MasterWork&MasterTalk: Membuat Identitas Karya melalui Pengolahan Referensi

///MasterWork&MasterTalk: Membuat Identitas Karya melalui Pengolahan Referensi

MasterWork&MasterTalk: Membuat Identitas Karya melalui Pengolahan Referensi

Masterwork

Pada tanggal 21 April yang lalu tepatnya di bilangan Jakarta Creative Hub, Masterpiece Magezine kembali mengadakan Masterwork atau lokakarya yang bertemakan “Creatively Sneaky”. Lokakarya ini dibawakan oleh empat pembicara dari Studio Tomodachi, yakni Basith, Jake, Kemas (kemasacil), dan Ikhwan (aftergani).

Masterwork kali ini diawali dengan sesi diskusi ringan yang diiringi dengan live demo oleh Ikhwan atau lebih dikenal sebagai aftergani di Instagram. Selama live demo berlangsung, para pembicara juga menjelaskan proses yang telah mereka lalui sehingga dapat menghasilkan suatu karya yang memuaskan.

Para fasilitator menjelaskan, bahwa tahap pertama dan yang paling penting dari pembuatan suatu karya adalah sketsa. Sketsa sangatlah penting untuk mencari sudut pandang (angle) yang pas dan komposisi yang cocok serta menarik agar dapat membuat gambar lebih dinamis. Menentukan komposisi adalah tahapan proses yang paling memakan waktu karena dari komposisi tertentu dapat menghasilkan suatu pesan yang berbeda.

Setelah sketsa rampung, tahapan kedua mengarah pada pencarian warna yang sesuai. Salah satu tips dari para pembicara adalah menggunakan warna yang dingin dipandu dengan warna yang hangat. Ketika titik tengah antara warna hangat dan dingin ditemukan, disanalah terdapat suatu kesatuan. Biasanya sebelum mulai mewarnai, pembicara juga mencari referensi baik dari ilustrasi lain atau foto. Setelah pemilihan warna, sketsa awal yang masih berantakan bisa dirapikan, lalu berlanjut ke tahap finishing seperti pembuatan lineart.

Sebelum peserta memulai proses sketsa, mereka diingatkan kembali bahwa terdapat dasar utama yang harus dimengerti, yaitu hal-hal fundamental dalam membuat suatu ilustrasi, seperti anatomi dan gestur. Aturan-aturan utama tersebut harus dipahami sebelum dapat digabungkan dengan referensi lain untuk menciptakan sesuatu yang baru. “If you want to break the rules, learn the rules first!” ujar Basith.

Untuk lebih mendalami materi, peserta kemudian diberikan waktu 30 menit untuk menggambar karakter yang mereka gemari tanpa referensi. Kemudian setelah selesai menggambar, masing-masing karya akan dievaluasi oleh Basith dan Kemas untuk melihat sisi mana yang dapat dikembangkan dan potensi mana yang harus dipertahankan.

Workshop ini telah menalarkan poin poin penting dalam membuat sebuah ilustrasi. Dari hasil evaluasi tersebut diketahui bahwa poin penting pertama adalah mengetahui apa yang harus kita sampaikan dan apa yang harus kita gambar. Tanpa mengetahui jelas tujuan dan media penyampainya, ilustrasi tersebut tidak dapat dimengerti oleh yang menyaksikan. Poin penting kedua adalah menentukan konsep dan jika memiliki lebih dari satu objek, tentukan korelasi antar objek dengan menyatukannya menjadi sebuah gambar besar. Kedua poin ini penting untuk menghasilkan suatu cerita yang, walau tanpa diwarnai (hanya lineart), dapat dimengerti dan terasa relevan.

Ketika bergerak di bidang industri, hal penting lainnya adalah kerja sama atau teamwork. Peserta kemudian dibagi menjadi kelompok yang masing-masing terdiri dari empat orang untuk lanjut menentukan sebuah konsep. Tiap anggota membuat aset ataupun karakter yang dapat mendukung konsep tersebut. Masing-masing kelompok diberikan tema dunia alternatif dan mereka diperbolehkan untuk mencari referensi dari internet.

Sesi ini lebih mendalami tentang pengumpulan berbagai referensi yang dapat disatukan, lalu mengembangkan kumpulan ide tersebut menjadi sesuatu yang baru dan menarik. Peserta diberikan waktu 1 jam, lalu fasilitator dari Studio Tomodachi membantu mengevaluasi. Dapat dilihat bahwa ilustrasi yang dihasilkan dengan adanya gabungan dari berbagai referensi dapat menghasilkan sesuatu yang sudah lebih berbobot dan cerita yang dibangun juga sudah mulai terbentuk.

Pembicara menekankan bahwa beberapa hal teknis seperti permainan perspektif dan mencari referensi dari berbagai sumber dapat mendukung poin fundamental awal dalam ilustrasi tersebut. Contohnya, mengulik foto gedung-gedung dan arsitektur untuk bantu menjadi referensi bentuk dan perspektif, ataupun menggali tentang fashion untuk menciptakan baju yang cocok pada skenario tertentu.

Hal terakhir yang perlu ditekankan adalah pembangunan referensi dalam kelompok. Karena ketika bekerja dalam tim, baiknya untuk saling bertanya atau saling mengkaji karya masing-masing karena tiap orang memiliki penilaian tertentu dari suatu hal dan penilaian tersebut bisa menjadi referensi yang baik untuk mengembangkan gambar.

Jurnalis : Everalda Oktavian

Editor : Alifia Nur Utami

Fotografer : Juan Cokropanus

Jason FS

Mastertalk

Pada Sabtu 21 April lalu, Masterpiece Magazine telah mengadakan Mastertalk yang berjudul “Menemukan Identitas Ilustrasi Melalui Tabungan Referensi” dengan empat pembicara dari studio Tomodachi. Empat pembicara ini terdiri dari Ibrahim, Kemas, Jake, dan Ikhwan.

Seminar ini diawali dengan pengenalan para pembicara. Ibrahim menjelaskan bagaimana dia tidak menggangap dirinya sendiri sebagai founder dari studio Tomodachi, melainkan sebuah “kebetulan nemu” yang ia dan kawan – kawan temukan bersama. Studio Tomodachi juga didirikan oleh Kemas yang mengusulkan nama “Tomodachi” sendiri. Setelah pengenalan dan sedikit latar belakang, sesi Mastertalk baru memasuki bahan presentasi.

Pembicaraan kemudian dilanjutkan oleh Jake yang membawa subjek “Finding Your Identity Through Reference Building”, yang disederhanakan sebagai “Mencari Jati Diri HQQ di Antara Balada Kesamaan”. Jake menjelaskan bahwa seni itu tidak semua murni. Hampir semua seni itu rekreasi dari karya-karya sebelumnya, atau seperti yang dijelaskan Jake sebagai “transfer the existing”. Untuk menghasilkan sebuah karya yang orisinil, triknya adalah menggabungkan dari berbagai referensi yang ada sehingga menghasilkan sesuatu yang menarik.

Para pembicara menyarankan agar semua illustrator atau calon illustrator mempunyai Reference Bank, atau seperti mood board yang penuh dengan karya-karya yang menarik untuk memicu inspirasi gaya sendiri.

Selain mempunyai Reference Bank yang banyak, dalam mengembangkan gaya sendiri harus juga mengusasi the Fundamentals, yaitu dasar-dasar pelajaran seni desain. 1st Fundamentals, tahap pertama, terdiri dari: value, anatomi, perspektif, dan komposisi. 2nd Fundamentals, tahap kedua, terdiri dari: color theory, proporsi, dan common practice. Tahap ketiga adalah dimana seseorang bisa mulai mengeksplorasikan gaya-gaya yang berbeda, namun disaat bersamaan membangun referensi juga.

Tahap terakhir adalah ketika seseorang sudah menemukan suatu gaya sendiri, dimana mereka sudah nyaman dalam mengembangkan gaya tersebut. Mempelajari Fundamentals penting dalam mengembangkan gaya sendiri, karena semua proses dialami secara bertahap. Seperti yang tertulis di presentasi powerpoint, dengan teks putih: “Style should be something you develop after you’ve learned the fundamentals, never before it.”

Tapi yang paling penting untuk dipahami, bahwa dalam mengembangkan gaya sendiri butuh waktu dan proses, untuk jangan pernah berhenti menginginkan untuk berkembang.

By |2018-05-10T10:35:45+00:00May 9th, 2018|Light|Comments Off on MasterWork&MasterTalk: Membuat Identitas Karya melalui Pengolahan Referensi

About the Author: