Salahkah Desainer “Masa Kini” Mau Sukses Instan? oleh Teddy Aang

///Salahkah Desainer “Masa Kini” Mau Sukses Instan? oleh Teddy Aang

Salahkah Desainer “Masa Kini” Mau Sukses Instan? oleh Teddy Aang

Titik Dua berkesempatan untuk mewawancarai Teddy Aang selaku owner dari FullFill Artplication, yaitu sebuah studio desain berlokasi di Jakarta Selatan, yang didirikan pada tahun 2009. Sepuluh tahun berkarya di design industry, FullFill telah membuktikan konsistensinya dengan keberhasilan-keberhasilan projeknya seperti Adaro, KLTR, INTILAND, The Prohibition, Daniel Wellington, dll. Menanggapi tema “The Dark Side of Design Industry”, Teddy Aang memiliki sudut pandang yang menarik dalam menanggapi permasalahan tersebut, terutama bagi desainer muda yang ingin terjun ke industri, berikut adalah penuturannya:

“Bagaimana sejarah dan latar belakang terbentuknya FullFill?”

Awalnya saya dan dua teman saya bekerja di sebuah studio desain di Jakarta. Pada tahun 2009, studio desain yang eksperimental dan fun hampir tidak ada. Setelah bekerja cukup lama, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk mengundurkan diri dari studio tersebut dan memutuskan untuk membuat studio desain kami sendiri, yang diberi nama FullFill. Awalnya, kami bertiga mengerjakan desain sendiri tanpa bantuan orang lain, dan kantornya pun masih diawali dari sebuah rumah kecil di daerah Jakarta Selatan.

“Apa filosofi dibalik nama FullFill?”

“FullFill” sendiri berarti memenuhi atau mengisi. Ibarat gelas yang sudah terisi penuh, kami ingin terus- menerus mengisi gelas tersebut, dan tidak pernah menganggapnya penuh. Kami percaya, bahwa pemikiran harus terus-menerus diisi. Layaknya seperti Yin and Yang yang akan terus-menerus berputar dan bersiklus tanpa henti, sama seperti manusia yang akan selalu mencari dan menambah pengetahuan, inspirasi, dan pengalaman yang tiada henti dan tidak pernah merasa penuh, selamanya. Bahkan, sampai saat ini kita semua masih harus terus mencari inspirasi, setiap saat.

“Apa yang mendasari / memicu kak Teddy sehingga akhirnya membuat desain studio sendiri?”

Sebenarnya, awalnya tidak ada keinginan untuk membuka studio desain sendiri, tapi sewaktu bekerja di studio desain yang lama, banyak konsep-konsep desain dan persepsi tentang studio desain yang kurang sesuai dengan persepsi pribadi saya. Jadi, akhirnya saya keluar dan bertekad untuk mengubah persepsi tentang studio desain pada masa itu. Karena pada masa itu, studio desain dengan gaya ‘anak muda’ masih sangat sedikit. Kebanyakan pemilik studio desain adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dan biasanya sudah

berumur, yang mostly studionya bersifat corporate. Studio desain yang bergaya playful hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Thinking*Room. Maka itu, kami ingin men-challenge diri kami, untuk keluar dari zona nyaman dan membuat sesuatu yang lebih playful dan eksperimental.

“Bagaimana manajerial tim dan sistem kerja FulFill? Mulai dari menerima client’s brief, brainstorming, eksekusi, sampai tahap finishing?”

Studio kami terdiri dari designer, studio manager dan project manager. Saya lebih suka menyebut marketing itu project manager. Kita tidak pernah ber-marketing seperti, “Eh, kamu tolong tawarin ya ke toko sebelah!” atau “Kamu samperin ke café satu-satu ya terus kamu tawarin!” Kita cuma mouth to mouth saja. Klien yang datang akan di-manage oleh satu project manager, jadi total ada dua project manager yang meng-handle semua projek FullFill. Saya dan partner saya me-manage klien dan project yang jenisnya berbeda, yaitu antara lifestyle dan corporate.

Sistem kerja kami cukup standar, berhubung kita adalah studio desain. Sistem kerja yang rumit hanya akan mempersulit manajerial tim kami sendiri. Mungkin yang menjadi rumit adalah SOP (Standard Operating Procedure), seperti saat pengeluaran form setelah rapat dan pembuatan minutes of meeting.

Project manager yang akan melakukan meeting dengan client, dan setelah itu mereka akan membuat minutes of meeting (mom) yang akan di-share ke saya dan juga klien. Setelah saya pelajari mom tersebut, mereka akan membawa mom itu ke studio manager, semacam polisi yang mengatur workflow disini, mereka yang membagi tugas dan mengatur deadline. Selanjutnya adalah pembuatan quotation. Begitu sudah di-approved client barulah kita memecahkan brief klien. Berbicara tentang brief, saya lebih memilih untuk memberikan brief yang seru, yaitu brief yang seperti cerita.

Setelah itu, saya, project manager, studio manager dan designer akan berdiskusi bersama. Setelah menemukan solusi dan konsepnya seperti apa, kita akan asistensi ke klien, begitu klien approved, kita akan mengeksekusi konsep tersebut sampai ke tahap final artwork, kemudian mempresentasikannya ke klien sekali lagi. Begitu sudah disetujui, kita akan minta tanda tangan sebagai bukti bahwa project telah selesai. So, this is a simple thing. Berbeda dengan advertising agency yang biasanya workflow-nya lebih rumit lagi. Kalau di studio FullFill yang paling penting adalah kerapian sistem dan penyimpanan data-datanya.

“FullFill dikenal dengan style yang khas yaitu playful, tetapi bagaimana cara FullFill menyatukan style dan ciri khas masing-masing individu di dalamnya?”

Pada dasarnya setiap orang pasti mempunyai jiwa yang fun dan playful. Semua orang pasti mempunyai desire atau keinginan untuk bereksperimen dan menyelesaikan suatu masalah. Sebenarnya yang paling penting bukanlah kesamaan style atau ke-khasan desainnya tetapi yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyelesaikan masalahnya, begitu kita menemukan formula yang tepat untuk solve the problem, mau style design seperti apapun menurut saya itu tidak jadi masalah. Saya yakin, setiap studio desain pasti mempunyai ciri khasnya masing-masing, hanya saja cara problem solving-nya yang berbeda.

Apa konsep dibalik “Koultoura Coffee” dan “Cake A Boo” yang keduanya memiliki karakteristik ilustrasi yang fun & playful, namun keduanya tetap memiliki karakteristik yang kuat?

Pada masa itu, kebanyakan café atau coffee shop tidak memiliki permainan karakter yang playful. Jadi, yang kita pikirkan adalah bagaimana cara kita membuat sesuatu yang berbeda, yaitu dengan kita membuat cerita dalam sebuah brand. Perumpamaannya adalah Gudetama. Gudetama adalah suatu karakter yang diciptakan dan cukup melekat pada masyarakat. Jarang sekali orang yang tau apa sebenarnya apa produk yang dijual Gudetama, bahkan tidak ada filmnya di TV ataupun bisokop, tetapi yang dia create itu adalah story, which will lead to our belief, “Eh ini Gudetama ini lucu banget sih!”. Kita semua tau bahwa Gudetama mempunyai karakter malas, tapi sebenernya kita tidak tau apa cerita dibalik Gudetama yang pemalas ini. That’s why hal tersbut menjadi study case yang sangat menarik, dan akhirnya kita terinspirasi untuk menerapkan konsep semacam itu ke dalam coffee shop, which is waktu itu adalah Koultoura. Bisa dibilang pendekatan seperti itu cukup berhasil, karena pada waktu itu targetnya memang ke generasi muda. Menurut saya waktu itu differentiation coffee shop belum banyak dan rata-rata konsepnya hanya menceritakan tentang kopi, tidak ada yang pernah mengangkat cerita tentang sebuah karakter. Diferensiasi itu adalah tujuan yang ingin kita capai, dan kebetulan cara tersebut ampuh banget. Cake A Boo menerapkan problem solving yang sama dengan Koultoura, namun berbeda dalam hal story-nya, karakternya, dan akhirnya “it leads to a different belief too.”

“Bagaimana pandangan Kak Teddy tentang industri desain di masa depan?”

“Bagus banget kok!” Apalagi desainer muda zaman sekarang banyak banget yang ‘jago-jago’. Terlebih lagi di zaman modern ini, dimana inspirasi sudah banyak banget, tinggal google saja, semua sudah muncul. Jadi, menurut saya design industry kita akan selalu meningkat, karena sekarang pun sedang dalam peningkatan dan kedepannya pasti akan naik terus. Mungkin yang susah itu adalah compete dengan yang ‘jago-jago’.

Ketika akses informasi didapatkan dengan sangat cepat dan mudah, hal ini mengakibatkan banyaknya referensi visual yang kita dapat dan cerna. Hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung, mengintimidasi kita untuk membuat sesuatu yang mirip, tanpa kita sadari. Memang problematika ini tidak mudah, bahkan desainer yang sudah kerja bertahun-tahun pun terkadang masih ada yang melakukan hal itu. Solusinya, kita harus lebih sering saling meng-evaluasi diri, berdiskusi, dan bertukar pikiran bersama. “Ketika ada brief baru yang datang, jangan langsung sketching! Kita diskusi dulu, break down poin-poin masalahnya bersama, lalu membicarakan bagaimana cara penyelesaiannya. Setelah sudah menemukan masalah dan solusinya, barulah kita boleh terjun ke tahap eksekusi desain-nya.” Proses seperti itu tidak boleh kita lupakan.

Misalkan, kamu disuruh desain layout majalah, pasti sudah ada banyak sekali referensi seperti kinfolk, monocle dan banyak lagi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana cara mendesain yang berbeda dari semua itu. That’s why, rules yang paling penting untuk desainer sekarang adalah mereka harus tau rulesnya dulu sebelum break the rules. Terkadang, kita ingin break the rules tanpa tahu peraturannya terlebih dahulu. Akibatnya kita hanya akan terpaku pada referensi. Misalnya kamu mau mengerjakan projek branding, kamu menemukan referensi A di Behance, akhrinya kamu membuat persis sesuai dengan referensi yang dilihat. “Yah, itu namanya bukan desainer, karena hal tersebut tidak melalui proses design thinking and problem solving!”

Selain itu, terkadang beberapa desainer muda sekarang masih sering terlalu mengikuti alur perkembangan zaman. Misalnya kalau ada style yang lagi nge-trend seperti 80s/90s, pop art ataupun indie, semua langsung berbondong-bondong mengikuti style yang sedang hits tersebut. Sehingga masing-masing individu tidak memiliki ciri khas tersendiri. Lebih baik, be true to yourself saja, tidak perlu memaksakan selera tertentu.

Apa pandangan Kak Teddy tentang peningkatan jumlah mahasiswa jurusan DKV yang semakin masif? Apakah hal tersebut pada akhirnya bisa merusak harga desain di pusaran creative service industry?

Hal ini tidak usah dipusingkan oleh siapapun, karena bukan hanya di jurusan DKV, tapi saya yakin hal ini juga terjadi di jurusan lain. Bukan hanya di industri kreatif, tapi juga terjadi di semua industri. Yang kuliah bisnis, manajemen, pariwisata, dan lain-lain juga semakin banyak kan? Tetapi apakah hal itu menghancurkan industri mereka? Tidak kok. Meskipun yang kuliah bisnis semakin banyak, tetapi para lulusan bisnis belum tentu berada di industri yang sama kan? Begitu juga dengan desain. Menurut saya desain grafis itu bisa berkembang dan evolve tidak hanya di studio desain grafis, tetapi nanti kedepannya akan menjalar ke bidang kreatif lain seperti fotografi, digital (web dan aplikasi digital), animation, content creator (yang lagi ngetrend sekarang) atau bahkan menjadi bloggers atau vloggers (hehe) dan masih banyak lagi. Jadi menurut saya, design industry akan baik-baik saja kok! Karena, pelaku industri kreatif akan selalu kreatif dalam mencari penghasilan, sehingga akan terus bermunculan profesi-profesi kreatif baru lainnya.

Harga desain hancur karena banyak yang jual murah? ‘Orang jual murah’ itu sudah biasa banget, termasuk di industri se-simple makanan, pasti ada saja orang yang jual lebih murah. Contohnya saja, salad 75 ribu dan burger 35 ribu, kebanyakan orang akan memilih untuk makan apa? Burger? Padahal mereka tahu kalau burger itu lebih tidak sehat dibandingkan dengan salad. Tetapi kenapa banyak orang memilih burger? Karena lebih murah dan mengenyangkan, tetapi begitu kalian memutuskan untuk memilih kualitas, kalian akan pilih salad, sama saja dengan Desain Grafis.”

“Lalu bagaimana cara kita bersaing dengan mereka yang ‘jual murah’ tersebut?”

Ya, challenge-nya adalah bagaimana menjual sesuatu yang tidak “murahan”. Ya, harus jago-jago ngomong. Kamu harus lebih pintar dari lawan kamu yang menjual desain juga. Kamu harus lebih bisa nge-twist angle dan cara berpikir klien agar lebih memilih karya kamu. Kalau seandainya kamu gagal melakukan hal tersebut? Maka, kamu tidak bisa menyalahkan industri ataupun orang yang berhasil di industri ini. Sebagus apapun karya desainnya, hampir tidak ada gunanya kalau kamu tidak pandai menjual hasil karyamu.

Jadi sebenernya yang harus diubah itu adalah pemikiran kalian (desainer millennials), pemikiran klien dan juga keseluruhan industri ini. Kita tidak boleh menyalahkan orang yang menjual desain murah, karena yang jual lebih murah itu pasti akan selalu ada. Bahkan di semua industri. Hal yang lebih mem-prihatinkan lagi adalah ketika sebuah studio desain yang jago banget desainnya, tapi mungkin mereka tidak se-jago ngomong atau se-menjual studio yang lainnya. Hal tersebut sangat disayangkan.

“Hal apa yang paling ditakutkan oleh pelaku industri kreatif di masa kini?”

Kekhawatiran sebuah studio desain adalah tentang masalah regenerasi desainernya, bukan kliennya. Klien bisa dicari, tapi regenerasi desainer yang berkualitas lebih sulit dipertahankan. Kliennya banyak, tetapi apakah semua bisa berjalan, apabila tidak ada yang mengerjakan project-nya? Misalkan beberapa long term designer akhirnya memutuskan untuk membuka graphic house-nya sendiri dan resign pada waktu yang bersamaan, itu sudah pasti akan menjadi bencara besar bagi graphic studio tersebut. Sebuah studio desain harus terus me-mantain regenerasi yang baik untuk bisa me-replace designer long term-nya dengan desainer baru dengan kualitas yang sama, atau bahkan lebih baik.

Walaupun banyak yang apply, tetapi sulit mencari pengganti berkualitas seperti desainer yang resign tersebut. Tidak sekedar kualitas karyanya, tetapi juga regenerasi skill, regenerasi pola pikir, knowledge, problem solving, dll.

Kami harus melatih ulang lagi desainer-desainer baru yang masuk ke studio, untuk menjadi sebaik dan sebagus desainer sebelumnya, agar sesuai dengan ‘dream team’ yang kami impikan.

Hal ini bisa berdampak pada reputasi studio desain tersebut, yang tadinya nama studionya sudah naik, pasti akan turun lagi kalau gagal mempertahankan siklus regenerasi yang baik. Punya studio besar itu tidak semudah yang dipikirkan, karena pada kenyataannya desainer yang ‘jago’ tidak mau terus-menerus bekerja, mereka mau mempunyai studio desain sendiri. Kebanyakan desainer sekarang bekerja paling lama 1 sampai 2 tahun, mencuri ilmunya, lalu resign. Mungkin 3 tahun kedepan akan semakin parah. Mungkin, nanti akan banyak freelancer yang berkedok sebagai studio desain, padahal hanya dikerjakan oleh satu orang.

“Ada kekhawatiran yang beranggapan bahwa kedepan-nya kualitas desain akan menurun dan akan banyak desain yang tidak terjaga atau asal-asalan. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya rekan mahasiswa yang berbondong-bondong ingin membuka graphic house sendiri walaupun masih belum siap dan belum matang. Apakah sebagai generasi muda, mereka salah jika memiliki passion yang besar dan ingin sukses dengan cepat?”

Karena kita berada di era instan dan kita tau semua hal secara instan, akhirnya hal tersebut akan menggiring kita ke pemikiran yang instan dan sempit juga. Tanpa bisa dipungkiri, kita semua seperti itu. Contohnya, instagram stories. Mungkin ketika kamu baru bangun tidur, posisinya kamu punya deadline tugas yang belum selesai. Tiba-tiba kamu melihat instragram stories teman kamu yang lagi liburan di Hawaii, atau melihat teman kamu yang sudah sukses buka desain studio sendiri, lihat teman kamu yang karyanya keren banget, pasti hal tersebut menimbulkan asumsi ‘instan’ di otak kamu bukan?

Which is in this case, dalam membangun karier pun instan juga —instan sukses, instan keren, instan nilai bagus, jadi apapun instan.

Contohnya, ada mahasiswa belum lulus nih, tetapi mungkin sudah tau nama PT yang akan mereka buat, mungkin mereka udah tau nama studio yang mereka ingin dirikan walaupun masih dalam state yang masih kuliah dan belum lulus. Menurut saya itu wajar banget sih! Karena banyaknya doktrin instan juga yang mereka terima.

Buktinya, sekarang dalam bekerja rata-rata kalian dituntut untuk serba cepat. Bukankah semua bermulai dari atasan? Klien kamu memaksa kamu kerja cepat. Lalu, kamu memaksa bawahan kamu untuk kerja cepat. Jadi, kalau ada yang complain, desainer sekarang kerjanya serba instan, ya kalian juga yang paksa mereka untuk kerja cepat? Jika melihat dari big picture, kita semua pasti akan terbawa oleh arus perkembangan zaman yang instan.

Jadi pertanyaannya, apakah kalian salah untuk memiliki passion yang besar dan punya tekad yang besar untuk cepat sukses dan membuka desain studio sendiri? Ya, menurut saya tidak salah. Tetapi… kita lihat dulu basisnya. Apa basisnya mereka ingin cepat membuka desain studio sendiri? Tergantung. Mungkin mereka berpikir, “Ah semua desain studio sekarang sucks, style design gue paling keren, gue mau buat design studio yang style gue banget”, atau mungkin “Ah, gue mau menginspirasi desainer muda Indonesia, untuk sukses di usia muda!”, menurut saya hal itu sah-sah saja. Tapi, ketika mereka mau membuka desain studio karena, “Ah gue harus duluan buka studio dari temen-temen gue biar gue paling keren,” atau mungkin “Gue mau cepet dapet duit banyak, jadi gue mau buka desain studio aja.” Pikiran tersebut harus dibenahi lagi.

Menurut saya sebagai graphic designer, kita semua tidak harus ke satu tujuan akhir, which is buka studio desain. Bisa saja studionya itu bukan studio branding, tapi studio fotografi, studio content creator atau mungkin influncer agency. Jadi tergantung apa yang kamu mau dulu. Let’s say, kalian mau buka studio desain, kalian harus tau dulu dong industri branding itu seperti apa, ibaratnya kalian mau jualan handphone, kalian harus tau dulu dong toko-toko di Roxy bagaimana. Jangan sampai kalian terjebak karena ketidaktauan dan kurangnya pengalaman. Tapi kalau kalian bertanya kepada saya? Saya jelas memilih untuk bekerja dulu, untuk mencari ilmu dulu, for sure. Saya akan mencari tahu dulu bagaimana keadaan desain industri sekarang, bagaimana proses merintis company yang kalian suka, apa visi misinya, bagaimana cara kerjanya dan lain sebagainya. Kita akan bisa dapat input dari desainer-desainer senior juga. Menurut saya, cara kita berpikirlah yang seharusnya berkembang, bukan hanya skill desain saja yang cepat berkembang.

Di masa sekarang, banyak sekali profesi yang bermunculan di industri kreatif. Bukan hanya sekedar buka studio desain. Karena maraknya online shopping, banyaknya anak muda yang entrepreneurship-nya naik dan ingin membuka usaha sendiri secara kecil-kecilan. Mereka tidak mungkin meng-hire studio design yang besar seperti Leboye. Ketika banyaknya bisnis yang kecil-kecil tersebut, mereka juga akan men-hire desainer yang sesuai dengan budget mereka. Jadi, menurut saya, hal ini ada plus minusnya sih.

“Apa saran Kak Teddy untuk desainer muda yang akan memasuki design industry?”

Kekhawatiran saya yang nomor satu adalah saya merasa generasi yang bawah akan lebih muda depresi dibanding generasi sebelumnya. Karena generasi sekarang itu memiliki passion yang tinggi banget untuk melanjutkan generasi berikutnya. Tetapi, karena adanya perbedaan gaps yang cukup jauh dan banyak sifat-sifat dan pola pikir yang berbeda dan singkat, akhirnya akan menyebabkan generasi muda menjadi gampang depresi dan menyerah.

Makanya kita harus mengontrol pola pikir kita, lebih banyak mencerna pikiran, mengubah pemikiran- pemikiran yang singkat. Saya salut banget sama orang yang bisa membuka angle pikirannya, open minded. Misalnya kamu didoktrin dengan pola pikir A, tapi kamu bisa mikir “Kenapa saya harus lakuin A?”, karena ternyata ada cara pandang dari B sampai Z.

Memang tak bisa dipungkiri, kita semua cenderung berpikiran sempit dan itu-itu saja. Sebisa mungkin kita haru selalu melihat dari beberapa kepala dan sudut pandang lain. Sama seperti saat berbicara dengan klien, kamu harus bisa ngomong dari beberapa angle. Misalnya, angle A tidak mempan, kamu harus bisa menyakinkan dia dari angle B. Kita harus bisa memahami bahwa ujung-ujungnya klien ini mau ‘untung’, jadi bagaimana cara kita memanipulasi mereka dengan desain yang kita buat sehingga mereka bisa untung. Mereka akan tertarik dengan pola pikir baru yang dapat membuat mereka sukses. Jadi, saran saya adalah latihlah pola pikir yang terbuka dan positif sehingga dapat melihat dan menyelesaikan masalah dari beberapa sudut pandang.

Sebagai generasi millennials yang disungguhi segala sesuatu yang instan, kita dapat mempersingkat waktu dalam berproses, namun tetap harus bisa dipertanggungjawabkan. Sehubungan dengan itu, kita pun dituntut untuk sukses cepat. Dengan passion generasi millennial yang luar biasa, harusnya kita bisa mengontrol pikiran-pikiran dan pola pikir kita serta membuka wawasan dan sudut pandang. Sehingga, generasi millennials tidak mudah mengalami depresi dan menyerah dan dapat menjadi generasi yang berkualitas tinggi dari segi semangat, pola pikir, skill dan knowledge.

By |2018-01-14T06:17:09+00:00October 31st, 2017|Medium, Posts|Comments Off on Salahkah Desainer “Masa Kini” Mau Sukses Instan? oleh Teddy Aang

About the Author: