Sancaya Rini: Lestarikan Budaya Lewat Personal Branding

///Sancaya Rini: Lestarikan Budaya Lewat Personal Branding

Sancaya Rini: Lestarikan Budaya Lewat Personal Branding

Semangatnya dalam melestarikan warisan budaya kepada generasi millennials, nyatanya berhasil menciptakan trend batik dengan teknik pewarnaan indigo mewabah di kalangan anak muda. Design thinking apa yang diterapkan brand Kana Goods? Titik Dua berkesempatan untuk datang dan berbincang-bincang langsung dengan Ibu Sancaya Rini atau kerap disapa Ibu Rini selaku founder Kana Goods untuk mengulik lebih jauh lagi mengenai personal branding dari brand Kana Goods. Bagaimana awal mula terbentuknya Kana Goods? Teknik branding apakah yang digunakan untuk mendobrak dunia serba instan para generasi millennials?

Ibu Sancaya Rini

Bolehkah Ibu Rini menceritakan sejarah awal tercetusnya ide untuk mendirikan brand Kana Goods?

Jadi, pada tahun 2007 saya aktif mengajar anak-anak muda (berumur 15 – 17 tahun) di sekitar kompleks rumah membatik, untuk mengisi waktu luang mereka. Saya sendiri sebenarnya bukan ahli batik atau ahli bisnis, ataupun memiliki latar belakang desain sama sekali. Sehari-harinya, saya hanya (bekerja sebagai) ibu rumah tangga. Tujuan awal saya mengajarkan mereka membatik hanyalah untuk mengubah mind set mereka saja, bahwa sebenarnya banyak aktivitas yang bisa dilakukan di waktu luang mereka untuk menghasilkan sesuatu.

Seiring berjalannya waktu, mereka mulai bertanya-tanya, “Bu Rini, lalu kain-kain batik ini harus diapainNgga dijual aja?” Jadi, dari situlah tantangan awal dari anak-anak yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya bisnis ini. Mengapa saya memilih anak muda? Karena nantinya, merekalah yang akan meneruskan budaya batik ini. Bermodal dari tabungan saya dan kakak saya, terbentuklah “Kanawida”, yang berarti “warna warni”. Desain dan motifnya pun kami buat se-simple dan se-minimalist mungkin, supaya anak-anak sendiri tidak jenuh dan kesulitan saat membuatnya. Ternyata, keputusan itu tepat. Bisnis kami perlahan-lahan menanjak, dan berhasil mendapatkan atensi masyarakat.

Pada tahun 2009, kami juga mendapatkan Kehati Awardkarena kami hanya menggunakan warna-warna alam. Konsep awal kami memang berfokus pada batik yang ramah lingkungan karena kami sangat menghindari warna-warna kimia. Awalnya, tidak pernah terpikirkan oleh kami untuk menjadikan Kanawida menjadi bisnis sungguhan. Sekedar menutup modal, dan mendukung anak-anak untuk terus membatik sudah cukup bagi kami. Tetapi pada tahun 2009, kami sangat ter-exposed, sehingga banyak tawaran-tawaran untuk menjual di toko-toko, meskipun waktu itu kami hanya berfokus pada syal dan kain-kain panjang dan belum membuat produk yang ready to wear. Pasar kami sangat kecil, karena harga kami yang cukup tinggi. Seiring berjalannya waktu, atensi dari masyarakat terus meningkat, kami juga semakin sering ikut pameran-pameran. Hal ini membuat saya bertekat untuk membuat brand ini menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Karena, kalau kami hanya berputar disini, kami tidak akan bisa memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Foto proses pengerjaan produk handmade dari Kana Goods

Kemudian, pada tahun 2011, kami mengikuti Indonesia Fashion Week. Di saat itulah, kami menyadari bahwa sebenarnya, kami memiliki pasar yang menjanjikan apabila kami membuat produk ready to wear yaitu pakaian jadi yang siap dipakai, bukan hanya menjual kain saja. Namun, peminat batik terbatas pada masyarakat yang memiliki usia yang cukup matang. Kami kurang bisa meraih anak-anak muda untuk memiliki minat pada pakaian batik.

Akhirnya, pada tahun 2013, kami memutuskan untuk menciptakan sebuah brand baru untuk menargetkan anak-anak muda. Waktu itu, indigo sedang menjadi trend yang cukup di-gilai di Jepang, seperti merek Visvim. Yang masyarakat ketahui, natural dyed hanya berasal dari Jepang, atau India. Padahal, Indonesia sangat memiliki bahan-bahan pewarna alam yang sangat beragam yang belum di eksplorasi selama ini. Dari situlah, saya merasa ‘gemes’. Saya sangat bersemangat untuk memperkenalkan pengetahuan tersebut kepada masyarakat Indonesia. Ragam hias Indonesia sangat kaya dan beragam, namun, belum terlalu dikenal oleh anak-anak muda.

Dengan dibantu oleh anak saya yang merupakan mahasiswa seni rupa, kami mulai membuat motif-motif batik simple yang lebih mudah diterima anak muda. Sebenarnya, motif-motif yang saya buat terinspirasi dari fenomena sehari-hari saja. Contohnya, ada daun jatuh di halaman rumah saya yang kemudian saya jiplak, dan dikembangkan anak-anak saat membatik menjadi pola yang lebih variatif. Simple banget, sebenarnya. Lalu, untuk mengenalkan ke anak muda, saya memutuskan untuk membuat produk ready to wear atau accessories seperti syal atau bandana, tidak bisa berupa kain-kain panjang. Pakaian tersebut harus nyaman dipakai, simple, dan bisa dipakai kemana saja. Itulah konsep awal brand Kana Goods sendiri.

Kami memberikan nama “Kana Goods“, dengan mengambil kata “Kana” dari brand awal kami “Kanawida“. Kana sendiri bila diartikan dalam berbagai macam bahasa sebenarnya memiliki arti yang sama; yaitu cantik.

Kana dibantu oleh banyak anak-anak muda dalam hal mem-branding dan memasarkan produk. Kami memiliki consultant branding yaitu Brand Pavillion, yang dulunya adalah mahasiswa Universitas Prasetya Mulya jurusan marketing. Mereka datang, dan meminta izin untuk membangun branding Kana Goods sebagai tugas kuliah, yang akhirnya kerja sama tersebut terjalin sampai sekarang ini.

Foto proses pengerjaan produk handmade dari Kana Goods

Dalam segi pemilihan warna biru sebagai ciri khas Kana Goods, apakah ada makna tersendiri dibaliknya?

Sebenarnya, kami tidak fokus pada warna biru saja. Kami juga pernah memperkenalkan warna lain pada tahun 2015. Tapi, sepertinya memang brand image Kana Goods itu warna biru, jadi respond masyarakat (terhadap warna lain) kurang bagus. Walaupun sebenarnya, saya sangat ingin memperkenalkan warna-warna alam lainnya, yang masih banyak.

Kenapa kami awalnya pilih biru? Karena, kami sadar anak muda tidak suka warna yang terlalu beragam. Mereka cenderung memilih warna monokrom. Sebenarnya, warna biru sudah dipakai sejak masa VOC dulu, ketika diwajibkan menanam tanaman indigo vera untuk kemudian diekspor keluar negeri. Para pekerja tambang juga sudah memakai warna indigo sejak zaman dahulu, dan membuktikan bahwa warna indigo adalah warna yang tahan lama. Jadi, Indonesia memang sangat kaya dengan pewarna alami sejak jaman penjajahan dulu.

Bagaimana proses produksi Kana Goods? Mulai dari mendesain motif, pemilihan bahan, sampai proses menjadi pakaian yang ready to wear?

Berbeda dengan proses desainer kebanyakan yang membuat mood board terlebih dahulu kemudian memilih bahan dan membuat motif, Kana Goods bergerak dalam bidang slow fashion. Kami sangat menghindari membuang sisa kain terlalu banyak, yang akhirnya menjadi limbah. Sangat disayangkan juga, apabila para pembatik sudah membuat pola kemudian salah potong lalu kain menjadi tidak terpakai. Jadi yang kami lakukan adalah; kami memilih bahan dahulu, kemudian membayangkan dari bahan ini kami bisa menjadikannya sebagai apa. Sebagai outer kah? Atau syal? Atau accessories? Setelah itu, baru kami tentukan pola nya seperti apa, lalu, membuat mood board nya. Jadi, dari tahap awal, kami sudah tahu seberapa banyak harus menggunakan bahan, jadi tidak banyak yang terbuang sia-sia. Karena, salah satu tantangan slow fashion itu adalah tidak bisa mendapat bahan yang konsisten. Pewarna alam pun kami harus bergantung dengan alam. Jadi kami harus selalu bisa beradaptasi dari bahan-bahan yang kami punya.

Foto proses pengerjaan produk handmade dari Kana Goods

Dalam proses mendesain motif, apakah desain itu dari Ibu Rini, ataukah hasil eksplorasi para pembatik?

Semua desain motif Kana Goods, masih berasal dari saya yang terkadang dibantu oleh anak saya. Biasanya, saya memberikan sebuah ‘master’ polayang kemudian diadaptasi oleh para pembatik. Walaupun terkadang hasil eksplorasi mereka agak berbeda dengan brief di awal, tetapi saya menghargai sense dan eksplorasi mereka dalam membatik. Karena saya percaya, bahwa pekerjaan ini harus dikerjakan dengan sepenuh hati, tempat mereka bekerja pun diatur senyaman mungkin. Saya menghindari memberikan kritik yang mematahkan semangat mereka dalam berkarya.

Biasanya satu kain dikerjakan oleh satu orang. Satu orang mengerjakan satu macam motif, sehingga ada konsistensi dalam sebuah motif. Meskipun, pasti setiap garis tangan menghasilkan motif yang berbeda. Namun, disitulah letak keistimewaannya. Tidak akan ada dua kain yang sama, karena kami masih menggunakan tangan, tidak pernah menggunakan mesin. Kami ingin mempertahankan value tersebut, dalam Kana Goodssendiri.

Seperti yang telah Bu Rini bilang di awal, yaitu Kana Goods memiliki target market anak muda. Namun secara spesifik, anak muda yang seperti apa yang menjadi target market Kana Goods?

Sebenarnya target market kami selalu bergeser. Pada awalnya, kami memiliki target anak muda yang berani tampil beda, bebas bergerak, aktif, serta sudah mapan dan ‘matang’ (secara mental dan finansial), mengingat harga Kana yang agak tinggi, dan juga produk kami bukan barang massal. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata banyak anak muda yang dibawah usia ‘matang’ tersebut yang menyukai Kana. Ketika saya sedang jaga pameran, banyak anak-anak muda yang masih SMA, juga mulai menyukai Kana Goods, kemudian keesokan harinya mereka mengajak Ibu nya untuk membeli, ataupun mereka sudah membawa kartu kredit sendiri. Bukan hanya itu, ternyata orang-orang di usia 50 keatas juga banyak yang suka. Jadi sasaran pasar juga harus diperlebar. Desain dan motif juga harus menyesuaikan pasar.

Lalu, bagaimana strategi marketing Kana Goods sendiri untuk mencapai target market itu?

Selain aktif melakukan pameran yang menyasar anak muda, seperti Pop Up Market dan Brightspot Market, kami juga menitipkan barang di berbagai store seperti Art & Science, The Goods Dept., dan Stow. Selain kami juga dibantu marketing dari tim Brand Pavilion, kami juga sebenarnya banyak di-support oleh banyak anak muda sendiri. Banyak yang melakukan interview dan dimuat ke berbagai media, seperti kalian ini.

Di tengah pesatnya pertumbuhan brand lokal, terutama di bidang yang serupa dengan Kana Goods, bagaimana tanggapan Ibu Rini mengenai hal tersebut?

Saya sangat senang sebenarnya melihat hal tersebut, artinya kekayaan alam Indonesia sudah semakin dieksplorasi lebih jauh, dan batik juga semakin dikenal oleh anak muda. Sebenarnya, natural dyed ini bukanlah bidang yang mudah. Banyak tahap-tahap yang harus dilalui, dan harus memiliki konsistensi yang tinggi. Kemudian, saya harapkan mereka menjalankan bisnis ini dengan sepenuh hati bukan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Karena ongkos produksinya saja sudah sangat mahal, dan mencari bahan-bahannya tidak mudah, kami bergantung pada petani dan kondisi alam. Apalagi, waktu pengerjaannya yang bisa memakan waktu satu bulan, untuk menghasilkan ready to wear dari proses berkonsep sampai siap dijual.

Apa pesan yang ingin disampaikan dari Ibu Rini melalui Kana Goods untuk anak–anak muda di generasi millennials ini?

Sangat sederhana, saya ingin anak-anak muda mencintai batik, dan saya ingin Kana Goods menjembatani itu. Batik adalah local wisdom yang sudah diakui UNESCO, sebagai warisan harta benda Indonesia. Apabila anak-anak muda tidak mulai mencintai dan melestarikan batik, maka akan ada jurang antara anak-anak muda dan batik. Kemudian, saya juga berharap generasi millennials tidak hanya sekedar menjadi ‘pengekor’ lifestyle yang ada sekarang. Generasi millennials harus bisa menjadi ‘kepala’, bukan sekedar mengikuti trend yang ada, tetapi bisa menjadi pioneer di suatu brand produk lokal. Nyatanya, generasi millennials itu sangat cerdas, pendidikan juga lebih bagus, ilmu pengetahuan bisa didapatkan dengan mudah. Berbeda dengan saya yang sebenarnya tidak memiliki basic apapun dulunya. Saya yakin generasi kalian bisa lebih maju dari generasi saya.

Generasi millennials dikenal dengan generasi instan, dan Kana Goods bergerak di slow fashion. Bagaimana Ibu Rini menjembatani hal tersebut, dan berhasil memerangi krisis tersebut?

Memang, hal tersebut sangat bertolak belakang. Generasi millennials dimudahkan dengan segala hal yang instan, sedangkan Kana Goods jauh dari hal itu. Namun, di suatu titik pasti mereka akan ‘kangen’ dan ‘jenuh’ dengan hal-hal yang serba cepat, serba massal. Mereka akan mencari sesuatu yang bertolak belakang dengan hal-hal yang mereka hadapi setiap harinya. Dan akhirnya, mereka akan menemukan kenyamanannya kembali. Saya yakin, pada suatu titik akan ada kerinduan bagi mereka untuk kembali lagi ke hal-hal yang lebih natural. Hal-hal yang dibuat dengan passion, hati dan proses yang panjang, bukan dengan mesin.

Dengan berbincang-bincang bersama Ibu Rini, menyadarkan kita, bahwa generasi millennials memiliki andil yang besar dalam mempertahankan kebudayaan bangsa kita, bangsa Indonesia. Dengan menerapkan design thinking dan personal branding yang tepat, kita bisa menyelamatkan budaya bangsa Indonesia.

Jurnalis: Tim Jurnalis

Editor: Dhayfi Adila

By |2017-08-25T17:58:02+00:00August 7th, 2017|Medium|Comments Off on Sancaya Rini: Lestarikan Budaya Lewat Personal Branding

About the Author: