How to Destroy a Design Studio

///How to Destroy a Design Studio

How to Destroy a Design Studio

Memulai graphic studio atau brand studio desain ternyata bukanlah hal yang sulit. Hanya bermodalkan laptop dan kartu nama, seorang desainer bisa meng-klaim dirinya sebagai seorang owner graphic house, tetapi nyatanya, menjalani sebuah studio desain bukanlah layaknya berlari sprint, tetapi merupakan sebuah lari marathon yang panjang.

Sprint? It’s easy. But sustain? It’s a whole different story.

Pada hari Selasa, 22 Agustus 2017, Titik Dua berkesempatan untuk menghadiri Master Class yang diselenggarakan oleh Lingkaran di Kolega Coworking Space, Antasari. Menghadirkan dua narasumber dari Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), yaitu Zinnia Nizar Sompie, yang merupakan ketua ADGI terdahulu yang sekaligus owner dari Ampersand Studio, dan Diaz Hensuk yang menjabat sebagai Direktur Pengembangan Program ADGI, yang juga merupakan owner dari SWG Design. Talkshow yang bertajuk “Undertanding The Business of Creative Services: An Evening Talk with Diaz Hensuk & Zinnia Sompie’, Lingkaran berhasil mengedukasi semua audiens yang hadir tentang betapa seriusnya desain industri ini. Berdurasi tiga jam, talkshow berjalan dengan lancar, tanpa kendala, ditunjang pula dengan tempat yang sangat nyaman, dan tidak lupa pembagian cemilan untuk selingan.

Zinnia Nizar-Sompie

Berikut adalah hasil talkshow yang diselenggarakan oleh Lingkaran:

Menghancurkan sebuah graphic studio lebih mudah dari memulainya. Banyak faktor yang bisa menghancurkan graphic studio hanya dalam sekejap mata. Me-manage sebuah graphic studio bukanlah perkara mudah, me-manage keuangan lebih sulit dari yang dibayangkan. Me-manage human resources is another thing, karena hidup sebuah graphic studio bergantung pada orang-orang di dalamnya. Jangan membayangkan hanya berkarya dengan Adobe Illustrator, Adobe Photoshop, dan Adobe InDesign sudah cukup. Bisnis desain dengan projek yang tidak menentu adalah tantangan yang harus dihadapi. Walaupun tidak ada projek bulan itu, namun akomodasi tempat, freelancer, graphic designer tetap harus dibayar, bukan?

 

Kalau semudah itu menghancurkan sebuah graphic studio dan sesulit itu tantangannya untuk survive tetapi kenapa pertumbuhan desain studio itu sangat masif?

Nyatanya, pertumbuhan desain studio sangat masif dan tidak terbendung, layaknya ombak kecil yang terus menerus berdatangan. Generasi millennial berlomba-lomba membuat desain studio sebagai wadah mereka untuk menyuarakan aspirasinya. Sangat jarang desainer millennial yang bercita-cita untuk bekerja di suatu desain studio untuk belajar dan menghargai proses bertumbuh. Nyatanya label ‘generasi instan’ sudah sulit ditepis lagi melihat fakta yang ada bahwa hampir semua generasi millennial berlomba untuk adu cepat membuat desain studio mereka sendiri, untuk menerapkan ‘style‘ desain mereka sendiri, dan berlomba untuk tidak perlu mengesampingkan idealisme mereka seperti saat bekerja di bawah aturan orang lain. Hal ini sangat merusak industri yang ada, bahkan banyak yang akhirnya menyerah dan mengganti haluan ke bidang lain.

 

Kemajuan desain grafis di Indonesia memang sangat masif, setiap tahunnya pertumbuhan studio desain baru sebanyak 10%, sebanyak 300.000 mahasiswa desain grafis di Indonesia lulus setiap tahunnya. Tetapi apakah mereka semua yang lulus dan terjun ke dunia professional dapat melaksanakan profesinya dengan baik? Sebenarnya apa yang membuat mereka semua secara tiba-tiba mempunyai minat yang sangat tinggi di dunia desain grafis? Ketika mereka semua berlomba untuk memulai sebuah brand studio desain baru, apakah mereka siap untuk berjuang dan sustain di industri ini?

Desain grafis bukan hanya tentang berkarya, tetapi tentang bagaimana kita juga bisa berprofesi. Apabila pemain industri, yaitu desainer tidak mengerti industrinya dan yang menggunakan juga tidak sadar akan industrinya. Akhirnya industrinya jadi kacau. Apabila pelayanan desain yang diberikan lama-kelamaan semakin tidak berkualitas, dan yang diperangkan hanyalah harga dan bukannya karya, bagaimana profesi desain grafis akan dihargai?

It’s really worrying for an industry.

–Zinnia Sompie

 

Persaingan kita sebagai desainer grafis bukan hanya dengan sesama desainer grafis, tetapi juga dengan para businessman. Yang terjadi kenyataannya adalah banyaknya sampah visual, banyaknya desain dekoratif yaitu desain yang tidak berkonsep. Dengan kompetisi yang tidak sehat, bagaimana industri desain di Indonesia mau membaik? Bagaimana industrinya mau diperbaiki, kalau pemain nya saja tidak sadar untuk memperbaiki? Dengan egoisnya berpikir, “I need money, I need to survive, tinggal buka pinterest, ikutin style-nya, jadi deh desain nya.” It will really ruin the industry. Industri desain layaknya akan seperti ‘window shopping, semua nya mirip, cuma dilihat aja yang mana yang paling murah.

 

Ternyata industri desain yang menggiurkan ini mulai digerogoti oleh pelaku-pelakunya sendiri yang tidak menjaga kualitas dan profesionalitas dana dalam berprofesi, lalu bagaimana kita memerangi hal ini?

Banyak roda-roda yang harus saling mendukung untuk kemajuan industri ini. Baik dari pemerintah, pelaku industri, dan juga penikmatnya. Apabila satu roda macet, maka ekosistem industri tersebut tidak bisa berjalan dengan baik. Contohnya adalah ketika membuat pitching Asean Games, ADGI menjadi penyelenggara pitching tersebut bekerjasama dengan BEKRAF. Kami bersikeras untuk menghindari adanya free pitching. Kami mengganti sistem yang biasa dilakukan saat pitching. Tahap pertama kurasi adalah submisi portofolio, dan credential. Karena untuk projek logo sebesar Asean Games tidak bisa dilakukan oleh seorang freelancer, karena scope pekerjaan nya sangat luas, pengaplikasian logo Asean Games ke dalam berbagai output, backdrop, signage, way finding, dll, it’s a huge thing! This is not a one man job, makanya waktu itu syaratnya minimal pengalaman 10 tahun mendirikan studio desain, karena you need so many people to do this.

Setelah pemilihan portofolio dan credential tersebut, maka 10 besar finalis kami panggil dan diberikan brief logo tersebut dan kesepuluh finalis tersebut mendapatkan fee, sehingga tidak ada konsep free pitching. Karena ‘you make them work as hard as the winner’, it has to be fair. Pemenang mendapatkan 80% hadiah, dan 20% akan dibagikan rata ke 9 finalis lainnya.

Diaz Hensuk

Lalu bagaimana kehidupan di graphic studio Mba Zinnia dan Mas Diaz sendiri?

The Life of a Design Studio mungkin terlihat seru dan keren, bukan sekedar happy happy aja, bukan sekedar gaji, tetapi sebenarnya banyak tantangan di balik itu. Sekian ribu lulusan desainer lulus setiap tahunnya, sangat banyak yang apply untuk kerja menjadi graphic designer, tapi nyatanya semakin susah menemukan lulusan yang benar-benar berkualitas! Dan hal ini bukan terjadi di graphic studio kami saja, tapi rekan kami di ADGI, owner-owner graphic house lain, juga merasakan hal yang sama, jelas Diaz.

Office hours di graphic house sebenarnya sangat fleksibel, tidak strict tetapi harus bertanggung jawab. Delapan jam kerja, lima hari seminggu, dan biasanya mereka mengatur sendiri kapan mereka harus datang dan pulang di kantor. Misalkan mereka datang jam sembilan, berarti jam lima sore mereka boleh pulang. Tapi biasa nya di kantor, semuanya masih betah untuk buka youtube, ngobrol bareng, so ya sebenarnya fleksibel banget kalo di kantor gue. Jadi gue bener-bener bebasin mereka mau buka youtube, buka facebook, tapi lo punya hutang delapan jam, lima hari yang harus lo bayar ke gue dari gaji lo, jelas Zinnia.

Bagaimana personality dan cara kerja seorang owner graphic house mempengaruhi atmosfir kerja di graphic studio tersebut? 

 Sebenarnya kultur dan cara kerja di setiap graphic house sendiri berbeda-beda, tergantung dari personality owner-nya sendiri. Apabila ownernya workaholic, pasti biasanya semua graphic designer-nya juga dituntut untuk menjadi seorang workaholic dan akan begadang, lembur, dan brainstorming atau misalkan owner-nya tipe yang santai dan fun, pasti tim-nya juga demikian atau misalkan owner-nya suka bereksperimen, seperti Thinking Room yang sering bikin games dan exhibition sendiri di tengah gilanya deadline mereka. Jadi semua itu tergantung dari owner-nya. Jadi if you’re not a fun person, then your office is not going to be a fun office. Sangat penting untuk menjaga mood kerja dalam sebuah desain studio. Karena aset sebuah desain studio sebenarnya adalah tim yang bekerja di baliknya, apabila suasana kerjanya tidak nyaman, dalam waktu dua atau tiga bulan semuanya resign, maka bagaimana nasib desain studio tersebut? Karena nyatanya it’s not about salary, it’s about how they learn and improve as a person, cara brainstorming-nya, cara belajar sambil berkerja, cara mengembangkan diri, maksudnya the life itself deh.

Bagi seorang  freelancer yang belum mempunyai graphic house, ataupun tidak bekerja di dalam graphic house, bagaimana cara kita sustain di industri ini?

Reputasi desainer adalah hal yang sangat-sangat penting. Ketika desainer mempunyai karir yang pendek di dunia desain karena reputasi desainer yang buruk, sehingga tidak dapat lagi dipercaya lagi dimana-mana karena rumor akan menyebar dengan sangat cepat. Apabila lo mempunyai reputasi desainer yang tidak tepat deadline, menipu client ataupun pengalaman buruk lainnya yang dialami oleh client ketika melakukan hubungan partnership, pasti karir lo tidak akan lama. Sebaliknya, ketika seorang desainer mempunyai reputasi yang baik, client happy with the job, pasti dia akan merekomendasikan kita ke orang lain. Gue jarang sekali melakukan marketing, menyebar rate card ataupun melakukan pitching karena kita emang ngga ngejar portofolio. Biasanya semua client yang sudah enam atau tujuh tahun di kita itu berawal dari rekomendasi client terdahulu.

Zinnia Nizar-Sompie

Seberapa penting menjalin kerja sama yang baik dengan sesama graphic studio lain? Bukankah mereka adalah kompetitor kita?

Justru sebaliknya, menjalin hubungan yang baik dengan sesama studio desain merupakan hal yang sangat penting. Di asosiasi kami, ADGI, lempar-lemparan job itu menjadi rutinitas, karena pasti sebuah studio desain mempunyai fokusnya tersendiri. Misalkan studio gue fokusnya di editorial, terus tiba-tiba client gue minta branding logo, karena kita sadar itu bukan fokus dan skill kita, maka biasanya kita akan oper ke studio lain, buat ngerjain branding itu. Justru sesama desainer bukanlah saingan, tetapi harus dapat saling berkolaborasi karena tidak mungkin ada graphic studio yang memiliki spesialisasi di setiap bidangnya. Daripada hasilnya tidak memuaskan, lebih baik dioper ke graphic studio lain, kemudian melakukan bagi hasil. Client happy, graphic studio kita nama-nya tetap terjaga kualitasnya, bisa ngasih job ke partner lain, tetapi income masih tetap jalan, bahkan lebih tinggi.

 

Maraknya pertumbuhan branding agency berbasis non desain juga menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini, bagaimana kalian menyikapi hal tersebut?

Selain bekerja sama dengan graphic studio, kami juga sering bekerja sama dengan brand strategist. Basically, they are businessman, yang sangat mengerti tentang analyst dan strategic branding, which is the business side. Jadi mereka yang melakukan research, conceptiong, lobbying ke client-nya, mengerti client maunya apa, setelah mereka udah kumpulin data-datanya barulah mereka datang ke kita, minta dibuatkan visualnya. Actually itu win-win solution bagi graphic house. Dengan work agreement yang jelas, desainer tidak dirugikan, dan branding strategist tersebut juga tidak asal-asalan membuat visualnya. It’s safe, karena konsep yang telah mereka susun ditangani oleh graphic studio yang berpengalaman. Karena nyatanya banyak branding strategist, yang berbasis non-desain tersebut, meng-hire desainer untuk menjadi graphic designer in house mereka. Artinya owner yang berbasis non-desain tersebut juga akan sekaligus menjadi creative director bagi graphic designer yang bekerja di bawahnya. Positioning mereka akan menjadi tidak jelas. Akan menjadi bahaya apabila owner-nya tersebut tidak memiliki taste design yang baik, sebenarnya malah akan merusak industri yang ada. Lebih baik sebuah brand strategist sadar, bahwa desain bukan scope mereka. Lebih baik pekerjaan desain tersebut diserahkan ke graphic studio yang memang sudah bepengalaman di bidangnya, dan mereka bisa berfokus hanya pada strateginya saja.

 

Seberapa penting work agreement harus diterapkan untuk menunjang karir kita sebagai desainer? Apa akibatnya apabila seorang desainer tidak mengerti sisi bisnis dan legal?

“Sebenarnya sampai sekarang ada invoice yang sudah setahun belum dibayarkan ke studio gue,” ujar Diaz. Karena biasanya yang terjadi, apabila client tersebut datang dari kerabat dekat kita sendiri, kita jadi sungkan untuk menggunakan work agreement yang proper di mata hukum. Jadi biasanya kita kerja by trust, sehingga yang terjadi adalah betraying dan kita tidak bisa berbuat banyak, kerjaan udah di tangan mereka, tiba-tiba trust tersebut dilanggar, kita juga tidak mempunyai modal agreement apapun, sehingga akhirnya desainer yang dirugikan. Jadi lebih baik kita selalu menggunakan work agreement yang jelas, baik itu client yang strangers ataupun yang sangat dekat, kerabat sekalipun. Studio desain gue meng-hire seorang lawyer, yang setiap bulan pasti ada sesi dengan beliau. Biasa beliau mempersiapkan template work agreement, yang tinggal diganti-ganti nama client dan perusahaannya, sehingga kerjaan kita aman.

 

Bagaimana mengatasi isu profesi desainer yang sering kali masih kurang dianggap serius oleh masyarakat?

Positioning antara desainer dan klien juga sering menghawatirkan, banyak desainer yang diperlakukan sebagai ‘servant’, padahal nyata nya kita adalah partner mereka. Mereka butuh kita, kita juga butuh mereka. Sebagai desainer kita juga perlu mempunyai integritas, bahwa pekerjaan kita layak dihargai dengan memberikan work agreement yang jelas, profesionalitas seorang desainer pasti lebih dirasakan oleh client tersebut. Dan sebenarnya work agreement tersebut bukan dibuat untuk mencurigai client, tetapi work agreement tersebut akan memberikan ‘safe feeling’ kepada mereka, bahwa kita sebagai desainer tidak akan kabur membawa uang mereka. Justru mereka akan berpikir, “Wah, profesional banget nih service-nya”. Sebaliknya, kita sebagai desainer juga akan merasa ‘safe’ bahwa semua karya kita akan dilindungi oleh badan hukum yang ada.

JURNALIS : Jessica Celia

EDITOR : Ena Marlina

By |2017-09-27T16:10:50+00:00September 11th, 2017|Medium|Comments Off on How to Destroy a Design Studio

About the Author: