Seto Adi : Menyehatkan Kembali Iklim Bisnis Desain Kreatif

///Seto Adi : Menyehatkan Kembali Iklim Bisnis Desain Kreatif

Seto Adi : Menyehatkan Kembali Iklim Bisnis Desain Kreatif

Seto Adi Witonoyo adalah seorang Creative Director sekaligus co-founder dari salah satu Branding Consultant terkemuka di Jakarta yaitu Satu Collective. Lewat berbagai pengalamannya selama bertahun-tahun terjun dalam industri desain, TitikDua berkesempatan menemuinya untuk membicarakan tentang potensi bisnis, pangsa pasar dan cara memperlakukan mitra kerja dari sudut pandang pelaku industri kreatif.

Bagaimana awal mula Kak Seto terjun kedalam dunia bisnis kreatif dan membentuk Satu Collective?

Dulu awalnya, saya dan dua partner kerja saya, Aji dan Wayu berasal dari satu advertising agency yang sama. Kami seringkali nongkrong bareng dan bahkan kerja-pun duduk sebelahan. Dalam posisi kerjapun kami berada diposisi yang sama, yaitu art director. Maka jadilah kami teman akrab dan hampir setiap hari selalu bertukar pikiran.

Lama berkutat di agensi tersebut, kami mulai merasa jenuh dengan pekerjaan yang kami jalani saat itu. Hampir setiap hari kami kerja lembur, dan itu sangat bikin capek badan dan pikiran. Akhirnya saya, Aji dan Wayu berinisiatif untuk membuat agensi kami sendiri yang mungkin dapat membuat kami lebih enjoy dalam menjalaninya, karena bisa lebih bebas dalam menentukan arah.

Awal merintis, kami hanya mampu membuat kantor kecil – kecilan di kamarnya Aji. Usahanya juga masih terbatas, dari ikut pitching, bikin brosur iklan sama spanduk. Tahun itupun baru dapat satu atau dua klien. Emang struggle banget pas tahun pertama, bahkan sampai pernah tidak ada pemasukan sama sekali. Ditambah, saya sama Aji waktu itu baru punya anak, jadi masalahnya makin berat lagi.

Namun, karena prosesnya bisa kami nikmatin dan kami senang menjalani semuanya, kami menganggap masalah-masalah tersebut adalah suatu tantangan yang emang harus dilalui dan bukan suatu beban.

Akhirnya, lama-kelamaan klien kami semakin banyak, dan karena mereka juga, usaha kami bisa berkembang pesat melalui rekomendasi ke temen-temen mereka. Hingga akhirnya jadilah Satu Collective yang sekarang ini.

Sebagai seorang pelaku industri desain kreatif, apa tanggapan Kak Seto tentang lingkup bisnis desain kreatif di zaman sekarang? Dan apa tanggapan Kak Seto soal mass pitching yang kerap terjadi di dunia industri desain kreatif indonesia?

Bisnis desain kreatif memang sedang tumbuh pesat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Banyak orang mulai sadar akan pentingnya suatu desain untuk kebutuhan bisnis mereka. Ibarat seekor domba, rumput kita itu amat luas sekali. Apalagi ditambah dengan kemajuan era digital sekarang ini yang lagi gila banget perkembangannya, pelaku industri desain kreatif sangat dibutuhkan sekali sekarang ini.

Namun karena perkembangan era digital ini juga, seseorang jadi cenderung ingin mendapatkan sesuatu serba instan, termasuk dalam hal desain.

Contohnya, sekarang ada fenomena crowdsourcing, dimana dalam satu platform web membuat suatu brief desain tertentu atau semacam lomba. Disana seluruh desainer di dunia bisa mem-pitching di web tersebut dan desain yang masuk disana langsung dibuka dan ditentukan harganya semua di awal. Akan tetapi, kisaran harganya sendiri relatif murah dan tak seimbang, bahkan bisa dibilang terlalu murah untuk setiap desain hasil pitching massal tadi.

Pengaruhnya bagi industri desain jelas sangat negatif. Skema pitching massal itu sangat merusak harga pasar. Karena seringkali, klien membandingkan harga desain yang kita tawarkan dengan situs web pitching yang relatif murah. Akibatnya, sering terjadi ketidaksesuaian patokan harga yang ideal oleh klien dan desainer. Munculah berbagai alasan menawar yang tidak rasional seperti “Ah kok mahal sih, kemarin saya liat di situs ini harganya ga nyampe segini”

Pitching massal tidak hanya terjadi dalam dunia maya. Banyak juga perusahaan yang mengundang para desainer untuk ikut serta dalam skema pitching mereka. Tetapi pada akhirnya, perusahaan tersebut hanya memilih desain dengan harga yang paling rendah.

Nah, lantas untuk apa kami membuat desain yang bagus jika pada akhirnya hanya untuk membanting harga?

Namun disisi lain, sistem pitching juga sebenarnya bisa menjadi tolok ukur kemampuan bagi para desainer yang masih baru dalam dunia desain. Dari pitching juga sebenarnya banyak ilmu yang bisa diambil, seperti misalkan kita bisa melihat tren dan standar kualitas desain yang sedang berkembang di pasaran. Tetapi jangan sampai pitching menjadi tulang punggung utama seorang desainer dalam mencari profit, karena desainer juga harus memiliki opsi lain dalam mencari penghasilan yang lebih pasti.

Menurut Kak Seto, adakah suatu solusi dalam menangani masalah pitching ini ?

Seharusnya perlu diadakannya pitching fee di Indonesia. Jadi, kalaupun ada sistem pitching, para desainer yang telah berkontribusi, baik yang terpilih ataupun tidak tetap harus dibayar dengan harga yang sesuai oleh pihak penyelenggara. Karena waktu dan tenaga yang dipakai untuk mengerjakan pitching itu juga besar.

Pitching sebenarnya merupakan dampak dari masih kurangnya perhatian pemerintah akan industri desain kreatif di indonesia. Masalah ini bukan hal yang baru sebenarnya. Sangat perlu adanya peran dari pemerintah sebagai regulator dalam menentukan aturan khusus, seperti minimum charge/fee yang disahkan oleh negara, agar para pelaku industri desain kreatif dapat lebih terjamin penghidupannya.

Apalagi sekarang sudah ada BEKRAF sebagai naungan untuk para desainer, yang seharusnya bisa untuk menangani masalah-masalah ini dan membawanya ke sektor hukum regulasi. Harapanya, melalui BEKRAF ini aspirasi kami bisa di dengar sampai ke Pak Presiden, dan di follow up.

Atau bisa juga melalui asosiasi desain yang ada di Indonesia. Untungnya sekarang ini sudah ada berbagai forum dan asosiasi desain di indonesia, seperti DGI, ADGI, dan yang lainnya. Mungkin dari sana bisa dibentuk juga suatu kebijakan regulasi bagi para desainer.

Lalu bagaimana Tim Satu Collective bisa tetap survive dalam iklim industri desain lokal seperti sekarang ini ?

Bisa dibilang, kami bisa survive karena kami gapernah milih-milih untuk kerjasama dengan klien. Mau klien besar atau kecil, semua kami layani. Karena bagi kami itu seru, setiap klien memiliki penanganan masalah yang berbeda.  Kami pernah mengerjakan proyek mulai dari pemerintahan, kementerian, big company, kedai kopi sampai yang gak biasa seperti rantai motor.

Masing-masing challengenya beda dan seru.

Waktu kami mendapatkan project branding, rantai motor misalnya. Tantangannya itu bagaimana kami membuat produk rantai motor yang sering dianggap remeh oleh sebagian besar orang bisa kelihatan bagus di pasaran. Nah itu tantanganya, tentu seru dan menarik . Dari situ rekan kerja  Satu Collective dituntut untuk berpikir out of the box dari thinking process sampai ke eksekusinya

Lalu untuk mengatur flow kerja agar tetap balance, kami membuat suatu refreshment bagi rekan-rekan di kantor. Contohnya, karena di kantor itu banyak banget yang suka musik, kami akhirnya membuat berbagai project music, baik seperti event musik atau mendesain cover album.

Bagi kami kreatif itu nggak melulu tentang desain, desain itu kan job kami, namun musik itu wadah kreativitas kami untuk having fun, agar pikiran kami tidak monoton.

Bicara soal mitra kerja, bagaimana Tim Satu Collective menanggapi mitra yang masih seringkali awam dalam memahami dan menghargai proses suatu desain ?

Dari kami sendiri ada tim khusus client service. Mereka udah jago dalam meyakinkan ke calon klien soal harga dan jasa apa aja yang ada dalam Satu Collective.

Meski begitu, untuk desainernya sendiri juga harus berani dalam menentukan harga. Kalau memang klien nya ga setuju dengan alasan – alasan yang udah saya sebutkan diatas tadi, ya kami anggap memang belum rejeki aja.

Harus berani mempertahankan prinsip dan memberi pengertian ke klien, bahwa kami disini menjual kualitas dan service, bukan hanya sekedar desain asal jadi. Namun kami sebagai konsultan dan partner yang bisa memberi tau desain yang berkualitas itu seperti apa, kami bisa memberi solusi, kami bisa memberi assistance, juga supervise, sampai ke tahap produksi. Dan hal itulah yang memebedakan kami dengan desain – desain yang muncul dari sistem online pitching tadi.

Apakah Satu Collective memiliki cara khusus untuk membreakdown brief dan mentreatment klien yang bermacam – macam?

Yang pertama dan yang paling penting, kamu harus mengerti dahulu brief nya. Mencari insight dari apa yang mau diangkat? dan Pengaplikasian desainnya seperti apa ?

Setelahnya brief itu kamu pecahkan masalahnya bareng-bareng. Kalau punya tim, ya problem solving lah sama tim. Kalau kerja sendiri, berarti harus riset dari case study yang pernah ada sebelumnya.

Selain itu yang paling penting bagi seorang desainer adalah ia harus tau bagaimana berkomunikasi dan mengedukasi klien tentang perkembangan desain. Karena desain akan terus berkembang, dan pasti pemecahan masalahnya akan selalu berbeda. Desainer juga harus bisa memberikan advice, tentang brief yang ia minta. Tak serta merta menelan mentah-mentah brief dari klien.

Caranya dengan mempersiapkan ‘amunisi’ sebelum meeting dengan klien. Amunisi ini dapat berupa hasil research terkait permintaan desain yang akan dibuat, atau bisa juga dummy dari desain yang akan dibuat.

Contoh misalkan mendesain bungkus kopi. Pasti sebelumnya terlebih dahulu harus meriset beberapa bungkus kopi yang sudah ada di pasaran. Dari Starbucks, Coffee Bean atau yang lainnya. Selain itu, bisa juga dengan menganalisa bungkus kopi tadi, mulai dari materialnya apa, penggunaan elemen desainnya seperti apa dan hal-hal lainnya. Baru dari situ seorang desainer bisa meyakinkan klien secara penuh dengan amunisi – amunisi tersebut.

Editor :

Muhammad Ammar Farras

Deynadia Ali

Jurnalis :

Faizah Amrina

Margareta Lim

Yolia

By |2018-02-14T12:05:19+00:00February 14th, 2018|Medium, Posts|Comments Off on Seto Adi : Menyehatkan Kembali Iklim Bisnis Desain Kreatif

About the Author: