Personal Branding Bukan Kepalsuan Individu

//Personal Branding Bukan Kepalsuan Individu

Personal Branding Bukan Kepalsuan Individu

Pernahkah kamu melihat instagram profile seseorang dan memberikan label, “He is a hardworker!“ atau “She is confident!“ atau mungkin kesan lainnya yang kamu simpulkan secara sadar maupun tidak sadar, hanya melalui instagram feed-nya saja. Beberapa individu memiliki lebih dari jutaan followers sehingga diberi gelar “influencer”, pernahkah terlintas mengapa hal itu terjadi pada mereka? Pastilah ada hal yang sangat menarik darinya, sebuah karakter yang kuat sehingga berhasil menarik perhatian banyak orang.

Apakah kesan-kesan tersebut sengaja diciptakan, atau dibiarkan mengalir selagi audiens menilai?

Selama kurang lebih tiga bulan, Titik Dua berjuang mengelupas makna, manfaat, cara, dan tujuan personal branding. Secara sadar maupun tidak sadar, setiap orang menerapkan personal branding dalam hidupnya, bahkan dari hal-hal yang kecil seperti memilih warna pakaian. Pernahkah kamu melihat suatu iklan billboard dari kejauhan, namun kamu dapat langsung mengenali brand iklan tersebut hanya dengan melihat beberapa karakteristik-nya seperti warna dan elemen grafis-nya saja? Atau ketika kamu melihat sebuah karya ilustrasi dan dalam sekejap dapat menerka siapa ilustratornya? Peristiwa-peristiwa sederhana seperti itulah yang memberikan contoh bagaimana personal branding nyata berdampak pada kehidupan kita.

Apakah kita perlu membangun personal branding pada diri kita sendiri? Atau, bukankah hal itu hanya akan membatasi diri kita?

Tiga artikel medium Titik Dua pada tema personal branding, berhasil membuka beberapa perspektif baru dari ketiga narasumber kami yaitu, Mas Rege Indrastudianto (Ketua Terpilih ADGI periode 2016 – 2018), Mas Eric Widjaya (Founder & Creative Director Thinking*Room), dan Ibu Sancaya Rini (Founder Kana Goods). Tapi, sebenarnya apakah makna dari personal branding itu sendiri?

Personal branding, sesuai dengan namanya, adalah sebuah proses atau cara penciptaan ‘merek’ untuk menandai diri kita. Merek (brand) diciptakan, untuk memberikan impresi yang khas kepada masyarakat, dan diharapkan akan berdampak positif pada karir kita. Mulai dari cara berkomunikasi, cara berpikir, selera, adat kebiasaan, tradisi, sampai hal personal seperti selera musik, cara menulis, habits, ataupun penampilan fisik. Semuanya itu akan tercermin dalam produk atau karya yang dihasilkannya, karena karakteristik serta nilai-nilai yang khas inilah yang membuatnya personal. Image yang dibangun oleh brand tersebutlah yang nantinya akan mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap brand mereka. Personal branding dibangun dari hal-hal sederhana yang kemudian berlanjut pada hal-hal yang lebih kompleks dan pada akhirnya akan menciptakan suatu ciri khas.

Kini orang berlomba-lomba membangun personal branding lewat social media, bahkan personal branding sama sekali tidak dianggap sepele. Sehingga kini tercipta profesi ‘content creator’, ya, pekerjaan menciptakan konten untuk sebuah brand ataupun personal blog, yang bisa meningkatkan awaress target market-nya terhadap brand tersebut. Bahkan tokoh-tokoh politik juga menerapkan personal branding, dengan tim khusus yang menerapkan design thinking di dalamnya, agar menampilkan citra “the best of us” kepada masyarakat.

Sebagai seorang desainger grafis, personal branding jelas berdampak penting bagi karir seorang desainer. Bukan hanya bertujuan untuk memperkuat eksistensi-nya di kalangan masyarakat, namun juga berdampak dalam proses ‘pitching’ ataupun sesederhana membangun kepercayaan antara relasi client dan desainer. Seperti yang sudah dijabarkan oleh Mas Rege di artikel medium sebelumnya, (http://titikdua.co/2017/06/20/personal-branding-menurut-rege-indrastudianto/), klien dengan projek kecil, sekalipun klien dengan projek besar yang memakan biaya miliaran rupiah, tidak akan ‘asal-asalan’ dalam meng-hire seorang desainer grafis untuk menjadi partner dalam projeknya tersebut.

Personal branding bukan semata untuk menciptakan ‘fake’ personality, ataupun menciptakan impresi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang kita miliki. Meniru ‘style’ ataupun personal branding orang lain bukanlah tujuan dari personal branding. Personal branding diterapkan untuk meng-ekspos jati diri desainer yang sesungguhnya, agar meninggalkan impresi khas-nya pada masyarakat.

Seperti apa yang dikatakan Mas Eric dalam artikel medium kami, “Sebagai desainer, kita juga harus jujur saat berkarya. Plagiarism, meniru karya orang lain dan mengakui bahwa karya tersebut adalah karya kita lebih baik dihindari. Seorang desainer harus aware terhadap diri sendiri, belajar mengenali diri sendiri, mencari kekuatan dan kelemahan utama kita, jika semua itu sudah ditemukan, maka personal branding itu akan keluar dengan sendirinya.“

Sebenarnya branding tidak hanya diaplikasikan pada diri sendiri saja. Branding juga digunakan pada hampir semua brand atau perusahaan. Hampir setiap bank memiliki visi yang sama dalam ber-iklan, yaitu trust-worthy, dependable dan friendly. Atau mungkin ketika kita melihat iklan penerbangan yang sering menunjukkan pramugari sedang tersenyum dengan ramah. Gesture tersebut adalah untuk menunjukkan dan meyakinkan audiens, bahwa penerbangan tersebut memberikan layanan yang profesional dan nyaman.

Lain lagi ketika branding diterapkan pada sebuah studio desain. Sengaja atau tidak sengaja, branding dari sebuah studio desain sangat dipengaruhi oleh owner ataupun creative director dari studio desain tersebut. Bahkan suasana kantor dan cara kerja studio desain tersebut, sangat diperngaruhi oleh karakter dari owner-nya sendiri. Layaknya sebuah keluarga, seorang anak akan terinspirasi dari perilaku Ayahnya sebagai kepala keluarga. Seperti contohnya, MATA Studio. Kita bisa melihat karya yang dihasilkan oleh MATA Studio sangat dipengaruh oleh Agra Satria selaku founder MATA Studio, yang baru saja terpilih menjadi desainer logo HUT RI ke-72, setelah mengikuti pitching nasional, yang diselenggarakan oleh ADGI.

Lalu muncullah pertanyaan, “Apa saja yang dianggap sebagai personal branding? Apa saja yang sebenarnya orang lihat dari diri kita?”

Dari penampilan, pembawaan, maupun karya yang kita hasilkan (khususnya untuk desainer dan rekan kreatif lainnya yang menggeluti pekerjaan seni), bisa mempengaruhi personal branding kita. Namun, jangan sampai personal branding yang kita terapkan, malah ujungnya membatasi kreativitas kita. Seperti yang Mas Eric Widjaya katakan pada wawancara di artikel sebelumnya (http://titikdua.co/2017/07/25/cara-terbaik-melakukan-personal-branding-adalah-menghasilkan-karya-sebaik-baiknya/). “Personal branding yang ‘dibuat-buat’ atau secara sengaja diciptakan, malah sejujurnya menghambat kita menjadi apa adanya, yang ujungnya akan menyusahkan diri kita sendiri.”

Lalu, apa sih yang sebenarnya harus kita lakukan demi membangun hal yang sejak tadi dibahas ini?

Langkah awal yang paling penting sebenarnya adalah mengenali diri kita sendiri. Apa yang kamu lihat pada diri kamu sendiri? Kamu bisa saja sengaja membuat image sedemikian rupa dan sesempurna mungkin di hadapan orang lain. Namun, pada penghujung hari, wouldn’t you be exhausted pretending to be someone else? Lagi-lagi, ini merujuk pada kalimat yang dikatakan oleh Mas Eric diatas. Kemudian, setelah mengenali diri sendiri, penampilan, cara berpakaian, cara penyampaikan pendapat juga merupakan salah satu elemen penting dalam menerapkan personal branding. Sebagai seorang desainer, karya merupakan media personal branding yang paling krusial. Suatu karya adalah cerminan diri sang pencipta. Persepsi masyarakat terhadap individu akan muncul secara sendirinya melalui karya yang mereka lihat, dan juga menjadi jawaban dan bukti dari keakuratan personal branding tersebut. Apakah personal branding yang diciptakan selama ini sesuai dengan karya yang dihasilkan? Atau personal branding tersebut hanya semata ‘fake’ personality?

Personal branding tidaklah dibangun dalam semalam dan dengan mudah diciptakan. Seseorang harus membangun identitas mereka melalui berbagai hal dari yang terkecil sampai hal yang paling signifikan. Dengan memupuk hal-hal tersebut, personal branding yang diciptakan dapatlah menjadi sebuah branding yang kuat. Jika sudah memiliki brand image tertentu, langkah selanjutnya bukanlah stuck and stick to it forever. Kita harus terus mengembangkan diri dan karya, tanpa melupakan jati diri. Personal branding bukan diterapkan untuk menjadi box penghalang untuk perkembangan diri desainer, melaikan sebuah tantangan pembuktian kualitas desainer kepada masyarakat.

Lalu, kapan personal branding dibilang berhasil dan apakah langkah selanjutnya ketika sudah berhasil?

Menurut kami, ada dua momentum yang dapat menandakan, kapan personal branding dapat dikatakan berhasil, yang pertama adalah ketika brand image yang didapat dari “kemasan” luarnya sama dengan isinya. Kepalsuan yang disempurnakan bukanlah definisi dari personal branding. Momentum kedua adalah ketika sebuah brand berhasil meninggalkan impresi yang kuat pada masyarakat, saat itulah bisa disebut personal branding yang dibangun telah berhasil berdiri dengan kokoh. Jika mereka dapat dikenali dengan mudah di antara yang lain dan memiliki karakteristik yang membedakan, saat itulah sebuah brand dinyatakan memiliki branding yang kuat dan khas.

Branding yang bersifat personal adalah aset yang sangat berharga dan harus dijaga konsistensinya. Sebagai contoh, sebagian besar dari kita akan sangat mudah melontarkan penyataan bahwa Thinking Room adalah sebuah graphic house dengan ciri pendekatan tipografi, atau sebaliknya, ketika disinggung tentang graphic house yang melakukan eksekusi desain melalui pendekatan tipografi, secara otomatis Thinking Room muncul dalam pikiran kita. Melalui Thinking Room, Eric Widjaja berhasil mewujudkan personal branding-nya sebagai desainer yang berkarakter dan konsisten. Personal branding yang sudah terbentuk haruslah terus konsisten. Bukan berarti ketika sebuah brand telah memiliki image yang kuat maka mereka dapat lengah dalam menjaga konsistensinya. Sebuah brand yang memiliki branding yang kuat harus dapat menjaga identitas mereka agar tidak mudah tercuri dan diimitasikan oleh brand lain. Inilah langkah yang dapat dikatakan paling challenging. Karena sebenarnya, mempertahankan sesuatu itu lebih sulit daripada menciptakan hal baru, bukan? 

Lalu, apakah personal branding itu perlu bagi seorang desainer? Menurut kami, membangun personal branding yang kuat adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya bagi para desainer, namun bagi setiap individu, terutama di generasi millennials ini. Proses personal branding terbentuk dan usaha menciptakannya jugalah hal yang perlu diperhatikan. Gunakan personal branding yang kita bangun dengan tepat. Jangan membuat itu menjadi pengikat diri dalam berkreasi, tetapi gunakanlah untuk mengembangkan diri lebih jauh lagi. Konsistensi adalah kunci utama dalam membangun personal branding yang kuat. Yang perlu diingat, personal branding bukanlah suatu hal yang mudah dan instan diciptakan, namun personal branding yang kuat dan tepat, akan memberi manfaat besar dalam perjalanan karir setiap brand.

By |2017-08-29T14:25:12+00:00August 29th, 2017|Uncategorized|Comments Off on Personal Branding Bukan Kepalsuan Individu

About the Author: