Buah Proses Para Seniman Muda dalam Pameran Karya Mixed Feelings 03

///Buah Proses Para Seniman Muda dalam Pameran Karya Mixed Feelings 03

Buah Proses Para Seniman Muda dalam Pameran Karya Mixed Feelings 03

Tepat pada 11 April 2018 lalu, pameran Mixed Feelings 03, yang merupakan sebuah project dari Atreyu Moniaga, diselenggarakan di Qubicle Senopati.

Pameran ini merupakan pameran ke-empat yang diselenggarakan oleh Atreyu Moniaga, menyusul ketiga pameran (Mixed Feelings 00, Mixed Feelings 01 dan Mixed Feeling 03) yang telah sukses sebelumnya. Proyek ini bertujuan untuk menaungi para seniman muda yang dipersiapkan untuk terjun kedalam dunia desain industri.

Pameran ini juga merupakan buah hasil pencapaian dari para seniman muda tersebut setelah melalui proses latihan, asistensi dan pembelajaran intensif selama satu tahun bersama Atreyu Moniaga.

Pameran Mixed Feelings pada tahun ini mengangkat tema Fabel sebagai tema utama yang dibawakan. Tema ini diangkat untuk menceritakan tentang proses pendewasaan setiap anggotanya dalam berkarya, dan mencapai mimpi. Berawal dari kenaifan, dan berujung pada tekad, ambisi yang kuat, menghasilkan pencapaian hebat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dikemas menjadi kumpulan karya yang menarik, masing- masing seniman menyampaikan interpretasi makna dari tema Fabel ini dengan cara yang berbeda-beda.

Untuk pameran keempat ini, ada 5 artist yang ikut menampilkan karya mereka, yaitu Rasheeda Rahma, Kevin Keev, Ray Lidya, dan Riki Sumardianto. Mereka adalah seniman yang lolos pada masa kurasi dan inkubasi yang dilaksanakan dalam kurun waktu 1 tahun. Karya yang mereka bawa pada pameran Mixed Feelings 03 merupakan sebuah penanda perubahaan dan perkembangan mereka dari proses inkubasi tersebut.

Karya pertama dari kapten tim Mixed Feelings 03 yaitu Rasheeda Rahma menampilkan rangkaian lukisan yang ia beri judul “Mixed Feelings”. Melalui karyanya ini, Rasheeda Rahma menceritakan tentang rekan,tim, mentor, dan orang sekitarnya yang membantunya melalui semua proses naik turun yang ia lalui. Rasheeda berusaha menyampaikan cerita tersebut dalam bentuk visual yang disusun berdasarkan kronologis cerita.

Selanjutnya ada Kevin Keev, melalui karyanya ia melukiskan kilas balik tentang masa kecilnya mengenai perilaku keluarga, dan tempat ia tumbuh.

Kemudian ada Tiarama yang mengangkat tema “Odro”, yang berarti cantik. Dalam karyanya, Tiarama ingin menghadirkan sebuah kecantikan dan kekuatan melalui ilustrasi fashion dengan busana model Haute Couture dan karya desainer ternama Indonesia sebagai koleksinya.

Lalu ada Ray Lidya, mahasiswi dari Universitas Binus, yang mengangkat tema “Wild Flowers’ atau bunga liar. Karya Ray Lidya bersifat illustrasi yang diselingi oleh ukiran – ukiran dari kertas. Lewat Wild Flowers, Ray Lidya menceritakan tentang kisah para gadis yang hidup sendirian ditengah hiruk pikuknya kehidupan, namun tetap bertumbuh cantik dan anggun bak bunga – bunga liar. Ray Lidya ingin menuangkan perasaan romantis dalam karyanya melalui gabungan antara puisi dan illustrasi, serta menggunakan teh sebagai bahan dasar pembuatan karyanya untuk menciptakan nuansa yang hangat.

Terakhir, ada Riki Sumardianto dengan karyanya yang berjudul “Celotehan Lampau”. Koleksi karya Riki ini berisikan tentang ingatan – ingatan Riki akan masa kecilnya. Inspirasi dalam pembuatan karyanya ini ia temukan ketika ia mengingat kembali memori masa lalunya yang terpendam dan Riki merasa damai karena mengingatnya. Riki yang semasa kecil pernah mengalami verbal bullying, ingin menerjemahkan caci maki yang pernah ia alami  kedalam bentuk visual dengan sudut pandang yang jenaka dan karakter yang imajinatif.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, pada hari Sabtu, 21 April 2018 diadakan sesi diskusi terbuka mengenai Dibalik Fabel.

Para narasumber yang terdiri dari Bintang Gemilang, Mutiara Suryadini, dan Kurniawan Wijaya selaku Exhibition Designer, Creative Director and Designer, Editor in Chief dari pameran dan buku FABEL. Masing-masing dari narasumber berbagi pengalaman dan kiat-kiat mengenai persiapan pameran, alur pameran, serta desain dan alur buku.

Ketika ditanya mengenai tantangan yang dihadapi saat penyusunan karya menurut Bintang Gemilang, “Masing-masing rangers memiliki karakter yang berbeda dan kuat satu sama lainnya, bagian yang paling menantang adalah bagaimana cara menyusun karya agar tidak saling bertabrakan.” Bintang Gemilang yang merupakan Exhibiton Designer pameran FABEL dan memiliki latar belakang sebegai Interior Designer ini mampu menciptakan alur dan susunan yang pas dalam menampilkan karya-karya tiap rangers.

Selain pameran, konsep dan penyusunan buku ilustrasi FABEL juga diulas di diskusi ini. “Desain buku yang baik adalah yang memikirkan siapa yang akan membaca bukunya, dan mencari cara agar orang langsung tertarik saat melihat bukunya,” ujar Mutiara yang merupakan Creative Director dan Designer. Sebelum mendesain buku FABEL, Mutiara sudah mendesain beberapa buku Atreyu Moniaga project lainnya yang terdiri dari buku ilustrasi dan buku foto.

Konsep desain buku tak lepas dari susunan isi bukunya sendiri. Kurniawan Wijaya selaku Editor in Chief buku FABEL juga bercerita tentang alur isi buku, “Karya dalam buku disusun dengan alur naik turun yang akan membuat pembaca tertarik untuk melihat karya-karya-nya. Karya dimulai dari yang paling berwarna, lalu diselingi dengan warna yang tenang agar pembaca dapat memiliki jeda, dan ditutup dengan karya yang warnanya lebih vibrant.” Menjadi Editor in Chief adalah pengalaman pertama bagi Kurniawan Wijaya.

Buku ilustrasi Mixed Feelings 03: FABEL merupakan buku ilustrasi pertama Atreyu Moniaga Project yang berisikan tulisan dengan bilingual dan dikemas dengan cover buku yang bergambar.

By |2018-05-05T15:00:57+00:00April 14th, 2018|Light, Posts|Comments Off on Buah Proses Para Seniman Muda dalam Pameran Karya Mixed Feelings 03

About the Author: