Makna Jiwa dalam Rupa di Jakarta Biennale 2017 : JIWA

///Makna Jiwa dalam Rupa di Jakarta Biennale 2017 : JIWA

Makna Jiwa dalam Rupa di Jakarta Biennale 2017 : JIWA

Jakarta, 4 November lalu, Pameran seni kontemporer dua tahunan dari Jakarta Biennale resmi dibuka. Pada tahun ini, Jakarta Biennale membawakan tema yang berjudul ‘JIWA’ dan diselenggarakan di Gudang Sarinah Ekosistem. Pameran ini berlangsung dari tanggal 5 November 2017 hingga 10 Desember 2017. Melalui tema ‘JIWA’ ini, Melati Suryodarmo, selaku direktur artistik Jakarta Biennale 2017,  bersama tim kuratornya yang terdiri dari Annisa Gultom, Hendro Wiyanto, Philippe Pirotte dan Vit Havranek, ingin menyampaikan bahwa jiwa dapat hadir dalam berbagai rupa, termasuk melalui karya seni.

Makna Jiwa

Sebuah jiwa dapat dimaknai sebagai penyemangat yang terwujud dalam setiap unsur seni, ranah imajinasi dan penciptaan dalam ruang dan waktu. Jiwa dapat juga berarti suatu identitas. Salah satu cara untuk menghadirkan identitas itu adalah dengan melihat kembali sebuah sejarah yang terlupakan. Melalui Jakarta Biennale 2017 ini, kurator berupaya untuk menghadirkan kembali jiwa seni Indonesia.

Makna jiwa yang lainnya adalah jiwa sebagai buah dari sistem kepercayaan. Melalui sistem kepercayaan itulah sebuah jiwa lahir dan tidak ada satu yang luput dari jiwa.

Namun hilangnya akar dari sistem kepercayaan primodial membuat jiwa semakin memudar. Di tambah lagi dengan sistem kepercayaan sekarang yang dianggap terlalu membatasi kebebasan. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dalam berekspresi. Jiwa – jiwa yang hadir melalui rupa dalam berbagai macam bentuk memberikan refleksi atas ruang ‘nol’ sebuah ruang tak terduga yang menembus batas – batas perspektif dari nalar pemerhatinya.

Perjalanan panjang ditempuh seseorang dalam mencari jalan jiwanya melalui karya – karya yang diciptakan. Dari eksplorasi, eksperimentasi, dan naik turun kondisi nuraninya, secara langsung maupun tidak, memberikan jawaban atas pertanyaan – pertanyaan dalam jiwa yang muncul dari pencarian itu.

Hubungan antara pemaknaan jiwa yang pertama dan kedua ini bisa dilihat sebagai interaksi semesta makro dan semesta mikro dalam Jakarta Biennale 2017.

Semesta mikro adalah jiwa sebagai identitas kesenian lokal. Sedangkan semesta makro adalah jiwa sebagai pendorong sistem kepercayaan universal. Semesta makro terdiri dari kumpulan semesta mikro, sedangkan semesta mikro tersusun atas berbagai satuan – satuan wujud, yang salah satunya adalah tradisi kesenian local.

Para Seniman

Jakarta Biennale 2017 ini menghadirkan karya dari berbagai seniman dalam dan luar negeri. Lewat Jakarta Biennale 2017 ini, para seniman diajak bekerja sama untuk memberikan gambaran umum dari tema yang diangkat. Event ini melibatkan lebih dari 50 artist dari seluruh dunia, yaitu:

Abdi Karya (Indonesia), Afrizal Malna (Indonesia), Alastair MacLennan (UK), Alexey Klyuykov, Vasil Artamonov & Dominik Forman (Czech Republic), Ali Al-Fatlawi & Watiq Al-Ameri (Switzerland), Aliansyah Caniago (Indonesia), Arin Rungjang (Thailand), Bissu (Indonesia), Chiharu Shiota (Japan), Choy Ka Fai (Singapore), Dana Awartani (Arab Saudi), Darlane Litaay (Indonesia), David Gheron Tretiakoff (France), Dineo Seshee Bopape (South Africa), Dolorosa Sinaga (Indonesia), Dwi Putro Mulyono (Pak Wi) (Indonesia), Em’kal Eyongakpa (Cameroon), Eva Kot’átková (Czech Republic), Gabriela Golder (Argentina), Garin Nugroho (Indonesia), Gede, Mahendra Yasa (Indonesia), Hanafi (Indonesia), Hendrawan Riyanto (Indonesia), Hito Steyerl (Germany), Ho Rui An (Singapore), I Made Djirna (Indonesia), I Wayan Sadra (Indonesia), Imhathai Suwathanasilp (Thailand), Jason Lim (Singapore), Karrabing Film Collective (Australia), Keisuke Takahashi (Japan), Kiri Dalena (Philippines), Luc Tuymans (Belgium), Marintan Sirait (Indonesia), Mathieu Abonnenc (France), Ni Tanjung (Indonesia), Nikhil Chopra (India), Otty Widasari (Indonesia), Pawel Althamer (Poland), Pinaree Sanpitak (Thailand), PM Toh (Indonesia), Ratu Rizkitasari Saraswati (Indonesia), Robert Zhao Renhui (Singapore), Semsar Siahaan (Indonesia), Shamow’el Rama Surya (Indonesia), Siti Adiyati (Indonesia) Ugo Untoro (Indonesia), Willem de Rooij (The Netherlands), Wukir Suryadi (Indonesia), Ximena Cuevas (Mexico), Yola Yulfianti (Indonesia)

Suasana Jiwa

Karya Instalasi milik Robert Zhao Renhui ( Singapura )

Berjalan memasuki Hall A, Karya instalasi milik Robert Zhao Ren Hui asal Singapura langsung menarik perhatian para pengunjung. Dengan instalasi serangkaian foto batang pohon yang tumbang dan seragam bentuknya. Zhao ingin menceritakan bahwa di Singapura, pohon-pohon ditebang dan dipotong dalam beberapa bagian untuk disingkirkan. Hal itu dilakukan untuk membuka lahan pemukiman bagi warga Singapura. Ada sebuah perasaan kuat yang ingin disampaikan oleh Zhao saat melihat pohon yang begitu besar dan megah bisa tumbang oleh ulah manusia.

Karya milik I Made Djirna (Indonesia)

Berjalan sedikit lebih jauh, ada karya instalasi dari I Made Djirna asal Indonesia yang terbuat dari batu batu apung yang ia temukan sepanjang pantai di Bali. Djirna kemudian memahat batu batu tersebut dengan berbagai wajah, dan menyusunnya menjadi objek instalasi berukuran besar. Bagi Djirna, instalasi ini mewakilkan simbol dari kehidupan dalam sebuah jiwa yang semakin memudar seiring dengan perubahan lingkungan fisik dan sosial yang semakin cepat, dimana dunia modern bertumpu sepenuhnya pada logika rasional, mereduksi apa yang ‘tersembunyi’ menjadi sekedar apa yang nampak’.

Karya instalasi milik Hanafi seniman asal Indonesia

Secara keseluruhan, karya seni yang ditampilkan di Hall A dan Hall B Gedung Sarinah Ekosistem ini berupa karya instalasi, karya proyeksi, kerajinan patung, kerajinan keramik dan juga karya lukis. Masing-masing karya tersebut memberikan pemaknaan berbeda dari tema jiwa.

Beberapa karya instalasi bahkan mengajak para pengunjung untuk ikut berinteraksi dan merasakan langsung makna yang ingin disampaikan oleh seniman pembuatnya. Seperti misalnya, karya instalasi buatan Hanafi, seniman asal Purworejo, Indonesia yang bertajuk “Perkenalan Pertama dengan Bahasa”. Hanafi menggunakan pensil sebagai objek utama dalam karya instalasinya. Ia menempelkan banyak pensil di berbagai bidang, seperti tembok dan jaket. Hanafi ingin meceritakan bahwa pensil itu adalah alat paling awal untuk menulis bahasa ibu, sebelum dia mengenal bahasa lain, yakni bahasa rupa. Menurut Hanafi, apa yang ditulis oleh pensil tidak hanya muncul di atas kertas, namun juga terukir di udara oleh ujung pensil yang lain. Menyimbolkan sebuah bentukan abstrak yang tercipta pada ruang kosong, dan menurut Hanafi, bentukan abstrak ini juga dapat diterima sebagai sebuah “Bahasa”.

Seiring berjalannya pameran, para seniman juga menyelenggarakan Live Performance Art untuk para pengunjung pada waktu-waktu tertentu yang dilaksanakan secara menyebar di seluruh wilayah Jakarta.

Selain di Gudang Sarinah Ekosistem, karya seniman lainnya juga dapat anda lihat di Museum Sejarah Jakarta (Selasa – Minggu, 09.00 – 17.00 WIB), Museum Seni Rupa dan Keramik (Selasa – Minggu, 09.00 – 17.00 WIB), dan Institut Francais d’Indonesie.

Jurnalis: Melvie Aurelia

Editor: Muhammad Ammar Farras

By |2017-11-21T22:08:43+00:00November 21st, 2017|Light, Posts|Comments Off on Makna Jiwa dalam Rupa di Jakarta Biennale 2017 : JIWA

About the Author: