal-hal baru yang muncul. Perkembagan ini mendistraksi setiap pelajar atau mahasiswa. Orang-orang seperti kita itu sekarang asik dengan gadget, jadi tidak membuka ruang untuk berdiskusi dan mencari tahu. Seolah-olah dunia yang kita miliki ini sudah cukup dengan menggunakan social media. Interaksi yang dibangun lewat diskusi, pada saat belajar mengajar sebenarnya membangun ruang untuk berpikir. Coba kalian bayangkan, misalnya ada suatu daerah yang dimana masyarakatnya terus-terusan dihajar oleh informasi sehingga tidak mempunya kesempatan untuk berpikir. Mereka hanya meng “iya” kan semuanya. Nah itu kesalahan yang selalu muncul. Saya pikir, saya dan para pengajar lain juga tidak mungkin menolak teknologi, namun dimanapun juga adat klasik dimana proses belajar mengajar membaca buku itu adalah hal utama. Mahasiswa malas atau mahasiswa rajin menurut saya itu adalah hal mendasar yang biasa. Disetiap semester dan setiap tahun itu pasti ada. Dan menurut saya itu hal yang biasa. Kita tahu proses belajar mengajar itu tidak bisa didikte “kamu harus belajar ini!”. Kampus itu adalah lingkungan paling demokratis dimanapun. Karena disitu ada pertukaran pikiran, pertukaran informasi, pertukaran pendapat dan itu adalah hal wajar. Dan di setiap generasi, saat mencari jati diri ada kendala-kendala seperti itu. Pemberontakan terhadap sub culture baru, menggali ke dalam sebuah informasi, itu adalah hal lumrah. Saya ingat kolega saya, mengatakan hal yang sama juga, bahwa “malas” membaca literatur dan membaca buku itu sudah meng-global. Teknologi mencoba setengah mati untuk mengakali hal itu. Tetapi bagi saya, mungkin generasi sebelum saya juga mengatakan hal yang sama tentang hal seperti ini.

Pak Latif

Di era modernisasi ini dimana ilmu dapat diakses dengan mudah melalui teknologi, banyak mahasiswa/i yang tetap bermalas-malasan, bagaimana pendapat bapak?

  • Pak Latif: Dalam era modern ini, mahasiswa dapat mengakses ilmu atau referensi lewat teknologi dan apabila mahasiswa masih malas-malasan itu cukup aneh. Mahasiswa yang benar-benar ingin mempelajari dunia kreatif seharusnya berkerja lebih keras dan berusaha mencari, mengamati, mengeksplor dunia desain. Tidak semua orang dapat menguasai semuanya tetapi minimal harus ada satu keahlian yang ia suka dan ia kuasai yang akan menjadi dominannya.
  • Pak Hagung: Pertanyaan tersebut kembali lagi kepada mahasiswa/i yang memilih jurusan DKV. Seharusnya kita yang telah memilih untuk masuk jurusan ini, tau apa langkah yang harus kita lakukan (seperti berkesplorasi pada desain). Kita juga harus tau dunia luar dan melihat desain zaman sekarang dengan lebih terbuka lagi.
  • Pak Wahyudi: Kalo saya sih tidak pernah mempermasalahkan soal ini. Memang buku itu menjadi suatu hal yang penting dan buku itu sudah teruji oleh ISBN. Kemudian ada literatur yang telah di crosscheck. Tidak bisa dipungkiri bahwa buku seperti sejarah desain atau seni itu melewati proses panjang yang menggali dalam informasi yang ada dan benar-benar bisa diandalkan. Sementara informasi yang ada di social media, terutama untuk mahasiswa yang mencari referensi secara instan, itu untuk kemudahan informasi? Ya. Tapi kalo kita ternyata tidak berinformasi dengan sejarah yang sudah ada dan tidak dikaji ulang kebenarannya, itu akan jadi masalah. Bagi saya, misalnya ya barbershop yang mengadopsi desain vintage dari eropa tahun 2005-an kemudian masuk ke Indonesia dasarnya apa? Bangsa Indonesia bukan bangsa yang terbiasa sebenarnya dalam hal itu, kita itu negara tropis. Tetapi mengapa bisa muncul hal seperti itu? Sebenarnya di Indonesia tidak ada urgensinya. Why? Ya tadi, identitas. Dan kita tidak bisa menolak percampuran identitas. Tetapi kita harus tahu kita berpijak pada sisi sebelah mana. Itu masalah yang selalu muncul dalam mencari indentitas. Dan itu lebih dari sekedar desain. Karena itu sudah menjadi suatu kebudayaan. Tetapi karena masyarakat ada keterbatasan dalam literatur, mereka menganggap bahwa desain adalah sesuatu yang simple. Sesuatu yang gampang layaknya hanya corat coret. Saya dulu sebal tetapi ya sudah lah memang masalah utama di Indonesia itu ya pendidikan.

Jurnalis: Tim Jurnalis

Editor: Claresta

By |2017-05-30T10:53:56+00:00May 9th, 2017|Medium|Comments Off on Apa yang Tidak Dimiliki Mahasiswa Masa Kini?

About the Author: