“Kuldesak merupakan satu awal, satu pengingat bahwa kita akan selalu bisa bertahan kalau kita punya sesuatu yang kita percaya. Kalau menurut saya, ini adalah film yang sangat menarik. Judulnya Kuldesak, yang artinya jalan buntu. Akan tetapi, film ini menjadi pembuka untuk saya dan masyarakat luas. Bukan kita saja sutradaranya, tapi masyarakat luas juga. Seperti penanda penting buat kami,“ kata Riri Riza, salah satu sutradara film Kuldesak (1998) kepada Redaksi Titik Dua di Sekolah Minggu Kinosaurus.

Kinosaurus merupakan sebuah microcinema yang menampilkan semua film dari seluruh dunia dalam suasana yang akrab. Dengan adanya Kinosaurus sebagai respon dalam pemutaran film kecuali film yang tayang di jaringan bioskop komersial. Salah satu kegiatannya terjadi di Sekolah Minggu, yaitu tempat sharing/bincang sinema dan hal-hal disekitarnya. Pada tanggal 24 Februari 2019, edisi 20 Tahun Kuldesak menjadi topik pembahasan Sekolah Minggu bersama Riri Riza dengan Alexander Matius sebagai pembawa acara. Pada saat itu, Riri Riza sebagai tamu sangat antusias dan bersemangat menyampaikan film pertamanya. Beberapa pertanyaan dari orang-orang yang hadir menambah serunya sharing session. Disertai promosi buku Kuldesak yang baru diterbitkan berisi tentang perjalanan film Kuldesak dengan foto-foto dan cuplikan adegan. Namun, buku ini bukan untuk diperjual belikan, melainkan kreatornya berniat “menyumbangkan” secara sukarela dan tidak dikomersialisasi.

Kuldesak sendiri adalah film drama komedi yang dikerjakan oleh 4 sutradara yaitu Mira Lesmana, Nan Achnas, Rizal Mantovani, dan Riri Riza. Film Kuldesak merupakan film indie pertama mereka berempat sebagai sutradara. Dibintangi oleh Oppie Andaresta, Bianca Adinegoro, Ryan Hidayat, dan Wong Aksan. Film ini sebagai napas baru dan kebangkitan film Indonesia yang tayang kembali di bioskop ,setelah masa pemerintahan orde baru yang sering disebut sebagai mati surinya perfilman Indonesia. Dengan durasi 110 menit, Kuldesak merupakan gabungan empat segmen cerita yang dirangkai mejadi satu kesatuan. Riri Riza menjadi sutradara yang pertama kali melakukan pengambilan gambar pada Desember 1995. Dilanjutkan oleh Nan Achnas pada 1996, Mira Lesmana di tahun 1997, dan Rizal Mantovani yang menyelesaikan di 1998. Fokus cerita tentang empat anak muda di Jakarta pada pertengahan 1990; Oppie Andaresta sebagai Dina, penjaga loket bioskop yang tergila-gila dengan pembawa acara televisi populer. Ryan Hidayat sebagai Andre, musisi tidak bahagia yang selalu mengaggungkan personil Nirvana, Kurt Cobain. Wong Aksan sebagai Aksan yang bermimpi menjadi sineas meskipun tidak mempunyai dana untuk membuat film. Dan Bianca Adinegoro sebagai Lina ,pegawai biro iklan yang ingin membalas dendam atas perilaku atasannya yang tidak senonoh.

Pada awalnya, Kuldesak dibuat dari mimpi para sutradara muda ini untuk membuat film. Pada masa pemerintahan orde baru sangat sulit dalam berkarya. Pembuat film harus mematuhi aturan yang dibuat oleh Ikatan Karyawan Film dan Televisi (KFT). Peraturan tersebut dipakai di industri ini dan dikatakan sebagai penghambat regenerasi pegiat perfilman. Dengan “berontak”, Mira Lesmana, Nan Achnas, Rizal Mantovani, dan Riri Riza membuat film ini secara diam-diam. Hal tersebut dilakukan agar tidak diketahui oleh KFT, walaupun mereka tahu ada risiko yang serius. Namun, perjuangan dan semangat mereka tidak sia-sia. Dengan dibantu oleh beberapa gerakan pemberontak lainnya, Kuldesak sukses dipasaran dan mencapai box office. Tidak hanya itu, nama keempat sutradara film ini berhasil tercatat sebagai pelopor kebangkitan perfilman Indonesia pasca runtuhnya orde baru.

Setelah 20 tahun kemudian , Kuldesak diputar kembali di sejumlah bioskop dibeberapa kota di Indonesia pada 30 Desember 2018 yang sebelumnya pernah diputar pada 27 November 1998. Respon masyarakat sangat baik atas pemutaran ulang film ini, berdasarkan dari tiket yang habis terjual di bioskop Plaza Senayan. Jika kalian ingin melihat betapa meriahnya film Kuldesak ini, Kinosaurus membuka kesempatan di microcinemanya di Jl. Kemang Raya 8B, Jakarta Selatan dari 22 Februari 2019 hingga 8 Maret 2019 nanti. Ditunggu kehadirannya!

Jurnalis: Sandy Kajiansyah K.

Editor: Yolia Kristanto