GOOD DESIGN IS GOOD BUSINESS

///GOOD DESIGN IS GOOD BUSINESS

GOOD DESIGN IS GOOD BUSINESS

“…Itulah mengapa profesi desain berkembang, tapi pada saat yang sama, desain adalah salah satu profesi termuda yang pernah ada, di satu sisi, kita harus mengerti bahwa jika kita hidup di generasi ini. Kita tidak akan pernah membawa desain to the level of banking. But, it doesn’t mean we couldn’t work our ass off untuk bisa menaikkan derajat desain.” –wawancara dengan Hadi Ismanto, Founder dari Manual Jakarta, 2018

Brand dalam sebuah perusahaan menjadi salah satu komponen penting pada dunia bisnis modern. Banyak perusahaan yang mulai mengandalkan seorang graphic designer dalam hierarki perusahaan mereka, baik sebagai salah satu pangkat dari internal perusahaan, maupun pihak ketiga yang ditunjuk untuk mengerjakan hal-hal yang bersangkutan dengan desain, contohnya adalah berdirinya graphic house yang merepresentasikan kemajuan era digital.

 

Banyaknya graphic house yang telah berdiri selama sewindu terakhir telah menunjukkan bukti nyata atas kompetensi dan kualitas dari para desainer lokal yang mampu bersaing dalam kancah nasional, maupun internasional.

Mewujudkan hal ini tidaklah mudah, karena berangkat dari ilmu yang ditimba selama di bangku perkuliahan, para calon desainer grafis telah dituntut untuk mengerahkan segenap waktu, tenaga dan pikiran yang harus selalu on the go selama 24 jam. Belum lagi tuntutan deadline yang selalu mengejar untuk diselesaikan, serta pencarian ide yang tidaklah mudah.

Dalam desain kreatif, banyak hal-hal yang perlu dieksplorasi dalam proses untuk menyelesaikan tugas, mulai dari brainstorming, thinking process yang akhirnya membentuk idealisme kreatif dalam proses pembuatan suatu project yang tidak hanya bagus secara estetik, namun tepat guna dalam menyelesaikan masalah. Semua proses dalam mencapai hal itu memiliki nilai tersendiri, ditambah waktu dan tenaga yang dikerahkan untuk penyelesaian project tersebut, dan revisi yang tidak jarang perbedaan cara pandang dan idealisme seorang graphic designer dan klien.

Akar utama masalah dalam dunia industri desain lokal masih berputar pada tempat yang sama, yaitu minimnya kesadaran dan apresiasi atas proses dan hasil akhir yang membuat profesi seorang graphic designer dipandang sebelah mata, atau dianggap sebagai pekerjaan ringan yang hanya membutuhkan waktu singkat dengan harga seikhlasnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Faktor pertama timbulnya masalah tersebut adalah karena kurangnya kepercayaan diri seorang graphic designer muda itu sendiri. Kurangnya kepercayaan diri ini biasanya timbul ketika seorang graphic designer muda mulai mencoba untuk menjalani project di luar perkuliahan, dan dalam hal ini adalah keputusan dalam penentuan harga untuk  dari karya yang diciptakan juga keraguan akan industri itu sendiri. Percakapan yang kerap ditemui dalam keseharian mahasiswa graphic design adalah, “Kira-kira, kalau mau mulai freelance, saya mulai darimana? pasang harga berapa? Bakal sukses ga?”

Keraguan inilah yang membuat seorang graphic designer muda menjadi ragu untuk menambah pengalaman kreatif dan menunjukkan kebolehannya dalam berbisnis. Padahal, dengan matakuliah yang telah mengajarkan ilmu-ilmu desain grafis secara akademis, maupun ilmu yang didapat melalui proses kreatif secara praktis, seorang graphic designer muda semestinya sudah dapat percaya dan dipercaya dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Faktor lain yang menjadi kendala juga datang dari klien. Tak jarang, banyak klien yang belum terlalu memahami hal apa yang dilakukan oleh seorang desainer grafis, yang imbasnya pada kurangnya pengakuan dan fee yang tidak sebanding untuk seorang desainer grafis.

Hal tersebut membuat kepercayaan diri sebagai graphic designer muda serta ilmu dan skill yang telah dikembangkan tidak dapat disalurkan secara utuh, karena mengingat harga yang tak sebanding dengan usaha dan waktu yang telah diberikan untuk menghasilkan desain tersebut.

Seringkali profesi desainer grafis dianggap sebagai ‘pelengkap’ dalam proses pembentukan identitas brand suatu perusahaan. Padahal semestinya, klien dan desainer dapat saling bekerja sama, senantiasa saling bahu – membahu dan ikut terjun langsung kedalam pengembangan identitas brand.

Kunci utama dalam permasalahan ini salah satunya adalah kejelasan dan kematangan dari brief suatu project. Langkah – langkah dalam pematangan brief masih seringkali disepelekan sehingga kesalahpahaman antara klien dan desainer grafis pun tidak dapat dihindari.

Selain itu, dengan perkembangan industri bisnis yang semakin dinamis, persaingan usaha juga sudah sangat berkembang. Bukan hanya terbatas pada penjualan dan pengiklanan produk, namun kita telah memasuki ranah promosi kreatif. Hal inilah yang seharusnya dapat lebih dimaksimalkan oleh para pembisnis atau klien dengan profesi desainer grafis. Desain grafis tak hanya terbatas pada pembuatan poster ataupun banner, namun lebih dari itu ia dapat juga membantu untuk memecahkan berbagai masalah secara kreatif dan efektif.

Seto Adi memaparkan, bahwa kemajuan era digital yang pesat membuat pelaku industri kreatif sangat dicari untuk membuahkan hasil yang maksimal, namun tidak sedikit klien yang mengharapkan desain instan, atau desain yang selesai dalam waktu singkat. Hal inilah yang menimbulkan fenomena crowdsourcing atau pitching massal yang akhirnya beerdampak pada rusaknya harga pasar desain

Perjalanan dalam mewujudkan iklim industri desain kreatif yang ideal di Indonesia masih sangatlah panjang. Bukan hanya melalui peran desainer dan klien, namun di masa depan, diharapkan adanya suatu regulasi khusus dari pemerintah serta peran nyata dari masyarakat untuk mulai sadar dan aktif akan pembangunan potensi dalam industri desain kreatif ini, khususnya di Indonesia.

Salam Kreatif.

(oleh: tim editor)

By | 2018-04-20T18:42:45+00:00 April 20th, 2018|Bold, Posts|Comments Off on GOOD DESIGN IS GOOD BUSINESS

About the Author: