“Noor” adalah sebuah judul pameran tunggal, menampilkan karya-karya Baron Basuning yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta Pusat, sejak tanggal 8 Januari hingga 8 Februari 2019. Erros Djarot, selaku teman dekat dari Baron Basuning, membuka pameran ini sambil menjelaskan bahwa acara ini digelar sebagai bentuk nostalgia dari Baron akan pameran tunggal pertamanya. Saat itu, tepatnya tahun 2001 lalu, Erros Djarot berhasil meyakinkan Baron untuk menggelar pameran tunggal yang pertama kali di gedung kantornya, di daerah Pejompongan. Kemudian Eddy Soetriyono, selaku pengamat seni dan desain, bertindak sebagai kurator dalam pameran “Noor” ini. Baron Basuning yang lahir pada tahun 1960, telah memilki banyak pencapaian gemilang dalam dunia melukis. Seperti salah satunya, saat Ia mengikuti collective exhibition “Essence of Abstraction” yang digelar di Agora Gallery, New York pada tahun 2013. Selain itu, Ia juga telah menyelenggarakan 12 solo exhibition yang membuatnya dikenal sebagai pelukis abstrak yang jenius. Namun siapa sangka bahwa hingga tahun 1998, Baron Basuning sempat berprofesi sebagai aktivis dan jurnalis. Judul dari pameran ini, “Noor” diambil dari kosa kata bahasa Arab, yang berarti cahaya, sebagai bentuk kekaguman Baron akan cahaya yang berpendar atau memancar dari dan ke arah masjid-masjid di seluruh dunia. Hal ini juga menjadi sumber inspirasi dan konsep dari berbagai karyanya dalam bentuk lukisan abstrak yang dipamerkan kali ini. Pengalamannya menyimpulkan bahwa masjid tak harus mempunyai desain yang relatif sama satu sama lain, misalnya dengan hanya mengandalkan kaligrafi dan hal-hal estetik lainnya yang terlalu sering digunakan. Namun, cahaya juga dapat menjadi faktor yang cukup besar yang patut dipertimbangkan saat menikmati arsitektur masjid-masjid tersebut. Selain itu, Baron mengungkapkan bahwa keindahan masjid-masjid yang ia lihat dapat meningkatkan rasa kagumnya kepada yang Maha Kuasa. Hal ini yang berusaha Ia tuangkan dalam berbagai karyanya. Pada pameran tunggalnya kali ini, kita diajak untuk melihat dari prespektif pelukis dengan menggunakan semua indra yang kita miliki, di mana setiap warna dan goresan cat dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang yang melihatnya. Pada setiap lukisan, Baron seolah-olah menyampaikan apa yang Ia rasakan saat melihat keindahan masjid-masjid tersebut. Di sisi lain, kita sebagai penikmat juga akan merasakan perasaan yang sama, namun melalui cara yang berbeda. Seperti yang dapat kita lihat pada salah satu lukisannya yaitu “Perjamuan Senja”. Saat melihat lukisan ini, mata kita seperti dimanjakan dengan sebuah cahaya senja yang memiliki warna-warna lembut, sekaligus warna hitam yang mulai terlihat dari belakang. Dalam pameran ini, Baron Basuning tidak selalu menggunakan kanvas sebagai media melukisnya. Pada karyanya yang berjudul “Ego” Ia menggunakan cermin sebagai medianya. Baron mengungkapkan bahwa Ia selalu mencoba hal-hal baru dalam media melukis agar dirinya selalu tertantang untuk tetap berfikir kreatif. Pameran tunggal ini dapat dikatakan berjalan dengan sukses. Hal ini terlihat dari pengunjung yang tampaknya sangat menikmati karya-karya Baron, serta beberapa kelompok anak muda yang mengambil berbagai pose selfie di depan karyanya. Menurut kami sendiri, “Noor” adalah sebuah pameran tunggal yang sangat menarik untuk dikunjungi. Kami merasakan pengalaman yang sangat kompleks, membekas di hati, sekaligus relaxing di waktu yang bersamaan, saat menikmati karya-karya Baron Basuning kali ini. Selain itu, pengunjung lain pun sepertinya juga mendapatkan pengalaman yang serupa, terlihat dari senyum mereka yang mengembang saat keluar dari venue Galeri Nasional.

Jurnalis : Muhammad Kautsar

Editor: Sabika Radjab