The Dark Side of Design Industry

//The Dark Side of Design Industry

The Dark Side of Design Industry

Beberapa orang berpendapat bahwa, menjadikan hobi dan passion-mu menjadi karir bukanlah hal yang baik. Ketika hal yang kita senangi akhirnya diberi batasan dan tekanan, kita akan mengidentifikasikan hobi tersebut sebagai hal yang buruk dan tidak menyenangkan. Akhirnya hanya membuat kita kehilangan cara untuk bersenang-senang dalam melakukan hobi tersebut. Namun, sebagian orang lainnya berpendapat lain, yaitu menjalankan hobimu sebagai pekerjaan selama 5-6 hari seminggu lebih baik daripada menjalankan hal yang tidak disenangi selama 5-6 hari seminggu itu lebih baik, baru kemudian menikmati hobimu hanya sehari dalam seminggu.

Semua individu yang mengatas-namakan dirinya seorang desainer grafis tentu telah melewati pemikiran panjang serta pertimbangan yang matang tentang industri yang akan dihadapinya, sebelum memutuskan untuk menyandang gelar tersebut. Kami yakin, sebagai seorang desainer grafis, kita sadar bahwa ungkapan-ungkapan seperti “Gampang kan, tinggal tempel-tempel doang?”, atau bahkan “Buat apa jadi desainer? Nanti begadang terus, ngga pulang-pulang, saingannya berat banget lagi!” pasti akan kita hadapi, dan suatu saat harus kita jawab dengan pembuktian lewat karya dan kesuksesan yang kita raih.

Namun keresahan yang akhir-akhir ini dirasakan para desainer ternyata lebih ‘gelap’ dan seakan ‘mengancam’ masa depan industri desain itu sendiri, padahal minat dan semangat anak bangsa untuk menyandang status desainer grafis sedang panas-panasnya. Sampai akhirnya, Titik Dua merasa bahwa keresahan di tengah kehidupan para desainer —lintas generasi ini, harus diangkat dan diulas bersama untuk menjadi tema ke-empat kami yang bertajuk, “The Dark Side of Design Industry”.

Keresahan tersebut adalah, “Masa depan industri desain dikhawatirkan akan mengalami penurunan (kualitas dan harga desain), diakibatkan masifnya pertumbuhan pemain baru yang terjun ke industri yaitu jumlah lulusan jurusan DKV yang mencapai angka 2.500 setiap tahunnya terjun ke industri, namun kurang memiliki standar desain yang tepat, dan profesionalitasmelempar harga seadanya, yang membuat kita, mau tidak mau, harus menjadi lebih kuat daripada yang lain —atau yang menolak untuk menjadi kuat pada akhirnya akan gugur dalam persaingan dan keluar.”

Keresahan yang sangat serius ini diulas bersama narasumber kami yaitu, Zinnia Nizar Sompie (Ketua ADGI terdahulu yang sekaligus owner dari Ampersand Studio), Diaz Hensuk (Sekretaris Jenderal ADGI dan owner dari SWG Design), Sakti Makki (Founder dan creative director di MakkiMakki Strategic Branding Consultant), Agra Satria (Co-founder dan creative director di MATA Studio), Teddy Aang(Owner dari FullFill Artplication) dan Evan Wijaya (Graphic Designer dari Thinking*Room).

“Graphic Designer is an Easy Job. Is it?”

Perspektif masyarakat yang menganggap bahwa “Profesi desainer grafis adalah profesi yang mudah, ringan, menyenangkan, dan tidak memerlukan kepintaran khusus —hanya bermodalkan keahlian menggambar saja,” nyatanya cukup menimbulkan berbagai dampak positif dan negatif bagi para desainer, maupun industri desain itu sendiri. Saat ini, tuntutan industri kreatif memang sedang mengalami perkembangan yang pesat, profesi desainer grafis semakin hari semakin dibutuhkan, sehingga terjadi peningkatan jumlah mahasiswa desain yang sangat masif, yaitu sebanyak 2500 mahasiswa baru setiap semesternya.

Namun kenyataannya, apakah profesi desainer grafis benar, adalah pekerjaan yang mudah?

Seperti yang disampaikan Zinnia Sompie, “Sprint? It’s easy. But sustain? It’s a whole different story.” Banyak masyarakat yang berpikir bahwa hanya bermodalkan PC dan program untuk mendesain, kita bisa menjadi seorang graphic designer, atau bahkan memulai graphic studio. Is it that simple? Tentu saja tidak. How about the bills? How about the salary we have to pay? How about everything that keeps your studio sustain when there’s no project around? Memang alangkah lebih baik, seseorang yang memutuskan untuk memulai studio desainnya sendiri, telah memiliki pengalaman yang cukup, sudah belajar dan ‘mencuri’ ilmu dari studio lain terlebih dahulu, mengerti tentang sistem studio desain yang baik, bukan menjadikan studio desainnya menjadi ‘kelinci percobaan’. Apabila mereka tidak bisa memberikan service desain yang profesional, hal itu bukan hanya merusak reputasi mereka sebagai desainer, tetapi juga merusak reputasi dan nama baik profesi desainer grafis lainnya di mata masyarakat.

“Tantangan Industri Desain Masa Kini”

Kita semua jelas sadar bahwa, “Our competition is indeed, a lot.” If we see this as a bigger picture, tentunya hal ini sangat sehat untuk industri desain itu sendiri, semakin banyak pelakunya maka desain grafis di Indonesia akan terus berkembang, dengan catatan pelakunya memberikan kualitas desain yang baik dan serviceyang profesional. Dengan persaingan yang sehat, justru hal itu akan memicu antar desainer untuk saling mengasah diri untuk menghasilkan desain yang terbaik. “Persaingan itu selalu ada dan kita harus sportif dan suportif terhadap sesama rekan desainer, tanpa adanya persaingan, mungkin tidak akan ada design improvement. Menurut saya a healthy balanced competition is necessary in order to keep the industry growing,” jelas Agra Satria.

Teddy Aang menjelaskan juga bahwa deainer tidak boleh menelan kekhawatiran akan persaingan ini secara mentah-mentah. “Hal ini tidak usah dipusingkan oleh siapa pun, karena bukan hanya di jurusan DKV, tapi saya yakin hal ini juga terjadi di jurusan lain. Bukan hanya di industri kreatif, tapi juga terjadi di semua industri. Yang kuliah bisnis, manajemen, pariwisata, dan lain-lain juga semakin banyak kan? Tetapi apakah hal itu menghancurkan industri mereka? Tidak kok. Meskipun yang kuliah bisnis semakin banyak, tetapi para lulusan bisnis belum tentu berada di industri yang sama kan? Begitu juga dengan desain. Menurut saya desain grafis itu bisa berkembang dan evolve tidak hanya di studio desain grafis, tetapi nanti kedepannya akan menjalar ke bidang kreatif lain seperti fotografi, digital (web dan aplikasi digital), animation, content creator (yang lagi nge-trend sekarang) atau bahkan menjadi bloggers atau vloggers, dan masih banyak lagi. Jadi menurut saya, design industry akan baik-baik saja kok! Karena, pelaku industri kreatif akan selalu kreatif dalam mencari penghasilan, sehingga akan terus bermunculan profesi-profesi kreatif baru lainnya,” jelas Teddy Aang.

“Desainer Millennials, Desainer Masa Kini?”

“Karena kita berada di era instan dan kita tahu semua hal secara instan, akhirnya hal tersebut akan menggiring kita ke pemikiran yang instan dan sempit juga. Tanpa bisa dipungkiri, kita semua seperti itu. Contohnya, instagram stories. Mungkin ketika kamu baru bangun tidur, posisinya kamu punya deadline tugas yang belum selesai. Tiba-tiba kamu melihat instragram stories teman kamu yang lagi liburan di Hawaii, atau melihat teman kamu yang sudah sukses buka desain studio sendiri, lihat teman kamu yang karyanya keren banget, pasti hal tersebut menimbulkan asumsi instan di otak kamu bukan,” jelas Teddy Aang ketika berusaha menggambarkan kondisi generasi masa kini, yang sebagian dari mereka pun berprofesi sebagai desainer.

“Millennials” —bukan hal yang asing bila dikaitkan dengan kata “instan”. Namun kami percaya, “Tidak ada asap kalau tidak ada api”, apakah generasi millennials ditakdirkan terlahir untuk menjadi generasi yang malas berproses, tanpa pemicu apapun?

“Buktinya, sekarang dalam bekerja rata-rata kalian dituntut untuk serba cepat. Bukankah semua dimulai dari atasan? Klien kamu memaksa kamu kerja cepat. Lalu, kamu memaksa bawahan kamu untuk kerja cepat. Jadi, kalau ada yang complain, desainer sekarang kerjanya serba instan, ya kalian juga yang paksa mereka untuk kerja cepat? Jika melihat big picture, kita semua pasti akan terbawa oleh arus perkembangan zaman yang instan. Ketika akses informasi didapatkan dengan sangat cepat dan mudah, hal ini mengakibatkan banyaknya referensi visual yang kita dapat dan cerna. Hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung, mengintimidasi kita untuk membuat sesuatu yang mirip, tanpa kita sadari,” jelas Teddy Aang.

Fenomena yang terjadi adalah, Pinterest dan Behance sering dijadikan sumber referensi global. Jumlah “likes” menjadi pacuan bahwa desain tersebut berhasil memikat hati masyarakat, sehingga cenderung menciptakan satu hal yang serupa. Namun pertanyaannya, apakah desain dengan likes yang banyak tersebut pasti cocok untuk diterapkan pada permasalahan komunikasi dari brand yang berbeda? Esensi desain grafis adalah menjadi problem solver dan visual communicator, yang artinya setiap desainer grafis harus menjawab brief permasalahan desain tersebut, baru kemudian mementingkan estetika visual.

“Mudah Dipropaganda, Mudah Depresi, Padahal Paling Kaya dan Berpotensi.”

Dipropaganda siapa? Dipropaganda generasi sendiri. Secara tidak sadar, desainer millennials memang kerap membangun personal branding lewat sosial media yang ada, seperti mengunggah karya-karya, atau pengalaman bekerja di studio desain ternama—rekan desainer lain yang melihat hal ini, yang mungkin masih belum mencapai tahap tersebut mudah merasa depresi ketika melihat rekan kreatif lain yang lebih unggul. Desainer millennials yang nyatanya masih berada di tahap awal perjuangan sering membandingkan diri dengan keunggulan rekan-nya yang jelas berada di jenjang karir yang berbeda.

“They’re not lost, they are just early in the process.”  Gary Vaynerchuk

Ibaratnya, kita membandingkan perempuan yang baru bangun tidur, dengan perempuan yang sudah menggunakan make up, apakah hal tersebut adil untuk dibandingkan? Mereka cenderung mengambil kesimpulan bagaimana caranya untuk mencapai kesuksesan se-instan mungkin, dibandingkan bagaimana cara memperoleh pengalaman sebanyak-banyaknya, agar pada waktunya tiba kita sudah memiliki persiapan yang matang. Namun bila melihat tuntutan generasi, desainer millennials dituntut untuk meraih kesusesan se-efisien mungkin, bahkan sering ditantang “Di tengah kemudahan zaman yang ada, masa kalian tidak bisa melampaui prestasi desainer terdahulu?”

Dipropaganda generasi lain —terlalu sering diberi label generasi pemalas, generasi ‘asal cepat’, generasi millennials seakan-akan menelan label tersebut mentah-mentah, sehingga akhirnya mereka merasa serba salah dalam menghadapi tuntutan zaman.

“Namun begitu, kita harus menjadikan pressure tersebut sebagai pendorong bagi diri kita untuk belajar terus menerus. Ketika kita merasa kurang dibandingkan dengan kompetitor-kompetitor kita, maka kita harus terus berlatih agar bisa catch up dengan yang lain. Kuncinya adalah jangan pernah cepat menyerah dan selalu berusaha menghasilkan karya yang terbaik, semaksimal mungkin,” jelas Evan Wijaya.

Pernahkah kita merefleksikan diri, dibanding kita dipengaruhi propaganda-propaganda tersebut, lebih baik kita berfokus untuk menghasilkan karya terbaik, meng-explore berbagai macam style desain. “Namun bagi kita yang baru menginjakkan kaki di industri ini, menurut saya ada baiknya bila kita menjadi versatile, membekali diri dengan berbagai macam style, referensi, dan pengetahuan untuk dapat survive di industri kreatif ini sehingga dapat dengan mudah beradaptasi dalam menghadapi berbagai macam proyek,” jelas Evan Wijaya. Mungkin selama ini kita lebih menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya hanya propaganda semata? Mungkinkah kekhawatiran tersebut hanya terjadi di kepala kita, padahal kenyataannya kesempatan dan masa depan desainer millennials sangat terang dan menjanjikan?

“Proffessionalism.”

Profesionalitas adalah salah satu tahap terpenting dalam pembuktian seorang desainer, selain dari berkarya. Karya yang baik dan terstruktur sudah pasti harus menjadi modal utama seorang desainer, namun bukankah desainer juga harus mahir dalam berprofesi? Namun penting bagi desainer untuk tetap berkarya dengan maksimal sambil menghadapi berbagai macam karakter klien, pressure, deadline pekerjaan? Banyak desainer akhirnya mundur dari industri desain bukan karena mereka benci berkarya, namun mereka tidak tahan berada di bawah tekanan dan batasan orang lain. Kata “sustain” yang ditegaskan oleh Zinnia Sompie nampaknya memang harus ditelaah matang-matang, karena perjalanan karir seorang desainer layaknya akan menjadi sebuah rangkaian lari marathon yang panjang.

“Kita harus dapat mempertanggungjawabkan hasil karya kita, baik kepada hasil desain, klien, diri kita sendiri dan juga kepada sesama desainer. Apa yang kita ciptakan akan selalu berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap suatu komunitas. Bisa saja akibat seorang desainer yang kurang bertanggung jawab dapat merusak nama baik dirinya sekaligus rekan-rekan seprofesinya, misalnya: kepercayaan dari klien bisa hilang terhadap profesi desainer. Hal ini jelas memiliki dampak yang kurang baik terhadap kita semua,” tegas Agra Satria.

“Reputasi desainer adalah hal yang sangat-sangat penting. Ketika desainer mempunyai karir yang pendek di dunia desain karena reputasi desainer yang buruk, sehingga tidak dapat lagi dipercaya lagi dimana-mana karena rumor akan menyebar dengan sangat cepat. Apabila kamu mempunyai reputasi desainer yang tidak tepat deadline, menipu client ataupun pengalaman buruk lainnya yang dialami oleh client ketika melakukan hubungan partnership, pasti karir lo tidak akan lama. Sebaliknya, ketika seorang desainer mempunyai reputasi yang baik, client happy with the job, pasti dia akan merekomendasikan kita ke orang lain,” tegas Zinnia Sompie.

“Stong Character in a Tough Industry.”

Ketika seorang desainer terjun ke industri dengan mindsetdan ekspektasi yang tepat, yaitu sebagai “problem solver”, mereka akan sadar bagaimana cara menghadapi klien sebagai partner. Layaknya seorang sahabat, yang mau mendengar, dan mau membantu memecahkan masalah sahabatnya, and doing all those things with genuine care. Sama layaknya seperti persahabatan, dua sahabat tidak mungkin selalu memiliki paham yang sama, tetapi apakah seorang sahabat akan membiarkan sahabatnya terjun ke dalam lubang yang salah? Apabila seorang sahabat memiliki paham yang berbeda, apakah kita lantas akan meninggalkan mereka dan tidak berusaha berdiskusi untuk mencari solusi yang tepat?

Sama layaknya seperti hubungan seorang desainer dan klien. Klien adalah sahabat kita, yang terkadang memiliki cara pandang yang berbeda, jelas karena mereka memiliki latar belakang yang berbeda. Namun sebagai desainer yang arif, kita harus membantu mereka untuk memperoleh cara penyelesaian masalah yang terbaik, bukan hanya mengerjakan desain hanya sekedar untuk mendapatkan honornya, dan tidak perduli apakah “the design works, or not”.

Epilog

Kita telah membuka mata kita selebar mungkin tentang bagaimana industri desain yang sesungguhnya. Akan ada seribu satu alasan untuk menghancurkan passion dan semangat kita untuk berkarya di industri desain, namun sebenarnya kita hanya butuh mengingat kembali perasaan yang kita alami ketika kita bisa membantu membangun kehidupan orang lain lewat karya kita, dan apresiasi masyarakat ketika desain yang kita hasilkan bisa menyentuh hati banyak orang, dan memberikan perubahan nyata bagi bangsa ini.

Ketika social campaign kreatif bisa mewakilkan suara mereka yang membutuhkan, dan akhirnya membuat suatu movement positif. Ketika branding yang baik bisa membangkitkan industri kreatif di Indonesia, sehingga kini produk lokal dari pulau terpencil di Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata. Ketika desain aplikasi ojek online bisa membantu jutaan pengendara motor yang tadinya terancam menjadi pengangguran dan penjual makanan pinggir jalan memperoleh kehidupan yang lebih layak. Dan masih banyak lagi inovasi dari dunia desain yang sangat dinantikan bangsa ini untuk membangun kehidupan manusia yang lebih baik lagi.

Dengan karakter yang kuat, dan paham akan positioning-nya sebagai problem solver, situasi industri yang dianggap sebagai “dark side” —tingginya persaingan, klien yang dianggap menyebalkan, siklus kehidupan desainer yang melelahkan, dan lain sebagainya —tentu akan kita pandang secara berbeda, ketika desainer sadar bahwa ia sedang membantu orang lain lewat karyanya, ikut membangun industri kreatif ke arah yang lebih baik, dan juga ikut membangun manusianya —mengedukasi klien tentang bagaimana desain memberi perubahan.

Lantas, apakah sebenarnya “The Dark Side of Design Industry” itu nyata?

When we understand who we really are, what we’re capable of doing, we actually will understand that there’s no such things as “The Dark Side of Design Industry”, only “Designers that didn’t aware and understand what they’re doing.” Because, they’re actually doing something big for the people.

Selamat ikut membangun bangsa. Salam kreatif.

Oleh Tim Editor Titik Dua 2017.

By |2018-01-14T06:20:38+00:00November 29th, 2017|Uncategorized|Comments Off on The Dark Side of Design Industry

About the Author: