Mahamiskin oleh Ganjar Satrio

///Mahamiskin oleh Ganjar Satrio

Mahamiskin oleh Ganjar Satrio

Beberapa waktu yang lalu, Titik Dua meminta Ganjar Satrio untuk berbagi pandangan lewat sebuah artikel dalam menanggapi isu “Kemiskinan Mahasiswa”. Ganjar Satrio, atau yang lebih akrab dipanggil Ganjar adalah seorang mahasiswa desain grafis Bina Nusantara yang juga seorang aktivis baik di dalam maupun di luar kampus. Ia sempat menggalang kegiatan sosial yakni turun ke jalan untuk membersihkan sampah saat demonstrasi Ahok beberapa waktu silam dan juga meraih penghargaan dalam lomba desain internasional.

Menjabat sebagai Koordinator Editor Titik Dua tahun lalu, yang juga masih berpredikat sebagai mahasiswa, kami sangat tertarik untuk mengulik lebih dalam bagaimanakah pandangan Ganjar mengenai isu “Kemiskinan Mahasiswa”? Apakah hal ini merupakan suatu hal yang wajar atau sebaliknya? Benarkah apabila isu “Kemiskinan Mahasiswa ” tetap dibiarkan bisa menjadi faktor kemunduran generasi millennials?

Berikut adalah penuturan Ganjar Satrio:

Kemiskinan/ke·mis·kin·an/ n hal miskin; keadaan miskin;– absolut situasi penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang sangat diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minimum.

Ini semester terakhir gw di kampus, hore!

Sebelum ngomongin topik yang akan kita bahas ini, coba baca ini dulu, deh. Menarik banget. http://titikdua.co/2017/02/16/kemiskinan-mahasiswa/

Salah satu penjabarannya adalah, “kemiskinan mahasiswa dalam hal membaca”. Sungguh ironis, ya, rasanya, mengkritik mahasiswa yang “miskin”, atau dalam hal ini yang dimaksud “miskin” adalah mahasiswa yang mengalami kekurangan bukan dari segi materi melainkan dari segi kemauan untuk membaca.

Ya, kita sudah tau budaya membaca di Indonesia memang sangat rendah. Bayangin aja, hanya 1 dari 1000 orang Indonesia memiliki minat baca serius. Bayangin deh, tuh. Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara tentang minat baca berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World”  pada Maret 2016. Sekali lagi, coba bayangkan! Semoga kita menjadi satu dari seribu itu.. eh, tapi, jangan-jangan orang Indonesia tidak memiliki minat baca dan memang tidak terbiasa dengan budaya membaca? Perlu ada kajian terhadap minat baca pada masyarakat di indonesia untuk mempelajari lebih dalam dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang minat baca di indonesia.

Sejujurnya, sangat bingung ketika akhirnya diminta oleh Titik Dua untuk berbagi pandangan tentang isu “Kemiskinan Mahasiswa”, dimana gw diminta untuk menuliskannya, lalu, berharap para mahasiswa yang “miskin” itu, membaca tulisan ini, lalu, setelah itu menyadari gw termasuk mahasiswa yang “miskin” itu juga!

Jejeran buku desain import yang dibeli dari pameran buku diskon kemaren juga masih terbungkus rapi belum terbaca. Menarik ya, pameran buku import itu menyedot banyak perhatian, semua orang tiba-tiba menghabiskan uang untuk membeli buku, eh tapi kan, katanya orang indonesia minat bacanya rendah lalu kenapa acara diskon buku besar-besaran itu tetap laku keras setiap tahun? Lucu. Banyak mahasiswa dari sepengetahuan gw datang untuk berburu buku desain, ada yang mengeluarkan banyak uang tabungannya untuk membeli bermacam-macam buku desain. Kemudian, muncul pertanyaan:  “Apakah dengan membeli lalu membaca buku terbitan luar negeri itu kita secara instan menjadi ‘desainer grafis’ yang mumpuni?”

Kegelisahan diatas sama dengan ketika gw melihat dan menjalani perkuliahan DKV. Banyak kampus dengan jurusan DKV diserbu, dari kampus yang murah hingga mahal dengan jaminan lulusannya akan menjadi ‘desainer grafis’ yang mumpuni. Calon mahasiswanya menganggap menjadi ‘desainer grafis’ itu keren, tanpa memahami makna desain grafis itu sendiri. Pokoknya, keren deh. Kemudian, muncul lagi pertanyaan:  “Apakah dengan kuliah dikampus mahal yang sudah tersohor namanya akan sekonyong-konyongnya menjadikan mu ‘desainer grafis’ sakti mandraguna tak terkalahkan tiada tara tandingannya?” hmmmm..

Dari dua pertanyaan diatas, mari kita coba jawab dalam hati masing-masing(termasuk gw yang nulis ini). Kenapa gw bertanya dengan penjabaran yang gw lakukan diatas, karena itu pengalaman refleksi diri gw ketika menjalani perkuliahan DKV.

Cukupkah kita sebagai mahasiwa hanya memenuhi kebutuhan dasar; yaitu dengan berkuliah di kampus ternama dengan biaya orang tua sebanyak DP rumah atau seharga franchise Warung Ayam Geprek Pak Gembus lalu mengoleksi dan membaca buku-buku desain import kemudian mengerjakan tugas dari dosen layaknya seorang operator yang diperintah klien, mengerjakan apa yang hanya diperintahkan, eh,  itu pun kadang masih salah. Apa itu cukup?

Menjadi mahasiswa, kita memang harus terus merasa “miskin”, memang. Tapi, bukan menjadi “miskin” lalu berhenti pada kondisi “miskin” sehingga membuat “kemiskinan” merajalela. Sadar “miskin” adalah sikap yang harus diambil untuk tidak menjadi “miskin”, dengan sadar “miskin” kita akan meraih, mencoba, menantang hal-hal baru untuk dilakukan. Merasa tidak cukup hanya dengan apa yang sudah ada didepan mata, mencari kemungkinan kekayaan ilmu baru yang belum kita miliki.

Kontributor: Ganjar Satrio

Editor: Dhayfi Adila

By |2017-06-06T14:48:43+00:00June 6th, 2017|Bold|Comments Off on Mahamiskin oleh Ganjar Satrio

About the Author: